Koran Jakarta | March 27 2019
No Comments
Penyalahgunaan Media

Jurnalis Abal-abal Hanya Ada di Indonesia

Jurnalis Abal-abal Hanya Ada di Indonesia

Foto : ANTARA / Dede Rizky Permana
meresahkan masyarakat - Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal (kedua dari kiri) bersama Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (kanan) dalam diskusi publik di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (11/2). Diskusi mengusung tema Memberantas Jurnalis Abal-abal yang meresahkan masyarakat.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Fenomena jurnalis abal-abal hanya ada di Indonesia. Negara lain, seperti Thailand, Singapura, Myanmar bahkan Timor Leste, tidak ada fenomena jurnalis abal-abal. Jurnalis abal-abal adalah kelompok orang yang menggunakan identitas jurnalis, tapi sebenarnya bukan jurnalis, dalam beraksi.

“Kami cek di Timor Leste, Thailand, Singapura, bahkan Myanmar, tidak ada jurnalis abal-abal. Ini terjadi kemungkinan karena ada simbiosis mutualisme. Ada yang berusaha menyembunyikan kesalahan dan ada yang mencari keuntungan dari orang salah,” kata Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, dalam diskusi bertema Memberantas Jurnalis Abal-abal, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (11/2).

Menurut Yosep, jurnalis abal-abal tumbuh subur ketika tahu bahwa ada kementerian yang punya anggaran untuk beriklan dan berusaha mendapatkan porsi iklan. Adanya anggaran iklan itu yang menyuburkan. Orang yang tahu, keluar dari medianya, lalu membuat media baru. Karena sudah kenal dengan pihak kementeriannya, lalu mudah mendapatkan jatah iklan.

Tidak Standar

Jurnalis abal-abal bercirikan tidak berbadan hukum, tidak punya perusahaan, dan kalau berbentuk online, pasti dalam bentuk wordpress. Menurut Yosep, bentuknya blog, bahasanya tidak standar.

“Lebih banyak menggunakan kata diduga. Ada satu koran, yang isinya dari halaman pertama sampai akhir, judulnya, pejabat ini diduga korupsi, pejabat itu diduga korupsi. Satu kabupaten dianggap penjahat semua,” tukas Yosep.

Tidak hanya itu, tambah Yosep, media abal-abal banyak menggunakan istilah yang biasa dipakai aparat negara. Bahkan, ada yang menggunakan nama KPK untuk menakut-nakuti publik. Koran bernama KPK itu ada mulai dari Aceh sampai Papua. “Logonya mirip dengan KPK, merah dan hitam dengan kata-kata pemberantasan korupsi. Yang jadi korban, sekolah-sekolah karena dituduh menyelewengkan dana BOS,” ujar Yosep.

Menurut Yosep, kalau sudah digertak oleh wartawan abal-abal seperti ini, guru baru pasti gemetaran, tapi guru lama, biasanya ambil uang dan kasih ke wartawan abal-abal tersebut. Kalau di tempat hiburan, wartawan abal-abal ini pakai nama BNN meski dia bukan petugas BNN, tapi nama medianya, Berita Narkoba Nasional. Beda lagi kalau ketemu pengusaha, mereka memakai nama BIN atau Berita Investigasi Nasional.

Sementara itu, Kadiv Humas Polri, Irjen Pol M Iqbal, mengatakan menjamurnya media abal-abal hingga mencapai 43 ribu karena adanya tsunami keterbukaan publik.

eko/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment