Jelajah Etosha National Park | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments

Jelajah Etosha National Park

Jelajah Etosha National Park

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Ini adalah sebuah pilihan setelah berkunjung ke Afrika Selatan. Mendatangi Namibia yang bertetangga dengan Afrika Selatan bisa menambah pengalaman unik.

Republik Namibia adalah sebuah negara di Afrika bagian barat daya tepatnya di pesisir Atlantik. Negeri ini berbatasan dengan Angola dan Zambia di sebelah utara, Botswana di timur dan Afrika Selatan di selatan. Namibia merdeka dari Afrika Selatan tahun 1990 sehingga menjadi salah satu negara termuda di dunia. Ibu kotanya ialah Windhoek.

Pada akhir abad ke-19 selama penjajahan Eropa, Kekaisaran Jerman mendirikan kekuasaan atas sebagian besar wilayah sebagai protektorat pada tahun 1884. Lalu mulai mengembangkan infrastruktur dan pertanian, dan dipelihara koloni Jerman ini sampai tahun 1915, ketika pasukan Afrika Selatan mengalahkan militernya.

Pada abad ke-20, pemberontakan dan tuntutan perwakilan politik oleh aktivis politik asli Afrika yang menginginkan kemerdekaan mengakibatkan PBB mengasumsi tanggung jawab langsung atas wilayah tersebut pada tahun 1966, tetapi Afrika Selatan mempertahankan dengan aturan de facto. Pada tahun 1973 PBB mengakui Organisasi Rakyat Afrika Barat daya (SWAPO) sebagai perwakilan resmi rakyat Namibia.

Partai didominasi oleh suku Ovambo, yang merupakan mayoritas besar di wilayah itu. Setelah perang gerilya yang berkepanjangan, Afrika Selatan memasang pemerintahan sementara di Namibia pada tahun 1985.

Lalu Namibia memperoleh kemerdekaan penuh dari Afrika Selatan pada tahun 1990. Tapi Walvis Bay dan Kepulauan Penguin tetap berada di bawah kendali Afrika Selatan sampai tahun 1994. Gurun Namib yang besar dan kering membuat Namibia menjadi salah satu negara paling tidak padat penduduknya di dunia.

Namibia mempunyai stabilitas politik, ekonomi, dan sosial yang tinggi. Namibia tidak memiliki perwakilan di Indonesia, maka dalam urusan visa akan dilakukan sistem on arrival. Jadi pengurusannya akan dilakukan begitu tiba di bandara setempat.

Tapi untuk menjaga kemungkinan sebaiknya juga mengurus visa Afrika Selatan yang kedutaan besarnya ada di Jakarta. Untuk ke Namibia, penerbangannya harus transit dulu di Afrika Selatan.

Nama bandara internasional di Namibia adalah Windhoek yang oleh sementara orang diartikan sebagai angin sudut. Bandaranya bersih dan para pekerjanya campuran, ada kulit putih dan kulit hitam.

Di sini perbedaan kulit masih terasa. Walaupun dunia internasional mengetahui bahwa Afrika sudah mengikis masalah rasialis, tapi dalam kenyataannya masih belum bisa berjalan penuh. Datang bertepatan pada musim dingin di bulan Juni. Udara yang dirasakan kering dan dingin. Suhu di Windhoek saat itu berkisar 10 derajat Celcius, malamnya bisa anjlok sampai nol derajat Celcius.

Namibia sekalipun pernah jadi jajahan Afsel, tapi keteraturan lalu lintas, bangunan mewah dan sudut kota yang bersih, membuat negara ini menarik untuk didatangi. Karena perbedaan waktu enam jam dengan Jakarta, membuat jam biologis tubuh agak terganggu.

Namibia yang luasnya 824.268 kilometer persegi ini dihuni oleh beberapa suku seperti Kavango, Herero, Himba, Damara, Nama, Topnaars, Rehobot Basters. Namun yang paling banyak dijumpai dan sering dibicarakan adalah Bushmen (San) dan Coloureds.

Suku San yang masih bertahan dengan sikap dan gaya hidup orang Afrika dimana rumahnya dibuat dari tumbuhan semak, tidak berpakaian dan menggunakan buah labu sebagai alat musik atau alat minum.

Di Windhoek ada beberapa Suku San yang berpakaian adat. Foto bersama mereka bisa dilakukan asalkan membayar dengan mata uang setempat yang disebut Rand. Tidak berbeda jauh dengan Afsel, kafe, resto, pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisatanya sudah demikian bagus. Kota Widhoek terhitung modern, bentuk bangunan dan pertokoan kebanyakan bergaya Eropa.

Supaya makin akrab, cobalah dengan berjalan kaki menyusuri sudut pertokoan di sepanjang Post Street Mall. Di sana akan menjumpai toko yang menjual jaket, sepatu, sabuk, tas, topi yang terbuat dari kulit Ostrich atau burung unta.

Etosha National Park Namibia yang berbatasan dengan Afrika Selatan, Angola, Zambia dan Botswana ini ternyata memiliki area yang masih banyak dihuni oleh binatang liar. Taman Nasional Etosha, dimana hidup secara bebas ribuan jenis binatang.

Mereka hidup berkoloni seperti gajah, badak, banteng, singa, jerapah dan cheetah. Yang disebut belakangan adalah sejenis macan yang terkenal mampu berlari cepat. Cheetah ini sering berkeliaran ke daerah pemukiman.

Daerah peternakan dan pertanian menjadi area yang menarik perhatiannya. Beberapa petani dan peternak sering menangkap cheetah yang terluka atau cidera. Terkadang macan langsing ini meninggalkan anakanaknya yang kemudian dipelihara oleh para peternak. Binatang lain yang khas adalah singa, impala, puku, oribi, gemsbok, dan waterbuck.

Di sini bukan saja burung unta atau ostrich yang berkeliaran. Tapi ada elang, avocet, reed cormorant, crowned crane, redknobbed coof, gagak, kakatua hijau kuning, puffback dan masih ribuan jenis lagi. Rombongan kami berangkat ke Etosha dengan memilih masuk lewat Outjo atau Gerbang Anderson. Taman Nasional ini pertama kali diresmikan tahun 1907 dengan luas sekitar 80 ribu kilometer persegi.

Lalu area yang bisa dijelajahi dengan kendaraan atau aman bersafari sekitar 22 ribu kilometer persegi lebih. Ada beberapa pintu masuk seperti Von Lindequist atau Galton.

Di pintu taman kami harus melewati pemeriksaan. Sebab kendaraan harus tertutup dan pengemudinya memiliki SIM yang berlaku. Sebelum jalan petugas menjelaskan tentang situasi taman dan lokasi-lokasi yang akan didatangi. Disarankan juga untuk tidak meninggalkan kendaraan bila akan mengambil gambar-gambar binatang.

Segi keamanan memang paling diutamakan. Karena perjalanan ini menyusuri jalur-jalur yang terkadang lepas dari jalan utama untuk menuju komunitas binatang. Secara kebetulan ada rombongan yang sengaja menyewa jip hardtop bersama beberapa petugas atau pemandu. Di kendaraan itu ada beberapa petugas yang ikut. Salah satunya sebagai pemandu yang menjelaskan soal keberadaan binatang.

Dari gerbang kendaraan berangkat ke Okaukuejo yang dijadikan sebagai kantor pusat kegiatan. Disini terdapat tempat atau bagian dari pusat riset Ecological Institute.

Kantor pusat ini yang mengendalikan kegiatan di taman nasional. Keberadaan kantor ini sudah sejak masa pendudukan Jerman sekitar tahun 1897. Selanjutnya sekitar tahun 1953 dijadikan sebagai pos polisi hutan.

Di sekitar tempat tersebut terdapat suku Haikom Bushmen. Sebuah menara batu yang tinggi berada di sekitar perkantoran. Menara ini dipergunakan sebagai tempat pengawasan binatang liar dan pemburu liar. Kelengkapan binatang dan populasinya yang tinggi memang membuat banyak pemburu tergiur untuk melakukan perburuan secara liar.

Apalagi hasil dari binatang buruan memang berharga mahal. Kalau ingin menginap ditempat ini ada beberapa bungalow yang berisi dua atau satu tempat tidur.

Biasanya yang menginap disini bila memulai perjalanan dari gerbang Galton. Kendaraan kami melanjutkan perjalanan ke Ondongab. Kendaraan mulai masuk hutan dan menuju padang ilalang.

Sesekali kelompok burung beterbangan ketika mendengar deru mesin mobil. Masuk ke daerah Ondongab, pemandu mengatakan bahwa lokasi tersebut tempat jerapah dan singa. Lewat binocular kami sempat melihat singa yang bermalas-malasan dan beberapa ekor jerapah serta banteng liar yang tengah menikmati rumput dan dedaunan. Di punggungnya ada beberapa ekor burung putih dan hitam yang tengah mematuk-matuk kutu banteng. 

Batu Meteor Hoba

Bisnis batu permata di Namibia memang menarik. Nomor dua setelah berlian, yang banyak dicari para kolektor adalah batu meteor. Di negara ini sering terjadi hujan meteor. Bahkan ada yang jatuh dalam ukuran besar. Ini bisa terlihat dari lubang bekas jatuhannya. Serpihan batu yang mengandung logam itu oleh pemerintah setempat memang dilarang diperjual belikan.

Namun situasi itulah yang malah membuat meteor jadi berharga mahal dan banyak dicari. Sebagai bukti pada masyrakat dan wisatawan bahwa meteor sering jatuh di sana, di tengah kota terdapat tugu yang puncaknya adalah batu-batu meteor.

Meteorit Hoba kependekan dari Hoba Barat, adalah meteorit yang terletak di tanah pertanian dengan nama yang sama, tidak jauh dari Grootfontein, di Daerah Otjozondjupa di Namibia.

Meteor itu ditemukan tetapi, karena massanya yang besar, tidak pernah dipindahkan dari tempat ia jatuh. Massa utama diperkirakan lebih dari 60 ton. Ini adalah meteorit utuh terbesar yang diketahui sebagai satu bagian dan sekitar dua kali lebih besar dari fragmen terbesar dari meteorit Cape York (Ahnighito 34 ton) atau Campo del Cielo (Gancedo 30 ton).

Ini juga merupakan bagian terbesar dari besi yang terjadi secara masif (sebenarnya feronikel) yang dikenal di permukaan bumi. Nama “Hoba” berasal dari kata Khoekhoegowab yang berarti “hadiah”.

Dalam upaya untuk mengendalikan vandalisme yang terjadi pada batu meteor tersebut, dan dengan izin dari Ny. O. Scheel, pemilik pertanian dimana lokasi batu meteor itu jatuh pada saat itu, pemerintah Afrika Barat Selatan (sekarang Namibia) pada 15 Maret 1955, menyatakan meteorit Hoba sebagai monumen nasional. Pada tahun 1979 proklamasi diubah untuk mencakup tidak hanya meteorit tetapi juga 25 mx 25 m di mana ia berada.

Pada tahun 1985 Rössing Uranium Ltd. membuat sumber daya dan dana tersedia bagi pemerintah Namibia untuk memberikan perlindungan tambahan terhadap perusakan. Pada tahun 1987 J. Engelbrecht, pemilik pertanian Hoba Barat, menyumbangkan meteorit dan situs di mana ia terletak ke negara bagian untuk tujuan pendidikan.

Belakangan pemerintah membuka pusat wisata di lokasi tersebut. Sebagai hasil dari perkembangan ini, vandalisme meteorit Hoba telah berhenti dan sekarang dikunjungi oleh ribuan wisatawan setiap tahun. ars/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment