Koran Jakarta | June 24 2019
No Comments

Kegemilangan Sukses Seorang Junita yang Tunarungu

Kegemilangan Sukses Seorang Junita yang Tunarungu
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : The Journey of Grace

Penulis : Junita Setiawati Herlambang

Tebal : xxiv+320 halaman

Penerbit : CV Sarana Gracia

Cetakan : Februari 2018

ISBN : 978-602-61916-1-8

Mungkinkah orang-orang yang terlahir cacat memiliki kesempatan sama dengan mereka yang normal untuk menggapai kesuksesan? Buku ini menceritakan pengalaman hidup penulis yang terlahir tunarungu, namun berhasil menjalankan bisnis kecantikan yang diakui khalayak.

Perjuangan penuh tantangan dilalui Junita dengan dukungan penuh kedua orang tua. Setelah beberapa usaha pengobatan menemui jalan buntu, Ayah-Ibunya memutuskan untuk menyediakan pendidikan terbaik. Keputusan besar itu dimulai sejak Junita berumur lima tahun. Kedua orang tua membulatkan hati menyekolahkan Junita di SLB/B Dena Upakara, Wonosobo, Jateng.

Itu artinya, Junita kecil harus berpisah dari Ayah-Ibu yang berdomisili di Semarang karena harus tinggal di asrama. SLB/B Dena Upakara inilah tempat pertama kalinya Junita belajar berbicara. Junita kemudian menghabiskan SD, SMP, dan SMA di sebuah sekolah umum Semarang.

Meskipun tergolong siswi pandai, bukan berarti Junita tidak pernah mengalami kesulitan. Ada saat dia ingin bunuh diri karena tidak mampu mengatasi kekurangannya sebagai seorang penyandang tunarungu. Untunglah, ada Ibu yang selalu menguatkan dan mengingatkan untuk bersyukur dan menerima diri apa adanya.

Dia berpesan, “Kamu harus bertahan dan sabar ketika menerima sesuatu yang tidak enak didengar dari orang lain. Mari belajar untuk bangkit. Jangan menghindar. Teruslah berpikir positif bahwa perkataan mereka itulah yang membuatmu maju, tidak goyah. Buktikan bahwa kamu orang dengan keterbatasan yang bisa menembus batas menjadi orang sukses,” (hal 8).

Sikap kedua orang tua yang tidak larut dalam kesedihan, melainkan bangkit menerima keadaan dan mencari jalan keluar menjadi teladan hidup nyata Junita. Ia terbentuk menjadi pribadi tegar dan pantang menyerah. Berbekal karakter inilah, setapak demi setapak Junita melangkah dalam iman.

Sang Ibu mengenal putrinya dengan baik. Dia dapat menemukan bakat Junita secara jeli. Setelah mengantongi ijazah Universitas Surabaya jurusan Farmasi, Ibu mendorong Junita untuk mengikuti pendidikan diploma bidang kecantikan dan spa di Pacific International Beauty Institute (PIBI) Surabaya.

Walaupun awalnya enggan, dia mematuhi saran Ibunya. Sang Ibu percaya kemampuan anaknya. Semangat positif Ibunya membangkitkan rasa percaya diri Junita. Ternyata memang benar. Dari sinilah satu per satu pintu menuju kesuksesan terbuka bagi Junita.

Sekitar tiga bulan setelah Ibu berpulang karena kanker payudara, Junita membuka usaha salon spa bernama “Lotus” pada bulan November 2014. Ini usaha yang juga salah satu cita-cita mendiang Ibunya. Jatuh bangun dalam merintis usaha dapat dilalui dengan baik karena Junita berpegang teguh pada penyertaan Tuhan yang ajaib. Dia akan menjadi penolong dalam kesesakan (hal 58).

Kisah ini menunjukkan betapa besar peran orang tua dalam mendidik anak “istimewa”. Mereka harus mengajarkan kemandirian sedini mungkin. Buku ini juga mengingatkan kepada kita untuk bersyukur dalam segala keadaan, pantang menyerah, dan mempercayakan diri pada Tuhan. Menurut Junita, “Kesuksesan seseorang tidak selalu diukur dari pencapaian materi maupun kedudukan, tapi seberapa tahan orang tersebut melewati berbagai proses untuk dimurnikan. Sukses juga berarti menerima hal-hal yang tidak bisa diubah, sekaligus memilih untuk bermanfaat dalam segala keterbatasan Anda,” (hal x).

Peraih penghargaan Top 9 Google Business Stories, Woman Hero 2.0, “Pengabdian Masyarakat” oleh BEM Universitas Airlangga dan Kementerian Pemberdayaan Wanita ini masih aktif mengajar keterampilan kecantikan untuk orang normal dan penyandang cacat tunarungu. Dia melayani tanpa mau dibayar di SLB/B Widya Bhakti, Rumah Pintar Efata, Komunitas Sahabat Difabel, dan Komunitas tunarungu Adeco. Junita juga rutin mengadakan acara “Suara Hati untuk Orang Tua dan Anak-anak Tunarungu” dengan narasumber para psikolog. 

Diresensi Irma Handayani Pawiro, S1 Pendidikan Bahasa Inggris

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment