Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Kecelakaan Kapal

Kecelakaan Kapal
A   A   A   Pengaturan Font

Pada bulan Juni ini, peristiwa demi peristiwa kecelakaan pelayaran terjadi di Tanah Air. Mulai KMP Mutiara Per­sada II yang berlayar dari Pelabuhan Merak, Banten, menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, kandas di perairan Pulau Rimau, Jumat (7/6); tenggelamnya KM Nusa Kenari 02 di Perairan Tanjung Margeta, Kecamatan Alor Ba­rat Daya, Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/6/) pagi; dan yang terakhir adalah tenggelamnya Kapal Motor Arin Jaya, asal Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, di perairan Giliyang, Senin (17/6), yang menewaskan 17 orang.

Tiga kejadian itu perlu mendapat perhatian serius bagi para stakeholders dalam dunia pelayaran. Apalagi yang di­alami oleh Kapal Motor Arin Jaya. Kapal yang tenggelam di perairan Giliyang itu dikabarkan karena tingginya gelombang sehingga membuat kapal terbalik. Tinggi ombak saat itu di­perkirakan mencapai 2 meter, bahkan lebih.

Sedangkan KM Nusa Kenari 02 yang tenggelam di Per­airan Tanjung Margeta, Kecamatan Alor Barat Daya, Alor, terjadi kelebihan muatan. Selain itu, kapal naas itu ternyata dikemudikan oleh ABK, Piterson Plaituka. Nakhoda kapal yang bernama Toni Terianus Plaituka tidak ikut berlayar. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah KM Nusa Kenari 02 itu ti­dak memiliki izin berlayar. Para ABK tersebut tidak melapor­kan kegiatan berlayarnya ke Kantor Syahbandar atau Adpel Kalabahi.

Saat kapal dalam perjalanan di perairan Kampung Lingal, mesin pompa air kapal KM Nusa Kenari 02 mengalami keru­sakan. Selanjutnya, ABK dan nakhoda, kemudian memper­baiki mesin tersebut sehingga sempat menyala. Tidak lama kemudian, mesin pompa air tersebut mati lagi dan menye­babkan air masuk ke dalam kapal.

Nakhoda lalu mengambil inisiatif untuk mengemudikan ke dekat daratan Tanjung Margeta, yang jaraknya sekitar 200 meter dari daratan. Pada saat perahu menepi ke dekat da­ratan, bodi perahu bagian kanan dihantam gelombang, se­hingga perahu miring dan mengakibatkan bagian dek atas perahu terlepas.

Penumpang terpaksa melompat dan berenang tanpa menggunakan pelampung se­hingga dua orang akhirnya tewas dan lima orang lainnya hilang sampai saat ini. Jumlah pelam­pung yang disediakan hanya 10 pelampung. Padahal penum­pangnya lebih dari 50 orang.

Di sinilah pentingnya tugas dan tanggung jawab seorang syahbandar dalam mengawasi kegiatan angkutan laut. Syah­bandar bertanggung jawab se­bagai penegak hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran. Syahbandar harus memastikan sebuah kapal layak untuk berlayar untuk memini­malisir kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal. Syahban­dar harus disiplin dan berdedikasi. Jabatan yang diembannya bukan hanya sebagai jabatan administratif saja.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah informasi atau peringatan cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Setiap hari dan setiap minggu BMKG merilis info peringatan dini gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan di Indonesia. Misalnya, pada 17 Juni 2019, BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang mencapai 4 meter, berlaku mulai Selasa (18/6) hingga Jumat (21/6).

Peringatan BMKG itu harus menjadi perhatian syahban­dar dan operator pelayaran. Operator pelayaran harus mem­perhatikan maklumat kecepatan angin dan tinggi gelombang yang dikeluarkan oleh BMKG. Nakhoda harus meningkat ke­waspadaanya dan tidak memaksakan diri melaut jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Aspek keselamatan pelayaran harus menjadi pertimbang­an utama. Awak kapal wajib memastikan peralatan kesela­matan pelayaran berfungsi dengan baik dalam jumlah yang memadai serta muatan penumpang dan barang tidak me­lebihi kapasitas kapal. Penguatan manajemen keselamatan dan keamanan pelayaran merupakan keniscayaan.

Terjadinya kecelakaan kapal seperti tenggelam dan terba­kar adalah peristiwa yang selalu berulang dan terjadi di In­donesia, sehingga memerlukan identifikasi dan pengukuran terhadap potensi dan tingkat risiko yang mungkin dihadapi oleh setiap aktivitas transportasi laut, baik itu dalam konteks pelayaran jarak pendek antar pulau maupun jarak panjang antar negara. Permasalahan yang dihadapi selama ini ada­lah belum sepenuhnya diterapkan manajemen keselamatan yang baik di sektor transportasi laut.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment