Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Jangan Lengah, Berkaryalah Selagi Muda

Jangan Lengah, Berkaryalah Selagi Muda
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Menjadi Milenial Aktif di Industri Kreatif

Penulis : John Afifi

Penerbit : Laksana

Cetakan : Februari 2019

Tebal : 204 halaman

ISBN : 978-602-407-511-8

Waktu bernilai sangat berharga. Bahkan, masa-masa senggang dan indah kelak akan lepas karena waktu. Sadarlah sebelum terlambat. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang positif agar berkembang dengan berkarya (halaman 16). Buku ini membuka cakrawala, cita-cita sukses atau berjaya ada saat muda. Dia hanya bisa dikejar pada masa muda karena memiliki waktu panjang. Gunakan waktu sebaik mungkin agar berbagai cita-cita terwujud lebih cepat (halaman 17).

Buku Menjadi Milenial Aktif di Industri Kreatif begitu antusias meniupkan semangat pantang menyerah bagi kaum muda. Ada beberapa kisah yang bisa menginspirasi anak muda agar kreatif, inovatif, cerdas, dan dinamis. Sebut saja Vicky, yang menolak tawaran berkarier di kota besar. Dia berkarya di tanah kelahirannya, Banyumas, Jateng. Bermodal jaringan internet, dia menyulap rumahnya menjadi rumah produksi Banyucindih.

Beberapa filmnya meraih penghargaan Apresiasi Film Indonesia (AFI). Dia juga banyak menerima order pembuatan film di beberapa daerah, seperti Banyuwangi. Nabila Samhana Bawazier, misalnya, sudah memiliki karya di bidang fesyen produk sepatu brand NSBWZ (Nice Shoes Be Wonder Zhoe). Outlet di Bogor menghasilkan lebih dari 50 juta rupiah sebulan. Sementara itu, Yasa Singgih, sukses berbisnis online 150 juta rupiah per bulan. Dia juga sering mengisi seminar bisnis di beberapa kota.

Lain lagi kisah Hamzah Izzulhaq, yang sukses menjadi enterpreneur program bimbingan belajar. Penghasilan setahun sekitar 700 juta rupiah. Di bidang kuliner, ada Febri Juanda dari Kota Bogor. Dia memulai bisnisnya tahun 2012 dengan membuka kafe “Food Addict dan Yellow Trux”. Ada juga Hafiza Elfira yang bergerak di bidang sosial. Dia peduli akan ibu-ibu penderita kista. Para ibu dipekerjakan sebagai penjahit manik-manik jilbab.

Buku ini juga memuat kisah enam anak muda yang sukses buat karya besar. Mereka adalah Gibran Huzaifah, pembuat perangkat elektronik e-Fishery untuk peternak lele. Nabila Firdausiyah yang mengubah kampung kumuh di kelurahan Jodipan, Malang, Jatim, menjadi kampung unik sebagai salah satu destinasi wisata.

Tri Wibowo membangun insan medika dengan merekrut lulusan SMK dan D3 Keperawatan. Gamal Albinsaid membuat Klinik Asuransi Sampah. Masyarakat kurang mampu bisa mendapat fasilitas kesehatan dengan bayaran sampah. Ada lagi Mesty Ariotedjo yang berhasil menciptakan WeCare.id, sebuah layanan elektronik terintegrasi yang bisa menghubungkan pasien kurang mampu dengan calon donatur pengobatan.

Bahkan, dia dinobatkan sebagai salah satu “30 Under 30 Fober Asia.” Heni Sri Sundani, mantan TKW, mendirikan Gerakan Anak Petani Cerdas dan AgroEdu Komunitas Jampang di Kota Bogor. Dia juga masuk daftar “30 Under 30 Asia” kategori social enterpreneurs. Buku ini membuka sangat banyak peluang kaum masa muda.

Peluang-peluang tersebut tidak hanya berguna meningkatkan skill, tetapi juga lahan bisnis. Menjadikan hobi sebagai pekerjaan, bukan tidak mungkin dilakukan oleh generasi milenial. Buku ini juga membahas bermacam pekerjaan industri kreatif agar anak muda mandiri, sukses, dan mendunia. Kisah-kisah dalam buku ini semoga memupuk harapan anak-anak muda yang memiliki mimpi setinggi langit, penuh ide kreatif, jiwa atraktif, dan selalu optimistis menatap masa depan. Diresensi Titik Nur Farikhah, Humas Kanwil Kemenag DIY

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment