Koran Jakarta | April 22 2018
No Comments

Jatuh Bangun Membangun Ekonomi Keluarga

Jatuh Bangun Membangun Ekonomi Keluarga
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bidadari untuk Dewa

Penulis : Asma Nadia

Penerbit : KMO Publishing

Cetakan : Oktober 2017

Tebal : x + 528 halaman

Nomor ISBN : 978-602-50441-06

Buku Bidadari untuk Dewa merupakan novel based on a true story yang mengisahkan perjalanan hidup Dewa Eka Prayoga, seorang entrepreneur muda. Dia jatuh bangun membangun bisnis. Dewa juga seorang business coach dan penulis buku-buku best seller yang banyak menginspirasi.

Tidak banyak sosok muda seperti Dewa yang pada umur 21 telah menghasilkan uang satu miliar rupiah. Beberapa waktu kemudian, dia berhasil mengumpulkan delapan miliar rupiah. Dia pun sempat terjangkit penyakit langka GBS yang nyaris merenggut nyawanya.

Dewa mempersunting wanita bernama Haura, meski Ibu Dewa, seorang wanita pengagum mitologi Yunani, tidak merestui. Guru spiritual Ibunya mengatakan, Haura hanya akan membuat Dewa menderita dan terpuruk. Pada hari ke-18 pascamenikah, Dewa menyadari telah tertipu investasi bodong milik seorang ustaz.

Celakanya, dia juga merekrut orang lain untuk berinvestas di tempat sama. Akibatnya, ketika kasus penipuan muncul, Dewa menjadi sasaran para investor. Semua menagih uang ke Dewa. Semua harta, rumah, mobil, tabungan ludes untuk mengembalikan uang para investor, namun belum cukup. Sebetulnya Dewa bukanlah yang patut disalahkan karena juga korban.

Namun, masyarakat cenderung gelap mata. Hidup Dewa tak lagi sama, penuh tekanan, ancaman, intimidasi, bahkan serbakekurangan. “Kesedihan seperti mata pedang. Maka tikamkan dia padaku di mana pun ujungnya,” kata Dewa (halaman 233).

Haura tetap tegar mendampingi suami. Dia selalu menguatkan Dewa dengan berkata, “Ayah tidak sendiri. Bidadari Ayah di sini” (halaman 452). Dewa kuat karena bidadari, istrinya, selalu di sisinya. Tangan perempuan bermata bening dengan kelopak mata indah itu selalu menggenggamnya erat. Doa-doa tulusnya menembus langit.

Ketegaran Haura diuji lagi manakala mertuanya semakin menyudutkannya sebagai perempuan pembawa sial. Ini tuduhan yang menyakitkan. Di tengah-tengah prahara, dia dianugerahi kehamilan. Dalam kondisi hamil, Haura membuka usaha “Ceker Iblis” untuk menambal kebutuhan keluarga.

Tentu hanya sedikit yang bisa disisihkan untuk mengembalikan utang. Perlu waktu sangat panjang, bahkan sepanjang hidupnya untuk melunasi utang hampir delapan miliar. Ibunya selalu menganggap Dewa sebagai Herkules. “Herkules memang tak selalu berhasil. Tapi putra Zeus itu selalu menemukan cara untuk bangkit dan kembali tegak, setiap kali dijatuhkan lawan,” kata Ibunya (halaman 282).

Nama-nama tokoh dalam mitologi Yunani banyak disebut dalam buku, seperti Zeus, Hera, Aphrodite, Poseidon, Ares, Alkmene, atau Semele. Semua menginspirasi karena dikaitkan dengan memandang mitologi tersebut secara bijak. Mereka tidak diterima begitu saja seutuhnya, tetapi meluruskan untuk tetap berada dalam koridor keimanan.

Ada banyak hikmah dalam novel Bidadari untuk Dewa. Misalnya, yang penting bergerak, berusaha, dan berjuang. Jangan mengatakan “tidak mungkin.” Sesungguhnya solusi itu dekat, setiap orang memiliki tongkat Musa tersendiri. Senjata yang sebenarnya sudah Allah berikan untuk menghadapi hidup. Kebaikan sekecil apa pun akan sanggup menggerakkan kebaikan besar.

Tes-tes kecil mampu membuat seseorang menjadi besar karena selalu berpikir untuk mengerjakan lagi. Jangan lupa juga sebagai kekuatan terakhir adalah doa. Kemudian, selalu berpasrah kepada Tuhan walau masalah menggunung dan dada terasa terhimpit. Buku ini bisa menjadi alternatif bacaan pembaca yang ingin terjun ke bisnis sebagai wirausahawan. 

Diresensi Yeti Islamawati, SS, Alumna Universitas Negeri Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment