Koran Jakarta | September 21 2018
No Comments
Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arief Fakrulloh, tentang KTP yang Tercecer

Jangan Kaitkan Kasus KTP Tercecer dengan Kepentingan Politik

Jangan Kaitkan Kasus KTP Tercecer dengan Kepentingan Politik

Foto : ISTIMEWA
Zudan Arief Fakrulloh
A   A   A   Pengaturan Font
Kembali publik dihebohkan dengan kasus tercecernya kepingan Kartu Tanpa Penduduk (KTP) di Kampung Tarikolot RT 03/RW 02, Desa Cikande, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang.

Pihak Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri menegaskan setelah mendapat laporan dari dinas kependudukan setempat, kasus tercecernya e-KTP di Serang murni karena keteledoran, bukan karena unsur kesengajaan.
Untuk mengetahui itu lebih lanjut, Koran Jakarta berkesempatan mewawancarai Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arief Fakrulloh, di Jakarta. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa Anda jelaskan kasus tercecernya e-KTP di Serang yang ramai diberitakan?

Ya, penemuan kepingan KTP elektronik (e-KTP) di Kampung Tarikolot RT 03/RW 02, Desa Cikande, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, kami perlu sampaikan penjelasan agar tidak simpang siur. Kronologis begini, pada Senin (10/9/2018), terdapat pemberitaan ditemukannya blangko KTP lama dan e-KTP serta sembilan lembar Kartu Keluarga (KK) yang totalnya sebanyak 2.910 keping di tempat pembuangan sampah dan semak belukar sekitarnya oleh masyarakat.

Selanjutnya, masyarakat mengamankan hasil temuannya dan menyerahkan ke Koramil Cikande. Dinas Dukcapil Kabupaten Serang selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap barang temuan tersebut langsung merespons dan berkoordinasi serta mengambil barang itu di Koramil untuk diamankan dan disimpan di Kantor Dinas Dukcapil Kabupaten Serang. Sejak saat itu, tanggal 10 September 2018 barang sudah berada di Dinas Dukcapil Kabuparen Serang.

Berapa total e-KTP yang tercecer itu?

Sebanyak 2.910 keping. Dari angka 2.910 keping tersebut sebanyak 513 KTP manual atau KTP lama bukan e-KTP ya. Dan ada 111 e-KTP rusak secara fisik. Sisanya 2.286 adalah e-KTP yang invalid karena sudah tidak berlaku akibat adanya perubahan elemen data seperti pindah alamat dan mengubah status.

Sudah dicek itu invalid?

Ini sudah dapat dibuktikan dengan pengecekan melalui alat baca (card reader) e-KTP. Untuk blangko Kartu Keluarga (KK) juga tidak berlaku karena adanya perubahan tandatangan blangko dari tandatangan camat. Saat ini, petugas keamanan masih melakukan pendalaman kenapa barang-barang blangko rusak dimaksud sampai berada di tempat sampah.

Yakin itu semuanya e-KTP invalid?


Saya memastikan bahwa semua e-KTP tersebut adalah e-KTP rusak dan e-KTP bekas atau invalid data, walaupun secara fisik terlihat utuh.

Bagaimana ceritanya sampai tercecer?

Dari informasi awal diketahui bahwa ruang tempat penyimpanan arsip di kecamatan memang saat itu akan dipakai untuk Panitia Pemilihan Kecamatan melakukan proses Pilkada serentak tahun 2018, sehingga arsip-arsip yang ada dikeluarkan sementara termasuk blangko yang rusak.

Siapa yang membuang?


Pertanyaannya, siapa yang membuang arsip blangko ini yang masih didalami.

Hanya kelalaian?


Ya, hal ini diyakini hanya kelalaian seseorang yang tidak mengerti dan tidak mengetahui pentingnya arsip. Kami Kemendagri sungguh-sungguh mendalami terjadinya hal ini dan akan memberikan pembinaan secara proporsional bagi yang bersalah.

Yang tercecer tak berlaku lagi?


Benar, e-KTP tersebut sudah dicek secara sistem sudah tidak berlaku lagi karena pemiliknya sudah memiliki e-KTP baru.

Apakah e-KTP yang sudah tidak valid datanya ini bisa digunakan untuk pemilu?


Tentu saja e-KTP ini tidak bisa digunakan untuk pemilu karena pemilik e-KTP yang bersangkutan sudah memiliki e-KTP baru atau pengganti. Andaipun misalnya digunakan di tempat lain pasti tidak bisa karena ada alamat dan fotonya. Petugas TPS juga hafal pemilih yang berdomisili di sekitar TPS. Ini murni kelalaian petugas kecamatan, jadi tidak perlu dikaitkan terlalu jauh dengan pemilu. Ini murni keteledoran. Jangan dikaitkan ke politik. Jauh itu (keterkaitannya).

 

agus supriyatna/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment