Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Jelang Pilpres - Jokowi Dianggap sebagai Sosok Pemimpin Kebenaran dan Kebaikan

Jokowi Didukung Kalangan Terdidik dengan Logika Benar

Jokowi Didukung Kalangan Terdidik dengan Logika Benar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

>> Dukungan dari kalangan terdidik sangat penting untuk melegitimasi pasangan calon nomor urut 01.

>> Para pendukung percaya dengan komitmen Jokowi untuk membuat Indonesia sebagai negara kuat.

JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai meluasnya deklarasi dari kalangan sekolah terkemuka kepada pasangan calon presi­den dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, menunjukkan du­kungan dari kalangan berpendidikan dengan logika yang benar untuk pemimpin yang te­pat. Kenyataan ini juga merupakan salah satu bukti bahwa petahana memiliki rekam jejak yang bagus dalam masa pemerintahannya.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komaruddin, menga­takan dukungan para alumni sekolah terke­muka kepada Jokowi tak bisa dianggap re­meh. Sebab, mereka adalah kalangan yang terdidik dengan pola pikir rasional serta warga yang melek informasi.

“Mereka merupakan kumpulan kaum terpelajar dari sekolah-sekolah terbaik. Rasional dalam berpikir dan menentukan pilihan serta melek informasi. Dan biasa­nya, mereka menjadi tokoh di lingkungan masing-masing. Ada yang menjadi ketua karang taruna, KNPI, ketua RT/RW, pekerja profesional, dan lain-lain. Mereka bisa jadi pemben­tuk opini yang efektif dan berpengaruh,” katanya, di Jakarta, Senin (11/2).

Tak hanya itu, lanjut Ujang, dukungan dari ka­langan terdidik sangat pen­ting untuk melegitimasi pa­sangan calon nomor urut 01. Dan biasanya, kaum tidak terdididik atau ma­syarakat biasa akan meng­ikuti saran, nasihat, atau pendapat dari kaum terdi­dik. Ini yang bisa dikapital­isasi oleh Jokowi, sehingga dukungan dari kalangan terdidik jadi modal politik dalam menentukan keme­nangan nanti. “Jadi, kaum terdidik bisa mempengaruhi pemilih yang tidak terdidik untuk mengajak memilih pa­sangan calon nomor urut 01,” ujarnya.

Seperti diketahui, selain mendapatkan dukungan dari kalangan alumni perguruan tinggi terbaik di Indonesia, capres Jokowi juga memperoleh dukungan lebih dari 12 ribu alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) terkemuka di Jakarta, di antaranya SMA Santa Ursula, SMAN 1, SMAN 8, SMAN 26, SMAN 24, SMA Tarakanita, serta masih banyak lagi.

Para alumni tersebut mendukung Jokowi karena dianggap sebagai sosok pemimpin kebenaran dan kebaikan. Kalaupun ada yang kurang, bisa dibenahi di periode kedua kepemimpinan Jokowi.

Mereka juga menilai Jokowi berhati nasionalis yang meyakini hanya de­ngan persatuan dan keda­maian, Indonesia bisa maju. Artinya, tidak ada persatuan tanpa ada toleransi dan per­saudaraan.

Selain itu, para pendu­kung juga percaya dengan komitmen Jokowi untuk membuat Indonesia sebagai negara kuat. Jokowi bahkan membangun infrastruktur di tempat terpencil untuk ke­adilan ekonomi bagi masya­rakat yang selama ini diabai­kan dan dimiskinkan.

Dukungan Luas

Dihubungi terpisah, Wakil Direktur Pu­sat Kajian Politik (Puskapol) Universitas In­donesia (UI), Hurriyah, mengatakan seka­rang ini Jokowi mendapat dukungan lebih luas lagi dibandingkan periode sebelum­nya, terutama dari kalangan relawan yang bersifat kelompok, termasuk dukungan dari berbagai alumni institusi pendidikan.

“Jika sebelumnya didukung kalangan bot­tom up, dari akar rumput, sementara pada ta­hun 2019 merambah ke kelas menengah yang membentuk kelompok partisan,” katanya.

Hurriyah mengatakan hal tersebut cu­kup baik karena dilihat dari partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap politik me­ningkat, sehingga dapat mengurangi angka golput. “Ini bagus, karena partisipasi politik masyarakat menjadi meningkat,” katanya.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, mengata­kan banyaknya kemunculan deklarasi dari alumni institusi pendidikan merupakan salah satu bukti bahwa petahana memiliki rekam jejak yang bagus dalam masa pemerintahan­nya. Menurutnya, dukungan tersebut me­rupakan fenomena baru arus politik Indone­sia dengan kemunculan kelas menengah yang mengambil posisi politik yang tegas.

“Selama ini, kelas menengah memilih diam dan tidak menyampaikan pilihannya secara terbuka. Mengapa mereka akhir­nya bangkit mengambil posisi, karena me­reka muak dengan cara berpolitik menebar hoaks, membangun kecemasan, dan mena­kut-nakuti publik. Mereka muak dengan cara berpolitik seperti itu,” ujarnya.

Sebagai kelompok terpelajar, kelompok terdidik tidak bisa dengan model kampanye tersebut. Para alumni itu sangat gerah jika bangsa ini akan dibawa kepada kepunahan dan pesimistik, sehingga mereka harus meng­ekspresikan sikap politiknya dengan mem­berikan dukungan kepada petahana yang te­lah banyak menorehkan prestasi.

“Mereka tak bisa membiarkan Jokowi be­kerja sendiri untuk kemajuan bangsa ini. Un­tuk itu, mereka sadar bahwa Jokowi tidak bo­leh sendirian dalam menghadapi semburan hoaks, kebohongan dan pesimisme. Mereka bangkit dengan memberikan dukungan ter­sebut,” ucapnya. tri/ags/fdl/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment