Jelang Natal-Tahun Baru Kendalikan Harga | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Jelang Natal-Tahun Baru Kendalikan Harga

Jelang Natal-Tahun Baru Kendalikan Harga

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sudah menjadi kebiasaan negeri ini, setiap menjelang hari besar keagamaan, harga-harga selalu naik. Ini luar biasa mengherankan karena juga sudah menjadi kebiasaan, pemerintah tidak pernah mampu mengendalikan harga-harga pangan menjelang hari-hari besar tersebut. Seperti sekarang, menjelang hari Natal dan Tahun Baru 2020, sejumlah harga bahan pangan sudah mulai merangkak naik.

Rasanya kali ini harga naik terlalu cepat karena Natal masih lumayan jauh. Tidak tahu, ada apa dengan rezim karena setiap Natal dan Tahun Baru harga-harga selalu naik, tetapi mengapa pula selalu tidak bisa dikendalikan. Padahal pasokan juga tidak ada masalah, tetapi mengapa harga selalu melambung. Ini melawan hukum permintaan dan penawaran.

Tidak pernah ada yang tahu ada apa dengan pemerintah dan harga-harga yang terus terulang, naik pada saat hari-hari besar keagamaan seperti Lebaran dan Natal. Sekarang pun harga sudah tak dapat dikendalikan. Misalnya, harga telor yang bulan lalu masih 21.000 rupiah per kilogram, sekarang sudah naik secara bervariasi.

Para pedang ada yang menjual, 24.000, 25.000, dan 26.000 rupiah per kilogram. Harga ayam pun seperti tak mau kalah, juga naik. Sebelum Desember, harga ayam sedang 30.000 rupiah, tapi kini sudah menjadi 34.000 rupiah. Nah, mumpung masih belum terlalu tinggi kenaikannya, mestinya pemerintah segera mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk mengerem laju kenaikan. Misalnya, dengan menggelontor pasokan ke pasar-pasar.

Inspektur Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Srie Agustina, tidak boleh mengatakan bahwa meski telah terjadi kenaikan harga bahan pokok di DKI Jakarta menjelang Natal dan Tahun Baru 2020, kenaikannya masih dalam batas wajar. Berapa pun kenaikannya, mesti menjadi perhatian, bukan dimaklumi (masih wajar). Justru mumpung masih “wajar” dia harus segera mengambil tindakan untuk terus menekan agar harga tidak naik.

Tidak cukup dia hanya berkomentar, masih wajar. Jangan kaget kalau akhirnya terus meninggi harga pangan di pasar, andai tidak menyiapkan solusi dari sekarang. Mestinya, sudah ada strategi mengatasi kenaikan harga karena itu selalu terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru, kapan pun. Komoditas yang rawan naik pun hampir selalu sama, tidak jauh dari, telor, ayam, daging, cabai merah, bawang, minyak, dan beras. Nah, terhadap komoditas-komoditas tersebut, pemerintah semestinya sudah bisa mengantisipasi. Jangan terus saja berdalih ketika gagal mengatasi kenaikan harga-harga pangan.

Biasanya yang menjadi kambing hitam adalah cuaca seperti hujan yang membuat pasokan tersendat. Rakyat tidak mau ada lagi alasan-alasan untuk ngeles seperti yang sudah-sudah. Pemerintah jangan tiap tahun ngeles, malu sedikitlah. Apalagi Srie sendiri mengakui, sudah memantau komoditas pangan di 15 provinsi, termasuk DKI Jakarta.

Di provinsi-provinsi tersebut dia tahu harga beberapa komoditas seperti daging ayam, telor, dan cabai sudah naik. Nah, kalau sudah mengetahui mulai ada kenaikan harga, lalu tindakan apa yang disiapkan untuk mengerem. Jangan sebatas memantau, tetapi tidak berbuat apa-apa.

Padahal sudah tahu dari sekarang pun harga-harga mulai naik. Ditunggu kebijakan kemendag, kementan, dan instansi terkait lain untuk bersama-sama bersinergi mengantisipasi agar harga tidak terus naik.

Sekali lagi jangan sampai ketika Natal harga sudah tak terkendali. Mumpung masih ada waktu, segeralah bersinergi untuk mengambil langkah- langkah antisipatif.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment