Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments
Psoriasis

Jangan Anggap Remeh Bercak Merah pada Tubuh

Jangan Anggap Remeh Bercak Merah pada Tubuh

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Psoriasis Sedunia merupakan acara tahunan yang didedikasikan untuk menyuarakan aspirasi 125 juta orang yang terkena psoriasis atau psoriatic arthritis di seluruh dunia.

Peringatan Hari Psoriasis Sedunia 2016 di Indonesia bertema ‘Mengenal Psoriasis Lebih Dekat’ bertujuan meningkatkan pengetahuan publik mengenai penyakit psoriasis serta penanganannya, dan meningkatkan profil psoriasis sebagai kondisi yang harus ditangani secara lebih serius oleh berbagai pihak, termasuk lembaga kesehatan dan pembuat kebijakan di tingkat nasional.

Psoriasis adalah penyakit yang disebabkan oleh autoimun yang dapat menimbulkan peradangan kronis yang muncul pada kulit yang biasanya ditandai adanya bercak merah bersisik pada kulit. Hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengirim sinyal yang salah dan mempercepat siklus pertumbuhan sel kulit.

“Psoriasis adalah penyakit kulit yang disebabkan autoimun, bersifat kronik dan residif, yang dapat terjadi pada semua usia, terutama orang dewasa. Biasanya kulit penderita psoriasis mengalami pembelahan lebih cepat yakni 3-5 hari di mana normalnya 28 hari,” ujar Githa Rahmayunita, Staf Divisi Dermatologi Pediatrik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSCM, di acara peringatan ‘World Psoriasis Day’ di Jakarta, pekan lalu.

treating-psoriasis-no-one-size-fits-all-rm-1440x810

Selain karena kekebalan tubuh, faktor genetik juga diduga memicu psoriasis. Sekitar 30 persen dari penderita psoriasis memiliki keluarga dengan riwayat penyakit sama. Orang tua non-psoriasis memiliki faktor risiko sebesar 12 persen, sedangkan orang tua yang terkena psoriasis memiliki faktor risiko 34-39 persen menurunkan penyakit tersebut kepada anak mereka.

“Meski riwayat penyakit sudah diketahui sejak lama, namun penyebab psoriasis sampai saat ini belum diketahui pasti. Pastinya ini bukan penyakit menular,” tambahnya.

Selain itu, faktor-faktor yang dapat mencetuskan psoriasis antara lain seperti stres psikologis, infeksi lokal (umumnya disebabkan bakteri Streptococcus), trauma (fenomena Kobner), endokrin (berpengaruh tinggi pada masa pubertas dan menopause, dan akan membaik pada saat kehamilan), gangguan metabolik (penurunan kadar kalsium dalam darah yang disebut hipokalsemia dan cuci darah), obat, serta alkohol dan rokok.

Githa mengungkapkan, sekitar 50 persen pasien psoriasis juga bisa mengalami fase membaik dari penyakitnya. Misalnya, bercak-bercak merah di kulit menghilang, tetapi sebenarnya tidak hilang sepenuhnya. Setelah itu, psoriasis bisa kambuh kembali tanpa sebab yang jelas.

Untuk mencegah kekambuhan bisa dengan menghindari faktor pencetus psoriasis tadi. Dimulai dengan gaya hidup sehat dan menghindari stres.

“Kurangi kegiatan menggosok badan, seperti lulur atau menggunakan spons mandi. Selain itu, pola makan juga harus diperhatikan. Hindari makan makanan berlemak dan berkadar gula tinggi,” tuturnya.

Ia menjelaskan, meskipun tidak menyebabkan kematian, namun psoriasis sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi penderitanya, mulai dari gangguan tidur, menimbulkan rasa malu, merasa tidak percaya diri, hingga mengalami depresi, bahkan menyulitkan kehidupan bekerja mereka.

Dukungan emosional kepada penderita dan penghilangan stigma negatif merupakan dukungan terpenting bagi peningkatan kepercayaan diri mereka.

“Keluarga pasien psoriasis dapat memberikan bantuan dengan memberikan dukungan pengobatan untuk mengendalikan gejala-gejala psoriasis. Beberapa pilihan pengobatan antara lain agen topikal, analog vitamin D3, steroid, retinoid, terapi foto (PUVA dan sinar UV-B), agen sistemik yang terdiri dari metotreksat, siklosporin, dan agen biologi,” tuturnya.

Sementara itu, Danang Tri Wahyudi, Ketua Psoriasis Nusantara menuturkan, penderita psoriasis harus memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosa dan pemeriksaan klinis yang tepat dengan melihat riwayat penyakitnya.

“Meskipun ada berbagai metode untuk mengukur tingkat keparahan psoriasis, namun cara mudah yang dapat dipahami pasien adalah dengan mengklasifikasikannya berdasarkan area tutupan,” ucapnya.

Ia menambahkan, luasan 1 persen sama dengan ukuran satu telapak tangan orang dewasa. “Klasifikasi ringan apabila tutupan kurang dari 3 persen, sedang apabila tutupan antara 3-10 persen, dan berat apabila menutupi lebih dari 10 persen permukaan tubuh,” ucapnya. san/R-1

treatments-to-soothe-psoriasis-01-rm-1440x810

Kenali Ragam Jenisnya

Dilansir worldpsoriasisday.com, psoriasis diderita sekitar 125 juta orang di seluruh dunia. Prevalensinya bervariasi antara 0,1 – 11,8 persen di berbagai populasi dunia, dan angka terjadinya psoriasis di Asia cenderung rendah (0,4 persen).

Belum ada data yang pasti mengenai jumlah penderita psoriasis di Indonesia. Menurut data Departemen Kulit dan Kelamin FKUI dan RSCM terdapat 71 kasus psoriasis baru pada 2015. Namun mengingat manifestasi klinis penyakit ini, diperkiraan jumlah penderitanya lebih banyak daripada yang dilaporkan.

Berikut ini berbagai tipe Psoriasis berdasarkan bentuk dan luasan sebarannya.

1. Psoriasis Vulgaris

?????????

Vulgaris merupakan tipe psoriasis berupa plak yang paling sering ditemui. Kelainan kulit terdiri dari bercak-bercak merah yang meninggi (plak) dengan sisik di atasnya. Sisik ini berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih seperti mika serta transparan.

Ukuran bercak merah yang muncul bervariasi, mulai dari sebesar biji jagung hingga telapak tangan. Lokasi psoriasis bisa di kulit kepala, siku, dan lutut dengan jumlah hanya satu, bahkan tidak terhitung. Biasanya juga disertai rasa gatal yang ringan. “Bisa muncul di kepala dulu selama bertahun-tahun, kemudian muncul di daerah lain,” kata Githa.

2. Psoriasis Gutata

Bentuknya seperti tetesan berbentuk bulat atau lonjong berdiameter tidak melebihi 1 cm, timbulnya mendadak dan diseminata. Terjadi setelah infeksi Streptococcus mengenai saluran pernapasan bagian atas atau sehabis influenza. Terutama menjangkiti anak dan dewasa muda.

Psoriasis ini bisa muncul di badan, lengan, dan kaki. “Sering kali, namun tidak selalu, tipe ini dipicu infeksi bakteri streptococcus grup A,” jelasnya.

3. Psoriasis Inversa (fleksural)

56f5720b1e00008700705583

Jenis ini biasanya ditemukan bercak merah pada daerah lipatan kulit seperti daerah kemaluan, ketiak, dan leher. Selain bercak merah, bisa juga terlihat seperti berkilat, dan bersisik. Psoriasis tipe ini terkadang tak disadari karena secara fisik tidak terlalu terlihat.

4. Psoriasis Pustulosa

Psoriasis ini berbentuk seperti jerawat atau berupa lenting yang berisi nanah dan terdiri dari 2 sub tipe, yaitu lokalisata dan generalisata.

Lokalisata bersifat kronik dan residif, mengenai telapak tangan atau telapak kaki atau keduanya. Berbentuk kelompok pustul (seperti jerawat), steril dan dalam, disertai rasa gatal.

Sementara itu, Generalista mempunyai gejala seperti nyeri, demam, rasa tidak nyaman, mual dan berkurangnya nafsu makan. Pustul-pustul akan timbul sangat banyak dan lama kelamaan akan menjadi eritroderma.

5. Eritroderma psoriatika

Sebagai jenis psoriaris yang paling berat, lesinya berbentuk khas, berwarna kemerahan dan sisik tebal pada hampir seluruh badan. Ada kalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar.

Pasien biasanya juga akan mengalami demam dan menggigil. Pasien psoriasis jenis ini biasanya membutuhkan perawatan inap di rumah sakit.  san/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment