Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Pidato Pelantikan Presiden I Tak Ada Ampun, Menteri Tak Serius Pasti Dicopot

Jokowi Butuh Menteri Hebat agar Indonesia Jadi Negara Maju

Jokowi Butuh Menteri Hebat agar Indonesia Jadi Negara Maju

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
USAI DILANTIK I Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin (keempat dari kanan) berfoto bersama pimpinan MPR usai pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Minggu (20/10).
A   A   A   Pengaturan Font

>> Bonus demografi jadi masalah besar jika tidak mampu sediakan kesempatan kerja.

>> Inovasi bukan hanya di bidang pengetahuan, tetapi seharusnya juga menjadi budaya.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pada satu abad Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 2045, Indonesia telah keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan menjadi negara maju dengan penda­patan per kapita 320 juta rupiah per tahun atau 27 juta rupiah per kapita per bulan.

Presiden Jokowi dalam pidato pada sidang paripurna MPR RI da­lam rangka pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih perio­de 2019–2024, di Jakarta, Minggu (20/10) itu, juga memaparkan lima program prioritas pembangunan da­lam lima tahun ke depan.

Program itu adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM), me­lanjutkan pembangunan infrastruk­tur, memangkas kendala regulasi, penyederhanaan birokrasi besar-be­saran, dan transformasi ekonomi.

Untuk mewujudkan cita-cita besar dan menjalankan program prioritas itu, sejumlah kalangan menyatakan Jokowi membutuhkan menteri dan anggota kabinet yang hebat dan ter­baik di bidangnya atau best of the best.

Direktur Eksekutif Charta Poli­tika, Yunarto Wijaya, menilai pidato Jokowi lebih banyak menunjukkan apa yang akan dilakukannya saat me­mimpin Indonesia nanti. “Dia bicara langsung apa yang jadi skala priori­tas. Apa yang akan dikerjakannya to the poin disebutkan. Misalnya soal middle income trap, pengembangan SDM, dan reformasi birokrasi. Ini Jokowi banget,” kata dia, Minggu.

Menurut Yunarto, pidato itu menunjukan Jokowi sebagai seorang developmentalisme. “Inward look­ing, dia ingin kerja lebih keras lagi. Misalnya, soal pemangkasan eselo­nisasi. Ini tanpa beban dia katakan. Kita berharap ketika kabinet sudah terbentuk akan terlihat realistis eng­gak kalau nama menteri sudah di­umumkan. Misal kalau kabinet lebih kuat politik akomodasinya diban­ding eksekusinya, boleh jadi ini akan antiklimaks,” tukas dia.

Sementara itu, ekonom UMY, Ach­mad Maruf, menambahkan untuk mewujudkan mimpi besar pada 2045, Jokowi harus memilih anggota kabinet dari figur terbaik di bidangnya, dan sa­ngat memahami tantangan Indonesia serta punya visi jitu mencari solusinya.

“Ini tidak bisa hanya orang de­ngan kompetensi dan integritas yang biasa-biasa saja, harus best of the best. Sebab, cita-cita besar tahun 2045 itu sudah harus mulai diek­sekusi pada lima tahun ke depan. Target Pak Jokowi adalah target kita bersama,” papar dia.

Sementara itu, dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di­targetkan mencapai tujuh triliun ru­piah dan masuk lima besar ekonomi dunia, dengan tingkat kemiskinan mendekati nol persen pada 2045 itu.

Menurut Jokowi, potensi Indone­sia untuk keluar dari middle income trap sangat besar. Saat ini, Indonesia sedang berada di puncak bonus de­mografi. Jumlah penduduk usia pro­duktif jauh lebih banyak dibanding­kan usia tidak produktif.

“Ini adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan ke­sempatan kerja,” tukas dia.

Sebaliknya, lanjut dia, ini akan menjadi kesempatan besar jika kita mampu membangun SDM yang unggul, dengan didukung oleh eko­sistem politik dan ekonomi yang kondusif. Oleh karena itu, lima ta­hun ke depan, pemerintahan Presi­den Jokowi akan mengerjakan lima program prioritas. (Lihat infografis)

“Saya juga minta kepada para menteri, para pejabat dan birokrat, agar serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan. Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot,” tegas Presiden.

Budaya Inovasi

Kepala Negara juga mengingat­kan dalam dunia yang penuh risiko, sangat dinamis, dan yang kompetitif, pemerintah harus terus mengem­bangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru. Jangan sampai terjebak dalam rutinitas yang monoton. “Harusnya inovasi bukan hanya pengetahuan. Inovasi adalah budaya,” tutur Jokowi.

Sekali lagi, lanjut dia, mendobrak rutinitas adalah satu hal. Mening­katkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas. “Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil yang nyata,” jelas Presiden.

Sementara itu, Ketua MPR, Bam­bang Soesatyo, mengemukakan Si­dang Paripurna MPR dengan agenda tunggal, yaitu pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019– 2024 dihadiri 689 dari 711 anggota MPR. Sisanya sebanyak 22 orang tak menghadiri momen bersejarah itu.

“Berdasarkan laporan Setjen MPR, sampai saat ini (sebanyak) 689 dari 711 anggota yang telah menandatangani daftar hadir. Dengan demikian, rapat ini telah memenuhi syarat untuk dibu­ka,” kata Bambang. fdl/YK/ags/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment