Jaringan Teroris Masih Amat Luas | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Jaringan Teroris Masih Amat Luas

Jaringan Teroris Masih Amat Luas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Setelah dikejar dan ditangkapi terus, ternyata ang­gota teroris tidak menurun. Bahkan, jaringan mereka masih tetap amat luas. Hal itu terlihat begitu banyak anggota jaringan bom medan yang ditangkapi tim Densus 88. Hal ini harus menjadi fokus pemerintah dan aparat ke­amanan. Kematian pucuk ISIS, al Baghdadi, tidak otomatis mematikan jaringan terorisme dalam negeri.

Tak kurang dari 46 orang dijadikan tersangka, pascabom Mapolresta Medan. Para tersangka ditangkap di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Penegakan hukum yang dilakukan Densus 88 dan jajaran polda-polda sudah mengamankan atau menetapkan 46 tersangka. Menurut Karo Penmas Di­visi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, dari jumlah ini, ada 23 tersangka yang ditangkap di Sumatera Utara dan Aceh. Mereka adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Tiap wilayah memiliki pimpinan. Contoh, untuk wilayah Sumatera Utara JAD dipimpin atau di bawah Amir berini­sial Y. Jaringannya meliputi Sumatera Utara dan Aceh. Ada empat yang menyerahkan diri dari 23 tersangka tersebut.

Densus 88 juga menyita barang bukti berupa bahan pembuat bom seperti pupuk urea hingga black border. Ba­han-bahan ini diduga akan digunakan para tersangka un­tuk merakit bom low explosive. Tim Densus juga menang­kap 22 teroris dari Banten hingga Kalimantan Timur. Para tersangka diciduk di Jakarta (3), Jateng (9), Jabar (6), dan Kalimantan Timur (1).

Penangkapan yang dilaku­kan Tim Densus 88 dari waktu ke waktu bagi sebagian ma­syarakat terasa teroris berku­rang dan hampir “habis”. Na­mun, melihat jaringan yang begitu luas dari Aceh, Sumut, Jabar, Jakarta, Jateng, hingga Kalimantan Timur, ternyata memperlihatkan mereka be­nar-benar masih eksis.

Masih banyak masyarakat yang keblinger dengan me­melihara, mengembangkan, dan memperdalam paham terorisme. Apa pun alasan­nya, terorisme harus dibasmi. Sayang, masih ada sebagian anggota masyarakat yang welcome terhadap para te­roris dengan menyediakan tumpangan, memberi dana, hingga membantu pengem­bangan. Tidak tahu apa yang mereka cari dengan menjadi teroris, sebuah paham konyol dan hanya akan berakhir di penjara atau mati kalau mereka menjadi pelaksana bom bunuh diri.

Para orang tua dan masyarakat harus makin waspada dengan masih meluasnya jaringan teroris. Khusus bagi orang tua harus mencermati anak-anak mudanya. Sebab sekarang ini anak-anak muda menjadi incaran teroris un­tuk direkrut. Tim Densus 88 memperlihatkan dari para ter­sangka yang ditangkap, kebanyakan anak-anak milenial, kaum muda, dan remaja.

Ini sungguh memprihatinkan karena anak-anak rema­ja dan kaum muda memilih jalan sesat. Padahal di tangan merekalah masa depan bangsa dan negara. Lalu, akan jadi apa negara dan bangsa ini kalau jatuh ke tangan para bi­naan teroris? Inilah yang harus menjadi fokus perhatian orang tua. Mereka harus benar-benar mengenali anak.

Para teroris itu pandai bermain kamuflase. Rata-rata se­telah tertangkap, masyarakat kaget dan tidak mengira yang bersangkutan teroris karena penampilan sehari-hari sangat sopan serta rajin beribadat. Maka, kini masyarakat dan orang tua jangan hanya melihat penampilan sehari-hari. Mereka harus menyelami lebih dalam guna mengenal sesungguhnya siapa anaknya itu. jangan sampai nanti kaget ketika ditang­kap aparat. Orang tua yang baik tentu mengenal anak-anak seperti, “Gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal gembalanya.”

Orang tua yang terkaget-kaget saat akhirnya anaknya ditangkap aparat karena anggota jaringan teroris, tidak bo­leh menyesal karena selama ini berarti ayah ibu itu tidak mengenal dengan baik anaknya. Nah, agar tidak masuk ke jaringan teroris, kedua orang tua harus benar-benar me­ngenal jaringan pertemanan atau pergaulan anak-anak. 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment