Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Gerakan Berkebaya

Kebaya Kekayaan Budaya yang Harus Dilestarikan

Kebaya Kekayaan Budaya yang Harus Dilestarikan

Foto : ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
LESTARIKAN BUDAYA NUSANTARA - Tokoh Perempuan Yenny Wahid (kedua kiri) bersama Akademisi Tata Busana Suciati (kedua kanan), Direktur Evaluasi, Akuntansi dan Setelmen Kemenkeu, Endah Martiningrum (kanan) dan Moderator Ayu Dyah Pasha dalam diskusi Rumpi Kebaya di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10). Diskusi yang mengangkat tema “Melestarikan Budaya Nusantara Lewat Kebaya” tersebut merupakan rangkaian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2019.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Gerakan perempuan berkebaya dinilai bukan semata soal gaya berpakaian atau fashion, namun juga ikhtiar merawat sekaligus menyebarkan nilai budaya bahwa kebaya adalah salah satu kekayaan budaya di Indonesia yang harus dilestarikan.
“Identitas kebangsaan dengan berkebaya adalah bahasa yang sangat sederhana menunjukkan saya cinta Indonesia, Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Inilah kebaya, budaya kita yang tidak boleh luntur karena zaman, “ kata Ketua Perempuan Perhimpunan Bravo Lima, Kartini Syahrir, dalam acara Ajang Rumpi Kebaya yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10).


Acara tersebut menghadirkan ratusan perempuan lintas generasi dan organisasi itu, berupaya mengajak generasi milenial mengenali pakaian tradisional Indonesia.
Kartini mengapresiasi acara Pekan Budaya Indonesia yang secara khusus menggelar agenda Rumpi Kebaya. “Acara yang positif membangun kecintaan pada kebaya sebagai salah satu entitas Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,” kata dia.
Agenda Rumpi Kebaya yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut salah satunya untuk berdiskusi dan berdialog santai dengan Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, tentang khasanah Indonesia dan gerakan perempuan Indonesia berkebaya.


Sementara itu, Yanny Irmella menyoroti perlunya upaya mencintai kebaya sebagai budaya bangsa. “Pergerakan perempuan kebaya ini sebisa mungkin melibatkan generasi milenial, bisa saja melakukan kegiatan di sekolah dengan menggelar fashion show berkebaya misalnya,” katanya.
Yanny yang aktif melakukan pergerakan perempuan berkebaya di setiap momen “Selasa Berkebaya” bersama komunitasnya berharap komunitas pencinta kebaya semakin banyak.
“Sebagai sebuah gerakan bukan untuk sekadar tampil, ini yang harus kita lakukan. Bagaimana membangun semangat nasionalisme melalui budaya,” kata Yanny.


Founder Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia, Rahmi Hidayati, mengatakan gerakan “Indonesia Berkebaya” berupaya mengembalikan semangat kebudayaan Indonesia dan mencintai Indonesia dengan berkebaya.
Ada empat tujuan utama gerakan “Indonesia Berkebaya”. Pertama, memperkenalkan kembali kebaya sebagai bagian dari sejarah dan budaya Indonesia kepada generasi muda Indonesia. Kedua, meningkatkan kreativitas dalam mendesain kebaya tanpa meninggalkan pakem budaya yang merupakan warisan leluhur, menjadi pemersatu bangsa, dan fungsi ekonomi yang bisa memajukan ekonomi kerakyatan.
Ketiga, memperjuangkan kebaya ke Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) agar bisa seperti batik, yakni menjadi warisan budaya Indonesia. Keempat, diharapkan pemerintah akan menetapkan salah satu tanggal sebagai Hari Kebaya Nasional.


eko/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment