Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments
Peradilan di Myanmar I Dua Reporter Dituntut Ketika Hendak Ungkap Kekerasan di Rakhine

Jurnalis Dihukum 7 Tahun Penjara

Jurnalis Dihukum 7 Tahun Penjara

Foto : AFP/Ye Aung THU
Putusan Penjara l Reporter Reuters bernama Wa Lone (tengah) dikawal polisi usai mendengarkan putusan hukuman di Pengadilan Distrik Utara Yangon, Myanmar, Senin (3/9). Wa Lone dan rekannya yang bernama Kyaw Soe Oo dinyatakan bersalah atas pelanggaran UU Rahasia Negara dan karenanya masing-masing dihukum 7 tahun penjara.
A   A   A   Pengaturan Font

Pengadilan Myanmar pada Senin (3/9) menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara bagi dua jurnalis Reuters. Pengadilan menyatakan mereka melanggar UU Rahasia Negara saat hendak mengungkap kekejaman terhadap warga Rohingya di Rakhine.

 

YANGON – Dua reporter Reuters asal Myanmar yang dituntut atas pelanggaran hukum pembocoran rahasia negara saat membuat laporan aksi pembantaian warga Rohingya, pada Senin (3/9) diputus hukuman penjara selama 7 tahun oleh hakim di Pengadilan Distrik Utara Yangon.

“Wa Lone, 32 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, yang ditahan di penjara Insein, Yangon, sejak Desember lalu, dikenai tuntutan pelanggaran Undang-Undang Kerahasiaan Negara,” demikian pernyataan pengadilan di Yangon.

Putusan ini kembali membuat kemarahan secara internasional terhadap Myanmar setelah sepekan lalu negara ini dikecam setelah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pihak militer Myanmar dituding telah melakukan aksi genosida dan kejahatan atas kemanusiaan terhadap warga Rohingya.

Putusan pengadilan ini dianggap sebagai upaya untuk mengacaukan laporan PBB atas aksi militer terhadap warga minoritas Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Saat terjadi aksi militer yang terjadi pada 25 Agustus 2017 lalu, sekitar 700 ribu warga Rohingya melakukan eksodus ke Bangladesh. Mereka kabur ke negara tetangga dan melaporkan kesaksian mereka atas sejumlah aksi kekerasan seperti pemerkosaan, pembantaian dan pembakaran rumah-rumah oleh polisi dan militer Myanmar.

Atas putusan pengadilan itu, dua jurnalis Reuters itu membantah telah melakukan pelanggaran UU Rahasia Negara dan menyatakan bahwa mereka jadi korban jebakan ketika hendak mengungkap aksi main hakim sendiri atas 10 warga Rohingya di Desa Inn Din pada September tahun lalu.

Hakim Ye Lwin yang mengadili kasus ini sama sekali tak terpengaruh atas pengakuan mereka dan menyatakan bahwa tindakan mereka membahayakan kepentingan negara dan oleh karenanya mereka dinyatakan bersalah atas pelanggaran atas UU Rahasia Negara. “Mereka masing-masing dihukum penjara selama 7 tahun,” kata Hakim Ye Lwin.

Kecaman Internasional

Pengacara dua reporter Reuters itu yang bernama Khin Maung Zaw mengatakan akan segera mengajukan banding atas putusan pengadilan itu. “Hari ini merupakan hari yang kelam bagi Myanmar dan media dimana pun,” kata Khin.

Reaksi juga datang dari komunitas internasional. PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa (UE), dan dua negara UE yaitu Inggris dan Prancis, mengecam atas putusan itu dan menyerukan pada Myanmar agar kedua reporter itu dibebaskan.

“Saya amat terkejut. Pengadilan itu merupakan parodi keadilan,” kata Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet.

Kecaman pun datang dari pemerintah Inggris yang menyatakan putusan pengadilan itu merupakan pelecehan atas kebebasan media. “Kami amat kecewa atas putusan pengadilan itu,” kata juru bicara Perdana Menteri Theresa May.

Seruan atas pembebasan datang dari kelompok Reporters Without Borders, yang menyatakan putusan pengadilan atas rekan-rekan mereka tak adil. 

 

AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment