Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments

Kata di Akhir Tahun: “Wawuh”

Kata di Akhir Tahun: “Wawuh”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Ada kata yang ingin saya ingat­kan, dari bahasa Jawa. Bunyinya wawuh. Kata ini juga ada dalam bahasa Sunda, dengan arti kenal. Kawanahan berarti kenalan. Dalam bahasa Jawa, kenalan disebut­kan wanuh, bukan wawuh. Wawuh dalam kaitan ini berarti: kenalan lagi, baikan lagi. Satu kondisi tadinya saling bermusuhan, saling membenci.

Diakhiri dengan wawuh, yang dalam permainan anak-anak ditandai dengan mengaitkan kelingking dari tangan masing-masing. Dengan wawuh, permusuhan diakhiri dan pergaulan dimulai dari nol. Tanpa dendam, tanpa perhitungan apa yang telah terjadi.

Sebagai kosa kata, wawuh, menurut interprestasi saya, memiliki makna positif, yaitu berbaikan kembali, damai lagi. Perbendaharaan ini menarik, kalau dikaitan dengan keadaan sebelum wawuh, yaitu permusuhan, saling membenci, saling mencurigai.

Dalam bentuk phisik mereka yang musuhan ini—pada contoh anak-anak, tak mau saling bertegur sapa, tak mau menyebutkan nama, dan kalau anggota badan bersentuhan, tanpa sengaja, ditiup-tiup. Karena tak mau bersentuhan sama sekali. Dalam kiasan bahasa Jawa yang lain, bahkan ketika lawan berupa daun, tetap tak mau menyobek, kalaupun lawan ber­wujud air tetap tak mau menyentuh. Dadia godhong emoh nyuwek, dadia banyu emoh nyawuk.

Catatan kata di akhir tahun ini saya memilih menghidupkan lagi kata wawuh, memperluas pengertian­nya dan menempatkan pada posisi : berdamai kembali. Permusuhan apa pun sebelumnya, kini telah terhapus, dan mulai babak baru tanpa beban permusuhan.

Pada waktu kecil, sering terjadi polarisasi permusuhan model “cebong” lawan “kampret”. Masing-masing pihak menaruh curiga dan akhirnya tumbuh kebencian pada pihak lainnya. Ciri-ciri kebencian adalah merendahkan lawan—yang sesungguhnya kawan, dalam kasta terendah.

Contoh di atas adalah menyebutkan pihak lain sedera­jat dengan binatang, bahkan anaknya. Cebong atau kecebong, nama anak ko­dok sedang kampret adalah kelelawar kecil. Kalau sudah sedemikian besar ke­bencian, tak ada yang bagus atau positif bagi yang lain. Kampret yang tidur dengan kepala di bawah menjadi simbol merendahkan sampai tingkat di bawah nadir.

Semua ini, rasanya dimulai dengan kebencian. Kebencian yang terus dipelihara, terus hidup sebagai bagian pengalaman bersama, satu kelompok. Atau dalam strata yang lebih besar, dalam satu negara. Misalnya saja, kebencian antara bangsa Palestina-Israel.

Misal yang juga menakutkan dalam negeri adalah keterpihakan satu pihak dan berhadapan langsung dengan pihak lawan. Dalam skala tingkat kampung kita melihat permusuhan an­tarkampung yang dipisahkan rel kereta, belangsung dari turunan sebelumnya. Memori bersama tentang permusuhan tetap hidup, tidak dijenak, tidak dijeda dengan wawuh. Sesuatu yang sederha­na dan mudah dilakukan, sebagaimana mengucap kata “baikan yuk”.

Permusuhan berlanjut yang dalam pengertian politik dalam bentuk sederhana: mencopot baliho, merusak, atau menambahi coretan dengan taring dan atau tambahan kata-kata makian. Atau mengusir, atau mem-bully, atau membuang dari kesadaran bersama—dimakamkan di tempat lain.

Wawuh atau baikan, mengisyarat­kan penyelesaian pertikaian—walau sementara, untuk tidak berkembang biak menjadi kebencian, menjadi dendam “tujuh turunan”. Yang rasanya tak bisa ditanggung satu atau dua generasi.

Wawuh bisa dihidupkan lagi dalam pengertian model meme “baikan yuk”, atau “nol-nol”, atau bahasa apa pun yang masyarakat memakainya memahami, sebagaimana dulu ada tagline: rukun agawe sentosa, rukun adalah kekuatan.

Di tengah kebencian yang disemai setiap saat karena masalah politik yang memang memecah belah, wawuh perlu dikenalkan, diprak­tikkan bersama-sama. Demi keuntungan bersama.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment