Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments
Limfoma Hodgkin

Kanker yang Menyerang Kelenjar Getah Bening

Kanker yang Menyerang Kelenjar Getah Bening

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kanker adalah suatu penyakit ganas yang berasal dari satu sel dalam tubuh yang tumbuhnya terus menerus dan tidak terkendali. Umumnya jika seseorang terkena kanker sel tak terkendali itu sudah mencapai satu milliar sel. Jenis kanker pun saat ini beragam.

Menurut data pasien yang ada di rumah sakit kanker Dharmais, kanker payudara berada di urutan pertama yang paling banyak diderita, selanjutnya ada kanker serviks, kanker paru, kanker nasofaring, dan kanker limfoma hodgkin.

Kanker Limfoma Hodgkin merupakan kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening yang bagian dari sistem kekebalan tubuh manusia. Secara global, lebih dari 62 ribu orang terdiagnosa Limfoma Hodgkin, di mana sekitar 25 ribu di antaranya meninggal setiap tahun akibat penyakit ini.

Di Indonesia, angka kasus baru Limfoma Hodgkin pada 2012 mencapai 1.168 orang dengan jumlah kematian sebesar 687 orang. Angka kematian yang tinggi tersebut di Indonesia terkait erat dengan keterlambatan pendeteksian, sehingga mengakibatkan sebagian kasus kanker sudah berada pada stadium lanjut, yaitu stadium tiga dan empat.

"Sayangnya, karena tidak umum, banyak masyarakat yang tidak mengenali faktor risiko dan gejalanya," ujar Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN).

Ia menambahkan gejala-gejala jika seseorang menderita Limfoma Hodgkin adalah yang paling umum yaitu munculnya benjolan yang terdapat di leher, ketiak, atau pangkal paha. "Namun belum tentu juga orang yang memiliki benjolan di leher terkena kanker, bisa juga TBC," ungkapnya.

Penderita penyakit ini biasanya akan mengalami demam naik turun, berkeringat pada malam hari, tubuh lemas, gatal-gatal, dan berat badan turun drastis. "Orang yang berat badannya turun drastis, misalnya sepuluh kilogram dalam berapa minggu, penyebab penyakitnya ada tiga, kalau tidak diabetes, gondok, atau kanker Limfoma Hodgkin, tapi kedua penyakit itu tidak disertai demam, jadi kemungkinannya kanker," ujar Arry.

Untuk diagnosis penyakit biasanya dilakukan dengan cara biopsi, yaitu pengambilan sebagian kelenjar getah bening untuk didentifikasi lebih lanjut mengenai stadiumnya dan pengobatannya.

Pada penderita Limfoma Hodgkin akan ditemukan keberadaan sel Reed-Sternberg dan antigen yang bernama CD30. Pengobatan untuk penyakit ini ditentukan berdasarkan stadium kanker dan kesehatan pasien untuk menghancurkan sebanyak mungkin sel kanker dan menyembuhkan penyakit.

Jika pasien masih berada di stadium satu atau dua, pasien hanya bisa melakukan radiasi karena kanker Limfoma Hodgkin belum terlalu menjalar ke organ-organ lainnya. Sementara untuk stadium tiga dan empat, pasien wajib melakukan kemoterapi. Sebenarnya bisa juga melakukan transplantasi tetapi sayangnya untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang yang memproduksi sel-sel dalam tubuh masih belum banyak dilakukan.(gma/R-1)

Dua Jenis Pengobatan

Pengobatan untuk penderita kanker Limfoma Hodgkin yang terkenal adalah radioterapi dan kemoterapi. Radioterapi umumnya dilakukan pada pasien dengan kanker stadium awal, sementara kemoterapi dilakukan untuk pasien dengan kanker stadium lanjut.

Radioterapi merupakan pengobatan memanfaatkan sinar sebagai energi intensif untuk membunuh sel kanker. Terapi ini menggunakan kekuatan X-ray namun dapat juga memanfaatkan kekuatan energi lain yang akan bekerja dengan cara merusak DNA dari sel kanker yang kemudian menghentikan pertumbuhannya.

Radioterapi memiliki efek samping namun berbeda-beda, tergantung pada kondisi tubuh masing-masing pasien. Yang paling sering muncul adalah mual, kulit menghitam pada bagian tubuh yang terkena radiasi, rambut rontok, kelelahan, gangguan menstruasi bagi wanita, dan gangguan pada jumlah dan kualitas sperma untuk pria. Tidak hanya itu saja, pasien yang menjalani radioterapi juga akan mengalami penurunan nafsu makan dan memiliki masalah pada sistem pencernaannya.

Sementara kemoterapi adalah pemberian obat yang disuntikkan ke pembuluh darah dan mengalir ke seluruh tubuh untuk membunuh sel kanker. Namun pengobatan kemoterapi ini tidak hanya membunuh sel kankernya saja, pertumbuhan sel normal lainnya juga ikut hancur.

Efek samping dari kemoterapi ini muncul karena obat yang masuk ke tubuh tidak dapat membedakan sel kanker dan sel normal seperti sel darah, sel kulit, menjadi ikut mengalami dampak dari kemoterapi. Rambut rontok, nyeri, kehilangan nafsu makan, mual, sesak nafas, kulit kering, sering terkena infeksi, pendarahan, dan sulit tidur merupakan efek samping yang didapatkan pasien yang menjalani kemoterapi, tetapi efek samping tersebut akan menghilang setelah pengobatan selesai. (gma/R-1)

Terapi Bertarget

PT Takeda Indonesia mengumumkan inovasi terapi terbaru untuk para pasien kanker Limfoma Hodgkin, yaitu terapi Antibody Drug Conjugate atau terapi bertarget. Obat dari terapi ini diikat dengan antibodi sehingga obat tersebut hanya akan memerangi sel kanker saja yang berada di dalam tubuh.

“Karena antibodi hanya membunuh kuman saja yang menjadi targetnya,” kata Dr. dr. Dody Ranuhardy, SpPD-KHOM, MPH, Sekjen PERHOMPEDIN.

Ia menambahkan berbeda dengan kemoterapi yang memerangi sel kanker namun sel normalnya ikut hancur, pada terapi bertarget ini hanya sel kankernya yang kena. “Kalau obat terapi masuk ke sel-sel tertentu saja jadi hanya kena si sel kanker tetapi tidak kena ke sel-sel normal,” terangnya.

Dody menjabarkan hal ini dilandaskan dari penelitian yang dilakukan selama sepuluh tahun pada pasien kanker Limfoma Hodgkin. Dari sebuah penelitian tersebut ditemukan antigen CD30 pada sel kanker pasien yang kemudian menjadi tanda sebagai target dari antibodi terapi bertarget ini.

“Saat ini obatnya memang baru satu-satunya di Indonesia, kalau di luar negeri sudah ada sejak dua atau tiga tahun lalu,” tambahnya.

Meskipun masih sangat baru, pasien menunjukkan respon yang sangat baik dari terapi bertarget ini.

“Kalau dahulu dengan menghancurkan sel kankernya, tetapi sekarang melumpuhkan sel kankernya sehingga sel kanker tersebut mati sendiri,” katanya.

Terapi bertarget ini juga cocok digunakan untuk pasien kanker Limfoma Hodgkin yang relaps atau kambuh lagi.

“80 persen pasien bisa sembuh, namun 20 persennya bisa kambuh lagi,” ujarnya.

Penyebab relaps pun beragam, bisa dikarenakan usianya yang di atas 60 tahun sehingga daya tahan tubuhnya kurang, sering mengalami infeksi berulang-ulang, dan tingkat sel kanker yang tumbuh cepat sehingga semakin resistan. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment