Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Kehangatan Ruang Bangunan Abad 19

Kehangatan Ruang Bangunan Abad 19

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rumah tidak sekadar tempat berteduh. Rumah yang terkesan hangat membuat penghuni menjadi betah di dalamnya.

Warna-warna alami mampu menghasilkan ruangan terkesan hangat dan dirindukan sebagai tempat beristirahat. Konsep seperti iti akan membuat betah penghuni.

Hal tersebutlah yang dilakukan Vine Architecture Studio, sebuah studio arsitektur yang berbasis di Ehitechapel, London. Mereka mendesain rumah lawas yang berdiri pada abad 19.

“Penemuan kembali ruang yang ada sering menimbulkan tantangan, tapi memiliki banyak manfaat seperti mereduksi bahan bangunan menjadi bahan bangunan dan menghidupkan kembali jiwa yang hilang dari suatu banguanan,” jelas studio seperti dilansir dari portal dezeen.

Arsitek sedikit tertantang untuk mengubah bangunan menjadi hunian. Pasalnya sebelumnya, bangunan merupakan tempat untuk menyimpan kereta kuda dan peralatan kuda lainnya. Baru pada 1990, ada konversi bangunan menjadi perumahan walaupun banyak bangunan yang tidak tersentuh dan dibiarkan kosong.

Arsitek menyebut interiornya Love Walk untuk rumah yang terletak di Camberwell, London Selatan, yaitu tidak dicintai namun berkarakter. Para arsitek mengaku membutuhkan kecermatan untuk memberikan identitas pada bangunan yang didirikan pada abad 19.

“Pelapisan arsitektural semacam ini membutuhkan indentifikasi yang cermat atas jasa yang ada untuk menghasilkan penjumlahan yang sukses dari yang lama (bangunan lama) dan yang baru (bangunan),” ujarnya.

Mereka sengaja mempertahankan sejumlah fitur asli lantaran keunikannya, seperti pintu berwarna biru tua di bagian luar bangunan.

Beberapa bangunan lainnya setengah dipertahankan dalam bentuk aslinya, seperti lantai dasar yang diubah menjadi ruang terbuka. Beberapa pembaharuan dilakukan untuk memperkuat karakter bangunan. Dinding gymsum merupakan salah satunya. Dinding telah dicuci dengan gymsum, mineral sulfat yang biasa digunakan untuk membuat kapur atau papan tulis.

Alhasil, dinding meninggalkan rona merah muda kehitaman. Lalu, lantai kayu ek pola herringbone juga telah dipasang.

Sedangkan yang masih dipertahankan meja makan jati dari abad pertengahan yang berada di salah satu sisi kamar. Perabot tersebut memudahkan penghuni untuk menikmati makan malam. Sementara kamar lainnya memiliki sofa vintage.

Warna-warna lain untuk melengkapi ruangan muncul dari pilihan bantal dan permadani lokal. Penggunaan warna pada perabot tersebut tidak lain merupakan hasil jalan-jalan studio di pasar tenun di Tangier, Maroko. Mereka ingin meniru tekstil yang berada di pasar tersebut.

Sedangkan, rasa pemisahan diwujudkan melalui tangga baru yang dirancang untuk tampil sebagai dua bagian.

Di sini, studio telah memperluas denah lantai menjadi sudut yang tidak terpakai dari halaman yang ada. Ruang tersebut membentuk ruang taman yang dipenuhi cahaya yang dikelilingi oleh panelpanel besar.

Sementara, ubin terakota dipasang dari luar ke arah dalam. Di bagian atas, palet warnanya lebih hangat, salah satunya terlihat dari bilik shower di kamar mandi yang dibalut ubin encaustic berwarna peachy.

Kehangatan interior ditambah dengan kepala pancuran dan keran di atas wastafel terbuat dari tembaga. “Warna telanjang (ubin) dan hasil akhir matt mengikat kembali ke permukaan yang terbuka dan bertekstur alami di tempat lain di interior,” ujar mereka.

Alhasil, rumah yang semula menjadi tempat penyimpan kereta kuda menjadi hunian yang nyaman untuk empat orang anggota keluarga. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment