Jokowi Ingin Fokus pada Peningkatan Perekonomian | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 15 2020
No Comments
Antisipasi Krisis - Apindo Usulkan Strategi Penciptaan Lapangan Kerja

Jokowi Ingin Fokus pada Peningkatan Perekonomian

Jokowi Ingin Fokus pada Peningkatan Perekonomian

Foto : ANTARA/WAHYU PUTRO A
MASUKAN TINGKATKAN EKSPOR - Presiden Joko Widodo didampingi Seskab Pramono Anung (kelima dari kanan) dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki (ketiga dari kanan) menerima pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (13/6). Presiden meminta masukan dari pengusaha anggota Apindo terkait pemerintahan ke depan, salah satunya tentang upaya peningkatan nilai ekspor.
A   A   A   Pengaturan Font
Indonesia memiliki kekuatan sumber daya alam dan mempunyai modal besar sumber daya manusia untuk menjadi negara maju.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengata­kan bahwa peningkatan perekonomian Indo­nesia akan terus menjadi fokusnya untuk lima tahun ke depan. Sebab itu, Presiden mengaku banyak mengundang para pengusaha agar bisa memberikan masukan-masukan yang akan di­kerjakan terkait peningkatan perekonomian Indonesia.

“Kemarin, saya telah dapat­kan masukan-masukan yang banyak dari Hipmi maupun Kadin, dan hari ini saya ingin juga mendapatkan masuk­an dari Apindo. Tetapi, saya ingin masukan ini yang lebih konkret, nyata, dan cepat bisa dilaksanakan sehingga bisa memberikan sebuah efek eko­nomi yang baik untuk negara kita,” kata Presiden saat mene­rima pengurus Asosiasi Peng­usaha Indonesia (Apindo) dan Himpunan Penyewa Pusat Per­belanjaan Indonesia (Hippin­do) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (13/6). Hadir mendam­pingi Presiden, Seskab Pramo­no Anung, Koordinator Staf Khusus Teten Mas­duki, dan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana.

“Saya ngomong apa adanya, karena saya su­dah enggak ada beban apa-apa. Jadi, kenapa pada pertemuan sehabis Lebaran ini yang kami undang adalah swasta terlebih dahulu, dunia usaha terlebih dahulu, karena memang kita ingin lima tahun ke depan ini menjadi sebuah prioritas,” ucap Presiden.

Karena itu, Presiden kembali berpesan agar dunia usaha dalam negeri terus memacu ke­giatan perekonomiannya. “Jangan sampai nilai investasi dan ekspor kita kalah dari Singapura. Sudah lama kalah dengan Malaysia, Thailand, Filipina, terakhir kita kalah lagi dengan Viet­nam. Jangan sampai,” tegas Presiden.

Apalagi, lanjut Presiden, sampai kalah de­ngan Kamboja dan Laos. “Kita ini negara be­sar yang memiliki kekuatan sumber daya alam, sumber daya manusia yang saya kira jadi mo­dal besar ke depan,” jelas Presiden.

Diperlukan Kerja Sama

Meski begitu, Presiden menggarisbawahi, ke depan juga harus ada kerja sama yang baik an­tara pemerintah dan dunia usaha agar pereko­nomian Indonesia semakin meningkat dan kuat.

“Kita sudah bertahun-tahun tidak bisa selesaikan yang namanya defisit neraca per­dagangan, defisit transaksi berjalan yang se­betulnya ini sesuatu yang kalau kita bisa be­kerja sama dengan baik, pemerintah dan dunia usaha, bukan barang yang sulit sebetulnya,” ungkap Presiden.

Dalam kesempatan itu, Presiden menam­bahkan bahwa untuk ke depannya pemerin­tah ingin mengeluarkan terobosan-terobosan perekonomian yang akan me­macu perekonomian nasional lebih jauh lagi.

Untuk itu, Presiden ber­harap agar para pelaku usaha yang hadir dapat memberikan pandangan kritis bagi peme­rintah untuk mengeluarkan kebijakan ekonomi yang dapat segera dirasakan manfaatnya. “Dari sisi regulasi, mungkin bisa revisi undang-undang. Mungkin, kalau diperlukan, mengeluarkan Perppu mi­salnya. Kalau itu memang di­perlukan sekali dan posisinya sangat penting ya akan kita keluarkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Hariyadi B Su­kamdani, mengatakan pihaknya sudah mem­berikan masukan kepada Presiden Jokowi, sa­lah satunya mengenai penguatan sumber daya manusia (SDM) yang harus dilakukan. “Tadi saya sampaikan bahwa sejalan dengan rencana Presiden akan memberikan perhatian kepada pengembangan SDM,” kata Hariyadi usai ber­temu Presiden.

Menurut dia, terkait pengembangan SDM se­benarnya bukan hanya masalah di vokasi, tetapi yang paling penting adalah penciptaan lapangan kerjanya.

“Di sini yang kami bahas tadi, bahwa kita se­lama ini terlepas kepada prioritas. Prioritas kita itu sebenarnya lebih kepada kualitas investasi yang masuk dalam arti kata secara absolut ni­lai atau penyediaan lapangan kerjanya. Kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa da­lam kurun waktu 10 tahun terakhir adalah yang masuk adalah industri padat modal,” ucap dia.

Sementara itu, industri padat karya sangat berkurang banyak. Padahal, rakyat Indonesia ini jumlahnya 265 juta orang dan angkatan ker­janya lebih dari 130 juta.

“Ini yang kami sampaikan, perlu kiranya pe­merintah melihat kembali UU Ketenagakerjaan kita, karena UU ini selain sudah 15 kali diaju­kan ke MK (Mahkamah Konstitusi), juga kenya­taannya tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, kondisi saat ini,” tuturnya. fdl/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment