Koran Jakarta | May 23 2017
No Comments

Jika Ingin Sukses Menjadi Akuntan

Jika Ingin Sukses Menjadi Akuntan

Foto : KORAN JAKARTA
A   A   A   Pengaturan Font

Pertanyaan:

Bu Rossa, bagaimana agar bisa sukses berkarier sebagai akuntan?

Linda, Jakarta

Jawaban:

Untuk menjadi seorang akuntan profesional, dibutuh­kan beberapa karakter dasar karena akuntansi menjunjung akuntabilitas, yaitu bisa diper­tanggungjawabkan. Ini berarti bahwa setiap angka yang tercantum dalam laporan akuntasi harus bisa dipertang­gungjawabkan.

Berikut ini 5 karakter dasar yang harus dimiliki untuk sukses berkarir sebagai akuntan :

- Akurat

Dunia akuntasi erat kait­annya dengan dua hal, yakni angka dan uang. Perhitung­an angka harus akurat dan penggunaan uang haruslah akuntabel – dapat dipertang­gungjawabkan. Jadi, pekerjaan seorang akuntan adalah men­gakurasikan dan mengakunta­belkan angka dan atau uang yang dipergunakan dalam aktivitas bisnis.

Menjadi akurat merupakan salah satu karakter dasar yang harus dimiliki oleh seorang akuntan. Hal ini karena prin­sip dasar akuntasi yang men­jadikan akurasi sebagai nilai yang tidak boleh dikompromi­kan. Ketidakakuratan seakan merupakan kegagalan yang tidak boleh ada di dunia akun­tan. Akuntasi hanya mengakui transaksi yang didukung oleh bukti transaksi yang valid dan angka yang diakui harus sama persis dengan yang tertera da­lam bukti transaksi, sehingga tidak heran menjadi akurat adalah sifat dasar seorang akuntan.

- Detail

Akurasi membutuhkan detail. Tanpa detail yang cukup maka mustahil hasil yang didapat akan akurat. Maka dari itu, setiap pekerja­an akuntasi dibutuhkan detail yang kuat.

Contohnya: Pembelian kertas sebanyak 5 kardus dari supplier tidak bisa dicatat dengan “Persediaan Kertas 5 Kardus Rp 450,000”. Pencatat­an sesuai prinsip akuntasi ha­ruslah secara detail dan rinci – dengan menjelaskan jenis kertasnya dan berapa banyak. Maka seharusnya ditulis de­ngan; “Persediaan Kertas A4 Sebanyak 5 Rim Rp 450,000”.

Bagi orang akuntasi, sesu­atu yang tidak detail cende­rung tidak akurat – sehingga tidak bisa dipertanggung­jawabkan. Hal tersebut men­jadi alasan mengapa seorang akuntan cenderung terbiasa terhadap hal-hal yang bersifat detail.

- Logis

Memang benar, akuntasi banyak bermain dengan ang­ka. Namun, bukan berarti akuntasi termasuk golongan ilmu pasti. Akuntasi banyak menggunakan prinsip dan asumsi yang masih dalam kisaran logis. Dalam hal me­mahami pekerjaan akuntasi, orang akuntasi biasanya tidak kaku dan bisa menerima hal-hal yang ditangkap nalar serta alasan logis. Itulah sebabnya orang-orang akuntasi, dalam kesehariannya, adalah orang-orang yang lebih banyak menggunakan logika diban­dingkan hal lain.

Logis merupakan nilai positif di segi kehidupan manapun, baik di lingkungan masyarakat dan juga ling­kungan bekerja. Di lingkungan bisnis misalnya, input dasar pemikiran pengambilan ke­putusan haruslah didasari pemikiran logis, tidak bisa berdasarkan asumsi dan per­timbangan yang ngawur.

- Konsisten

Akuntabilitas, disamp­ing butuh akurasi, detail dan kelogisan, juga membutuhkan sikap konsisten. Tidak bisa naik turun, semuanya harus dilakukan secara konsisten. Mulai dari prosedur akuntasi, metode yang digunakan, satu­an ukuran yang digunakan, format penyajian laporan, semuanya harus konsisten.

Tuntutan konsistensi ter­sebut, jelas atau tersamar, ter­gambar dalam pola pikir dan perilaku seorang akuntan – di manapun mereka berada, me­reka cenderung menunjukkan pola pikir dan perilaku yang konsisten. Tidak gamang.

- Disiplin

Tanpa disiplin yang tinggi, mustahil konsistensi akan tercapai. Konsisten butuh disiplin tinggi, agar: Taat pada prosedur dan atur­an perusahaan,Tidak me­nyepelekan data atau fakta sekecil apa pun,Taat pada aturan pemerintah,Taat pada standard kode etik,Taat pada prinsip yang berterima umum dan praktek yang lazim.

Laporan yang disampai­kan oleh akuntan haruslah relevan dan selesai tepat waktu sehingga tidak kadalu­arsa. Untuk bisa memenuhi itu semua, maka haruslah ada kedisiplinan tinggi yang dimiliki oleh akuntan. Secara keseluruhan, pekerjaan akun­tasi tergolong pekerjaan yang membutuhkan disiplin yang tidak main-main

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment