Karantina Natuna | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Karantina Natuna

Karantina Natuna

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Musibah kadang tidak bisa diduga, baik musibah alam berupa banjir bandang, gempa dan tsunami, maupun musibah tersebarnya virus penyakit yang kini menghantui dunia, virus Korona yang awalnya bersumber dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Sebagai kota besar dengan fasilitas yang modern dan tempat sejumlah industri serta jasa di Tiongkok yang cukup maju, Wuhan menarik banyak pendatang. Begitu juga dengan pelajar dan mahasiswa yang menuntut ilmu di sana, cukup banyak. Sejumlah pekerja dan mahsiswa itu berasal dari Indonesia, karena para mahasiswa mendapat beasiswa belajar di sana.

Ketika Kota Wuhan ditutup untuk menghindari meluarnya wabah virus Korona, maka ratusan orang Indonesia baik pekerja maupun mahasiswa harus tunduk dengan peraturan Tiongkok dan tidak boleh melakukan aktivitas yang bebas. Dapat dikatakan, mereka ditempatkan di tempattempat penampungan yang baik dan terjaga. Hanya saja semua aktivitas yang selama ini dilakukan total berhenti.

Bukan hanya Warga Negara Indonesia (WNI) saja, tetapi semua warga dunia di Kota Wuhan juga demikian. Menjelang akhir bulan Januari, sejumlah negara mulai memulangkan warga negaranya dari Wuhan, tapi ketika tiba di negaranya, mereka pun harus ditempatkan di daerah tertentu untuk memudahkan pemeriksaan kesehatan, sesuai dengan peraturan atau protokol organisasi kesehatan dunia, World Health Organizati atau WHO.

Menghadapi persoalan ini, Pemerintah Indonesia juga terus memantau dan akhirnya memutuskan untukmemulangkan WNI yang jumlahnya hampir mencapai 300 orang. Keputusan pemerintah sangat tepat, selain untuk menghindari dampak pengaruh penyebaran virus, juga secara psikologis memulihkan trauma mereka dan keluarganya. Namun, pemerintah juga tetap menerapkan aturan yang ketat ketika WNI yang dipulangkan dari Wuhan tiba di Tanah Air.

Sebanyak 254 WNI yang dipulangkan, telah tiba di Batam pada Minggu (2/2) dan tak lama kemudian diterbangkan ke Natuna. Nah, di Natuna inilah mereka akan menjalani apa yang disebut karantina selama dua pekan, tujuannya untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan yang berbahaya. Meskipun Menkes terawan Agus Putranto dan Menlu Retno Marsudi sudah menegaskan bahwa mereka yang pulang dari Wuhan dalam kondisi sehat. Penegasan ini penting karena untuk menghindari persepsi sebagian masyarakat, khususnya warga Natuna yang masih khawatir dengan kedatangan mereka.

Mengapa Natuna dipilih sebagai tempat transit untuk karantina WNI dari Wuhan? Jawabannya diungkapkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Dijelaskan Panglima, Pangkalan Militer Natuna memiliki fasilitas rumah sakit yang dikelola oleh tiga angkatan bersenjata. Dengan demikian, menurut dia, terdapat para dokter yang berasa dari angkatan darat, udara, dan laut. Pangkalan ini juga memiliki mess atau asrama yang mampu menampung hingga 300 orang dengan fasilitas dapur lapangan dan tempat untuk mandi cuci kakus atau MCK yang memadai. Adapula landasan pacu pesawat tak jauh dari lokasi tersebut.

Selain itu, Panglima TNI menjelaskan, lokasi karantina cukup jauh yakni sekitar 6 km dari pemukiman penduduk. Selain itu terdapat dermaga dalam jarak 5 km dari lokasi. Sehingga dari hasil penilaian itu memenuhi syarat dari protokol kesehatan WHO.

Karena itulah jika dalam proses pemulangan WNI dan penempatan di Natuna timbul protes dan unjuk rasa dari masyarakat Natuna, hendaknya dipahami bersama bahwa musibah seperti ini tidak kita inginkan bersama. Dan yang sangat penting, kita, khususnya masyarakat Natuan juga harus memahami langkah yang diambil pemerintah, karena semua ini untuk kepentingan bersama.

Aspirasi masyarakat Natuna yang khawatir atas adanya karantina WNI dari Wuhan tetap mendapat perhatian pemerintah, namun hendaknya aspirasi itu juga tidak berlebihan dalam arti terusmenyuarakan penolakan. Pemerintah pasti sudah memikirkan langkah yang terbaik untuk semua warga negara Indonesia.

Dalam konteks ini, para tokoh dan pemimpin di Natuna juga perlu lebih banyak memberi pemahaman yang positif kepada warga masyarakat bahwa mereka yang datang ke Natuna adalah warga kita yang sehat dan mereka harus menjalani aturan atau protokol kesehatan WHO yang ketat dalam situasi darurat virus Korona.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment