Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments
“Spanduk Provokatif Berpotensi Menimbulkan Kebencian dan Perpecahan”

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, tentang Spanduk Bernada Provokatif

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, tentang Spanduk Bernada Provokatif

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Setelah putaran pertama Pilkada DKI Jakarta, sejumlah lokasi tampak dipasangi spanduk bernada provokatif, mengajak warga untuk tidak mensalatkan jenazah pendukung penista agama. Spanduk itu terpampang di mulut gang-gang kecil atau pernah dijumpai dipasang di rumah ibadah. Spanduk bernada provokatif tersebut sempat viral di dunia maya.

 

Saat Koran Jakarta melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, spanduk yang mengajak umat untuk tidak mensalatkan jenazah juga tampak di salah satu gang. Spanduk terlihat mencolok karena berwarna dasar hijau dengan tulisan kuning.


Terkait dengan spanduk bernada provokatif tersebut, langkah apa yang akan diambil Polri, untuk mengantisipasi perpecahan di masyarakat?Apakah terhadap pemasang spanduk tersebut dapat dikenakan jerat hukum? Koran Jakarta mewawancarai Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, di Jakarta, Selasa (14/3).


Apa yang akan dilakukan Polri terhadap spanduk bertuliskan ajakan untuk tidak mensalatkan jenazah pendukung penista agama?


Kepolisian dalam hal ini bersama dengan pemerintah daerah perlu menertibkan. Karena dapat ditafsirkan itu hasutan penyebar rasa kebencian dan dapat menimbulkan perpecahan.

Hal itu (adanya spanduk itu) juga tidak sejalan dengan upaya mendukung sosialisasi semangat persatuan kesatuan dan semangat toleransi. Dengan adanya spanduk itu menimbulkan penilaian yang bisa berpotensi menimbulkan konflik.


Untuk mencegah konflik, apa yang dilakukan Polri?


Kami mengimbau pada pihak-pihak yang memproduksi dan menempelkan spanduk tersebut, untuk tidak meneruskan pemasangan spanduk tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat saat ini, hendaknya tidak menyebarluaskan info yang dapat menyesatkan masyarakat. Karena sebagai umat beragama terlepas dari agama apa pun, bahwa di dalam negara yang berdasarkan Pancasila, hendaknya menumbuhkan semangat persatuan.

Bahwa sudah kewajiban kita sebagai umat manusia, apakah terhadap saudara kita (yang terkena musibah) agar dilakukan pengurusan dan kewajiban kita untuk mendoakan rekan kita. Saya pikir ini masalah kemanusiaan, untuk selalu mendoakan.


Apa lagi saran Anda bagi masyarakat?


Kami menyarankan kepada masyarakat bahwa terlepas dari agama kita, sudah kewajiban untuk senantiasa mendoakan, termasuk kita, yang punya sahabat dan kawan. Tidak ada salahnya saling mendoakan dan untuk mengurus adanya kawan kita rekan kita yang mengalami kedukaan. Itu semangat gotong-royong, harus kita pelihara di tengah kemajemukan.


Spanduk-spanduk yang telah dicopot itu mengarah pada kebencian dan perpecahan?


Terhadap spanduk yang mengarah pada kebencian, kita mesti menetralisir. Hal-hal seperti ini dapat memicu (perpecahan) dan kepolisian akan melihat pelanggaran hukumnya di mana. Kita akan lakukan kajian.


Jadi akan dilakukan penyelidikan terhadap spanduk tersebut?


Ada penyelidikan lebih lanjut, diselidiki, diantisipasi, dan dikerjasamakan dengan pemerintah daerah. Kita back-up. Karena ini potensi penyebarluasan yang tidak sehat di dalam iklim semangat gotong-royong.


Ini sudah masuk ranah pidana?


Semuanya sedang diselidiki dulu.Tanpa adanya laporan sudah kita selidiki. Memang belum ada laporan, tapi kan dicermati. Mana hal-hal yang berpotesi konflik, semuanya dicermati.


Tapi, apa yang lebih diutamakan Polri?


Kita mengedepankan pencegahan dan persuasif dan berpikir cerdas. Kita mengedepankan dialog, untuk mencegah penyimpangan dan melakukan conditioning. Membuka komunikasi, petugas kita yang intens berkomunikasi.

Babinkantibmas Polri banyak meng-over, melakukan conditioning di level RT RW. Di mana di bawah Baharkam Polri melakukan pemeliharaan keamanan agar menjauhkan konflik, bagian dari upaya di tengah perbedaan konflik. eko nugroho/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment