Kebijakan Pengelolaan Guru Masih Dirumuskan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano, tentang Strategi Guru

Kebijakan Pengelolaan Guru Masih Dirumuskan

Kebijakan Pengelolaan Guru Masih Dirumuskan

Foto : ANTARA/INDRIANI
A   A   A   Pengaturan Font
Dalam pidato peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengatakan akan membuat reformasi pendidikan. Beberapa hal yang dibahas antara lain memerdekakan guru dan proses pembelajaran di kelas.

 

Selain itu, muncul pula wacana Guru Penggerak sebagai kepanjangan tangan Kemendik­bud di tingkat sekolah. Mun­culnya gagasan tersebut berdasarkan banyaknya regulasi bahkan administra­si pembelajaran yang dinilai mengham­bat proses guru mengajar.

Dampaknya, guru tidak memiliki waktu untuk memperhatikan perkem­bangan anak dan melakukan inovasi-inovasi pembelajaran karena waktu guru sebagian besar digunakan untuk menyelesaikan hal-hal administratif yang justru tidak berdampak dalam pembelajaran.

Untuk mengupas hal tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano. Berikut petikannya.

Persiapan apa yang dilakukan setelah pidato Mendikbud HGN?

Dari pidato HGN sudah jelas arah dari keinginan Mendikbud. Tinggal sekarang kita membuat rumusannya. Itu yang sedang dikerjakan.

Apa poin-poin yang sedang dirumuskan?

Untuk mencapai keinginan Men­dikbud, kita sedang kaji kebijakan-kebijakan yang ada. Kita lihat yang mana peraturan-peraturan termasuk administrasi pembelajaran seperti RPP dan Silabus yang memberatkan guru. Tentu butuh proses karena peraturan tidak hanya di Kemendikbud saja. Ada juga di Kemenpan RB dan BKN. Masih kita sisir dan dipelajari. Nanti yang memberatkan kita perbaiki.

Terkait guru penggerak, tapi selama ini ada juga guru inti, perbe­daannya seperti apa?

Bisa saja guru inti ini menjadi guru penggerak. Pada praktiknya, guru inti juga penggerak karena dia sudah melatih 20 guru di zonanya. Memang kalau guru inti ini kan hanya fokus pada proses pembelajaran, tapi kalau penggerak ini kan lebih luas lagi.

Berarti berbeda?

Saya belum bisa menjawab. Tapi artinya, embrionya sudah ada yaitu Guru Inti. Teknisnya nanti masih dibicarakan.

Tidak akan tumpang tindih?

Tentu tidak. Nanti kita sinergikan saja. Siapa pun bisa jadi Guru Peng­gerak, yang penting dia punya keinginan, motivasi, dan bisa melakukan perubahan.

Pelatihan guru ke depan bagaimana?

Kalau pelatihan yang sekarang ini kita memang fokus ke padagogik karena ini yang jadi masalah. Ini yang kita tingkatkan terus. Tentu untuk tahun 2020 kita akan melihat apa yang harus kita perbaiki lagi agar sesuai dengan keinginan Mendikbud.

Formatnya masih zonasi?

Ya, nanti kita lihat. Kita belum berbi­cara sampai ke teknis. Akan ada sinergi juga dengan Guru Penggerak sehingga di sekolah ada satu sampai tiga orang Guru Penggerak. Tapi kita lagi cari formulanya dan apa yang harus kita lakukan.

Terkait guru honorer bagaimana?

Kan masalah guru honorer ini sedang kita benahi dan mulai tahun 2018 sudah ada penerimaan CPNS juga. Tahun 2019 ini sudah ada penerimaan guru honorer yang menjadi Pegawai Pemerintah pada Perjanjian Kerja. Kita sedang mendiskusikan dan memperbaiki terus masalah kesejahteraan guru. Ini kan tentunya berkaitan dengan kekuatan anggaran kita juga. m maruf/ AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment