Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments
Suksesi Inggris I Empat Calon Perdana Menteri Bersedia Memimpin Inggris Keluar Brexit

Kandidat PM Berdebat Brexit

Kandidat PM Berdebat Brexit

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Wacana aktual dan sangat menentukan peluang keterpilihan kandidat PM yakni soal Brexit sengit diperdebatkan.

LONDON - Beberapa calon perdana menteri Inggris ber­selisih atas strategi Brexit pa­da debat pertama mereka pada hari Minggu (17/6), sebaliknya, kandidat Boris Johnson, malah menghindari konfrontasi.

Debat selama 90 menit da­lam program Channel 4 me­nampilkan lima kandidat yang tersisa dan podium kosong un­tuk Johnson, mantan sekretaris dan walikota London yang ren­tan akan kesalahan besar.

Dalam debat yang kadang-kadang tidak baik, empat dari lima kandidat mengatakan me­reka akan berusaha untuk me­negosiasikan kembali rancang­an kesepakatan perpisahan Br­exit yang disepakati dengan Brussels meskipun para pe­mimpin Uni Eropa telah ber­ulang kali mengesampingkan hal ini.

Sekretaris Pembangunan In­ternasional, Rory Stewart, me­ngatakan dia akan terus maju dengan perjanjian saat ini mes­kipun telah ditolak oleh parle­men tiga kali tahun ini dalam proses yang telah memaksa Perdana Menteri saat ini, The­resa May.

Stewart adalah kandidat de­ngan jumlah dukungan teren­dah dari sesama anggota par­lemen Konservatif tetapi te­lah melakukan kampanye yang kuat di media sosial, menjang­kau pemilih tengah dari ber­bagai partai.

Dia berulang kali menan­tang yang lain untuk merinci rencana Brexit mereka sendiri dan menuduh mereka “machis­mo”, sehingga mendapat tepuk tangan meriah dari penonton studio atas komentarnya.

Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt, yang mendukung tinggal di Uni Eropa selama kampanye referendum 2016 tetapi seka­rang mendukung Brexit, juga memberikan nada berdamai.

Keempat kandidat menga­takan mereka bersedia untuk memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) tanpa kesepa­katan pada 31 Oktober hing­ga batas waktu saat ini yang ditetapkan oleh UE. Kemudian Johnson juga mengatakan Br­exit harus terjadi pada tanggal itu “kesepakatan atau tidak ada kesepakatan”.

Namun Stewart mengata­kan, yang tidak setuju akan Brexit “sangat merusak” dan mengancam mencelakakan di­ri sendiri dalam upaya mengek­straksi konsesi dari Brussels adalah “omong kosong”.

Mantan Sekretaris urus­an Brexit, Dominic Raab, yang mengundurkan diri dari pe­merintah sebagai protes atas kompromi pemerintah dengan Brussels, melangkah lebih jauh daripada yang lain dan tidak mengesampingkan penang­guhan parlemen jika diperlu­kan untuk menghentikan ang­gota parlemen dari pemblokir­an Brexit tanpa kesepakatan. “Aku satu-satunya kandidat yang berkomitmen untuk per­gi pada akhir Oktober, apapun yang terjadi,” kata Raab.

Suara Berbeda

Kandidat lain, Sekretaris Lingkungan Michael Gove, menjawab dengan mengata­kan, “Saya tidak akan mem­bawa Inggris keluar dari Uni Eropa melawan kehendak parlemen.”

Menteri Dalam Negeri Sajid Javid bergabung dengan me­ngatakan, “Anda tidak meme­nuhi demokrasi dengan meng­hancurkan demokrasi.”

Javid, putra seorang penjaga toko yang berimigrasi ke Ing­gris dari Pakistan, berulang ka­li membuat referensi tentang pengasuhannya yang sederha­na dengan mengatakan bahwa dia bukan casting dari Partai Konservatif dan dapat menjadi seorang pembawa pesan yang dapat menarik seluruh negeri.

Anggota parlemen konser­vatif akan mengadakan pu­taran pemilihan berturut-turut dari hari Selasa untuk mengu­rangi calon menjadi dua, ke­mudian 160.000 anggota partai grassroots akan memilih calon dalam pos pemungutan suara. Kandidat yang akan menjadi perdana menteri Inggris beri­kutnya akan diumumkan pada 22 Juli.

Sementara Johnson me­muncaki putaran pertama minggu lalu dengan 114 sua­ra, di atas Hunt di 43 dan Gove di 37. Raab mendapat 27, ke­mudian Javid mendapat 23 dan Stewart di 19. AFP/anggi/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment