Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi

Jangan Biarkan Defisit Transaksi Berjalan Melebar

Jangan Biarkan Defisit Transaksi Berjalan Melebar

Foto : Sumber: Bank Indonesia - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Kian melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal IV-2018 hingga 9,1 miliar dollar AS atau 3,57 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari kuartal III-2018 yang tercatat 8,6 miliar dollar AS atau 3,28 persen dari PDB (lihat grafis), jangan dianggap sebagai hal yang biasa. Untuk itu, peme­rintah mesti serius untuk menanggulanginya melalui pe­ningkatan ekspor, baik ekspor barang maupun ekspor jasa.

Ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus, mengatakan neraca transaksi berjalan tidak boleh dibiarkan mengalami pelebaran defisit terus-menerus. Sebab, jika berlarut-larut bakal menjadi sentimen negatif sehingga menurunkan ke­percayaan publik, terutama kalangan investor.

“Jangan biarkan transaksi berjalan mengalami defisit terus-menurus. Harus ada upaya untuk mengurangi dan membuat transaksi berjalan menjadi surplus. Untuk itu, perlu upaya serius dari pemerintah, terutama menggenjot sisi ekspor baik barang maupun jasa. Selain itu, impor juga harus dikendalikan dengan taktis,” kata Heri, di Jakarta, Minggu (10/2).

Heri melanjutkan, dari sisi jasa memang tak bisa serta merta langsung bisa memperbaiki defisit transaksi berja­lan, seperti jasa angkutan ekspor-impor yang harus dilaku­kan perbaikan secara bertahap.

“Sebab, kita selama ini masih banyak memakai kapal asing untuk kegiatan ekspor-impor. Bahkan, sebanyak 93 persen kegiatan ekspor-impor menggunakan kapal asing. Kalau penggunaan asing dikurangi, otomatis kan mengu­rangi tekanan pada neraca pembayaran,” kata dia.

Ditambahkan Heri, untuk impor migas yang paling ber­kontribusi terhadap defisit juga harus dicermati secara seri­us Apalagi, ekspor nonmigas tidak mampu mengompensasi defisit migas. “Ekspor nonmigas melempem, defisit migas besar, sehingga terjadi defisit terus-menerus,” papar Heri.

Ke depan, sambung Heri, harus ada upaya-upaya untuk mengendalikan defisit migas, misalnya, dengan mengu­rangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).

“Caranya dengan menggunakan energi yang kita punya, seperti energi terbarukan. Padahal, sudah ada kebijakan pengembangban B-20 untuk BBM,” kata dia.

Daya Tahan

Sebenarnya, banyak upaya yang bisa dilakukan un­tuk mencegah defisit transaksi berjalan kian lebar. Tetapi, upaya yang terpenting adalah konsisten dan berkesinam­bungan serta ada sinergitas dari hulu ke hilir.

“Sayangnya, sekarang ini masih belum optimal untuk bagaimana membangun fundamental atau hal-hal yang berkaitan dengan transaksi berjalan supaya bisa surplus. Jangan sedikit-sedikit menyalahkan global. Setidaknya kita perlu membangun daya tahan ekonomi yang lebih kuat, ter­utama pembangunan sektor riil yang berkualitas,” tukasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia melaporkan pelebaran CAD pada kuartal IV-2018 dipengaruhi oleh penurunan ki­nerja neraca perdagangan barang non-migas akibat masih tingginya impor. Hal ini sejalan dengan permintaan domes­tik yang masih kuat di tengah kinerja ekspor yang terbatas.

Meskipun demikian, kinerja neraca pendapatan primer dan neraca jasa yang lebih baik dapat membantu mengu­rangi pelebaran defisit. Ant/ahm/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment