Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
Strategi Perdagangan - Potensi Ekonomi Pasar Nontradisional Sangat Besar

Jokowi: Tingkatkan Diplomasi Ekonomi guna Pacu Ekspor

Jokowi: Tingkatkan Diplomasi Ekonomi guna Pacu Ekspor

Foto : ANTARA/WAHYU PUTRO A
PERBAHARUI DIPLOMASI - Presiden Joko WIdodo didampingi Menko Polhukam Wiranto, dean Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, berfoto bersama usai pembukaan rapat kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Gedung Pancasila, Kemenlu, Jakarta, Senin (12/2). Presiden mengajak 134 kepala perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memperbarui diplomasi dengan menyesuaikan tantangan zaman, berpihak kepada perlindungan WNI, membela kedaulatan negara, perdamaian, dan kesejahteraan.
A   A   A   Pengaturan Font
RI tak bisa lagi andalkan pasar ekspor tradisional di tengah maraknya proteksionisme. Regulasi masih jadi penghambat pengurusan investasi manufaktur di dalam negeri.

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para duta besar Indonesia agar lebih intensif melakukan diplomasi ekonomi, terutama untuk meningkatkan nilai ekspor dan investasi Indonesia ke berbagai negara pasar nontradisional. Presiden mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara hanya bergantung pada dua hal, yaitu investasi dan ekspor.

“Jadi bapak/ ibu dubes harus berhadapan pada dua hal ini untuk menjalankan diplomasi ekonomi kita di luar negeri,” ujar Jokowi, dalam pembukaan rapat kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (12/2).

Kepala Negara mengungkapkan nilai ekspor masih kalah jauh dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina, padahal Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk 20 ekonomi terbesar dunia atau G20. “Negara sebesar Indonesia nilai ekspornya kalah dengan Malaysia, Thailand, Filipina. Bahkan, dengan Vietnam hampir separuhnya nilai ekspor kita.

Kita itu monoton, gak pernah lakukan terobosan,” tegas Jokowi. Menurut Presiden, semua itu terjadi karena Indonesia kurang aktif melakukan terobosan diplomasi ekonomi untuk mempromosikan produk dan investor dalam negeri. Dia menambahkan, Indonesia sudah tak bisa lagi hanya mengandalkan pasar tradisional di tengah maraknya kebijakan proteksionisme dan ketidakpastian yang muncul di berbagai belahan dunia.

“Kita masih perlu garap pasar nontradisional, jangan lagi bergantung hanya pada pasar-pasar lama. Kemarin, saya kunjungi beberapa negara Asia Selatan. Saya kaget melihat masih banyak negara yang kita pandang sebelah mata, padahal potensi ekonominya bagi kita besar sekali,” tutur Jokowi.

Presiden mencontohkan Bangladesh, Pakistan, dan kawasan Afrika sebagai negaranegara yang memiliki catatan pertumbuhan ekonomi cukup baik dan potensi pasar besar, tapi nilai perdagangannya dengan Indonesia masih terbilang kecil. “Bangladesh itu penduduk 160 juta lebih dan pertumbuhan ekonominya sampai 7,2 persen.

Pakistan juga penduduknya hampir 210 juta. Belum lagi negara di Afrika. Ini potensi pasar yang besar buat kita, tapi enggak pernah digarap secara serius,” kata Jokowi.

 

Harus Terintegrasi

 

Ekonom UGM, Wihana Kirana Jaya, mengatakan persoalan kekalahan nilai ekspor Indonesia dari negara tetangga, seperti Malaysia dan Vietnam, tidak bisa diselesaikan secara sepotong-potong, tetapi harus terintegrasi dari hulu ke hilir sehingga diperlukan dream team urusan ekspor dengan target jelas. “Urusan ekspor ini kompleks sekali.

Dari regulasi hingga culture, makanya memang perlu dream team yang fokus urus itu yang bisa secara terintegrasi membuka hambatan ekspor,” jelas dia. Wihana mencontohkan dari sisi regulasi, Indonesia kalah dari Vietnam bahkan sejak insentif bagi impor barang modal untuk industri berorientasi ekspor. Indonesia masih berbelit, antara industri dan bea cukai tidak nyambung.

Regulasi juga menjadi penghambat dalam pengurusan penanaman modal untuk investasi manufaktur di dalam negeri. Terkait peran duta besar sebagai intelijen pasar untuk pasar nontradisional, menurut dia, juga tidak bisa diharapkan banyak kalau pengangkatannya bernuansa berat di politik ketimbang profesional.

Namun, jika hulunya kuat yakni ada produk unggulan yang berdaya saing, dubes bisa dituntut lebih banyak lagi. “Artinya memang harus integrated benar. Kapasitas organisasi birokratik untuk mendorong ekspor harus sinergis dan berorientasi produk unggulan dulu. Genjot sampai maksimal dari hulu hingga hilir,” kata Wihana.

Pengamat ekonomi Universitas Surabaya, Wibisono Hardjopranoto, mengatakan Indonesia akan sulit mengejar ketertinggalan ekspor karena pertumbuhan masih mengandalkan konsumsi, bukan dari ekspor. “Memang belum waktunya karena hilirisasi kita macet. Untuk hilirisasi perlu teknologi,” ujar dia.

Wibosono menyarankan agar pemerintah mengelola dua sisi. Sisi pertama memacu produktivitas dengan teknologi agar biaya lebih murah sehingga punya daya saing, bukan keunggulan komparatif. “Untuk ekspor, sebuah negara harus punya keunggulan kompetitif,” jelas dia. Sedangkan sisi kedua adalah kualitas. “Ini maksudnya agar produk kita digdaya di luar dan bisa dijual,” imbuh dia. 

 

Ant/YK/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment