Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
SAINSTEK

Katalog Bahasa Isyarat sebagai Sarung Tangan Penerjemah

Katalog Bahasa Isyarat sebagai Sarung Tangan Penerjemah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Alat serupa yang diciptakan untuk penyandang disabilitas termasuk penyandang tuna­wicara ini sudah banyak diciptakan. Hadirnya teknologi terbaru, mem­permudah cara terapi bagi mereka.

Termasuk yang telah diciptakan mahasiswa asal Politeknik Batam ini. Sebelumnya tiga tahun lalu, tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) pun mengembang­kan sebuah alat bantu yang sama diperuntukkan bagi penyandang tunawicara.

Dengan mengembangkan alat penerjemah bahasa isyarat, alat yang dikembangkan tim UGM ini bukan seperti botol kecil melainkan berbentuk sarung tangan yang me­mang berfungsi sebagai penerjemah dari bahasa isyarat.

“Alatnya berupa sarung tangan, jadi fungsinya itu menerjemahkan bahasa isyarat langsung menjadi bahasa verbal. Dan hal ini tentu saja sangat membantu orang seki­tar untuk berkomunikasi dengan penyandang tuna wicara,” kata Nindi Kusuma Ningrum, Ketua Tim Pe­ngembang Alat Terapi UGM.

Bersama dengan kedua rekan­nya Faturahman Yudanto dan Lely Monalisa mengembangkan sarung tangan ini dan diberi nama SIGNLY, yang memiliki arti dari Sign Lan­guage Tranlator Synhronously.

Nindi menjelaskan, sarung ta­ngan ini sudah di lengkapi dengan katalog bahasa isyarat masukan yang diambil dari American Sign Language, bahasa isyarat Indonesia serta beberapa kombinasi lima jari tangan.

Dalam teknologi yang diterap­kan didalamnya, Nindi menjelaskan perangkat sarung tangan ini terdiri dari beberapa komponen seperti sarung tangan, smart phone dan komputer sebagai alat pemandu atau penerjemah.

Alat berbentuk sarung tangan bisa menerjemahkan bahasa isyarat langsung menjadi bahasa verbal. (FOTO/ISTIMEWA)

“Jadi didalam sarung tangan ini dipasangi alat berupa flek sensor yang berguna mendeteksi gerakan dan posisi jari,” tuturnya. Dari ge­rakan tersebut akan mengeluarkan output berupa bahasa verbal tulis atau rangkaian huruf dan yang lebih membuat takjub, output tersebut bisa dikonversikan dalam bentuk suara. “Jadi orang yang tidak tahu bahasa isyarat dapat mengerti apa yang dikomunikasikan,” tambahnya. Di sisi lain lawan bicara penyandang tunarungu dapat menjawab dengan bahasa sehari hari.

Apapun yang diucapkan secara otomatis dapat dikonversikan dalam bentuk verbal tulis dan dapat dibaca dengan mudah di layar desktop ataupun handphone. Baik alat terapi bicara maupun SIGNLY kedua­nya memang memiliki tujuan yang sama, yakni mempermudah para tunarungu dan tunawicara dalam berkomunikasi.

Meskipun komunikasi bahasa isyarat sulit dipahami awam. Namun dengan inovasi dari kedua alat ini tentu saja dapat membantu komu­nikasi antara bahasa isyarat dengan bahasa verbal.

“Mudah mudahan kedua pro­totipe masih sangat dimungkinkan dikembangkan lebih canggih. Kita berharap pengembangan kedepan dapat menambah fungsi berkelan­jutan,” ungkap Wibi. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment