Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Pelestarian Lingkungan - Pemerintah Akan Berikan Insentif ke Produsen Plastik dari Singkong

Jateng Siap Jadi Provinsi Bioplastik

Jateng Siap Jadi Provinsi Bioplastik

Foto : KORAN JAKARTA/HENRI PELUPESSY
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ( kiri) dan Direktur Sinar Jaya Plastindo, Whelly Sujono, memperlihatkan produk inovasi dan kreasi lingkungan hidup berupa plastik berbahan dasar singkong pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, di Taman Kota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (17/7).
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk mengurangi pencemaran lingkungan maka sudah menjadi keharusan digunakan plastik yang ramah lingkungan.

SALATIGA – Tugas peme­rintah mendorong semua inovasi tentang pengelolaan sampah, termasuk pemanfaa­tan bioplastik di wilayah Jawa Tengah (Jateng) untuk mence­gah pencemaran lingkungan. Untuk itu, Jateng berusaha menjadikan wilayah ini seba­gai provinsi bioplastik.

“Saya bertekad mendorong Jateng jadi provinsi bioplastik. Kalau misal kami buat kebijakan, tahun depan, 50 persen plastik harus menggunakan bioplastik maka ini akan menjadi gerakan mengurangi sampah plastik. Pada 2–5 tahun kemudian bisa 100 persen,” kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, di Taman Kota Salatiga, Jateng, Rabu (17/7).

Pada peringatan Hari Ling­kungan Hidup Sedunia ini dipamerkan berbagai produk inovasi dan kreasi lingkungan hidup. Salah satu produk yang menjadi perhatian publik da­lam acara itu adalah plastik berbahan dasar singkong.

Ganjar penasaran dengan plastik unik itu. Dia pun lang­sung mengorek informasi dari perusahaan yang membuat plastik bernama bioplastik terse­but. “Siapa ini yang buat, ayo sini maju ke depan,” tanya Ganjar.

Direktur Sinar Jaya Plastin­do, Whelly Sujono, kemudian berlari mendekati Ganjar. Di tangannya sudah menenteng plastik hasil olahan dari pe­rusahaannya. “Ini namanya bioplastik Pak. Ini bahannya dari singkong. Plastik ini ra­mah lingkungan, hanya da­lam waktu seminggu saja, bisa langsung terurai,” jelasnya.

Penebus Dosa

Menurut Whelly, perusa­haan yang terletak di Kabu­paten Sukoharjo itu telah mem­produksi plastik sejak 14 tahun lalu. Dia mengaku selama ini perusahannya menjadi salah satu penyumbang sampah plas­tik di Indonesia. Nah, produk bioplastik ini dibuat untuk penebus dosa karena telah ikut mengotori bumi Indonesia.

Selama ini, tambah Whelly, produk bioplastik sudah digu­nakan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pihaknya juga se­dang berjuang untuk memasar­kan produknya ke mal, swalayan, dan pusat-pusat perbelanjaan.

Atas penjelasan tersebut, Ganjar mengapresiasi lang­kah Whelly membuat plastik yang ramah lingkungan. Apa­lagi, produk itu muncul atas kesadaran perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan. “Ini menarik. Saya bangga ada plastik ramah lingkungan dan diproduksi di Jateng,” kata dia.

Persoalan sampah plastik, menjadi perhatian serius pe­merintah. Belum lama ini, Ganjar mengatakan Presiden mengumpulkan seluruh gu­bernur, bupati/wali kota ter­kait penanganan persoalan sampah itu.

“Saya senang hari ini, dita­mpilkan banyak karya dari masyarakat, termasuk dunia usaha, tentang pengelolaan sampah plastik. Ternyata, kita sudah punya bioplastik yang ramah lingkungan, tapi sayang kurang populer,” ujar Ganjar.

Ganjar akan mendorong semua perusahaan plastik membuat bioplastik. Jika mau maka pemerintah akan mem­berikan insentif. Hari ini su­dah ada contohnya. Publik bisa melihat, ada barangnya, bisa digunakan. Kalau ini semua dijalankan maka pemerintah dan masyarakat bisa mengelo­la lingkungan dengan baik.

Sebelumnya, peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hanif Dawam Abdullah, mengungkapkan pi­haknya telah mengembangkan bioplastik sebagai alternatif un­tuk menggantikan plastik biasa.

“Bioplastik tersebut berba­sis pati yang mudah diurai mik­roba alami dengan cepat. Ber­peluang menjadi solusi limbah plastik saat ini,” kata Hanif.

Bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional karena sifatnya yang mudah terurai secara sempurna oleh mikroba yang ada di dalam tanah atau air. “Kalau plastik biasa kan hanya sekali pakai padahal tidak bisa dimakan mikroba sehingga menumpuk jadi limbah. Se­dangkan bioplastik berbahan singkong ini diambil dari pat­inya karena memiliki kemiri­pan struktur polimer pada bahan plastik biasa, sehingga permasalahan lingkungan bisa teratasi,” ujar Hanif.

SM/N-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment