Jangan Abaikan PSBB | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

Jangan Abaikan PSBB

Jangan Abaikan PSBB

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Video insiden pelanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di cek poin pintu keluar Tol Satelit Surabaya yang beredar di media sosial menjadi pergunjingan banyak orang. Betapa tidak, seorang pria berpakaian gamis sempat bersitegang dengan petugas karena mobil yang ditumpanginya dipaksa putar balik. Menurut aparat kepolisian, pria bergamis penumpang mobil sedan Camry itu ialah Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil, Pengasuh Majelis Roudhotus Salaf, Bangil, Pasuruan. Insiden bermula ketika petugas menghentikan mobil tersebut yang melaju dari arah Malang dan keluar di pintu keluar Tol Satelit Surabaya.

Petugas melakukan pemeriksaan karena plat mobil (nopol) adalah N (Pasuruan), bukan L (Surabaya) dan W (Sidoarjo atau Gresik). Saat diperiksa, sopir tidak menggunakan masker dan kapasitas jumlah penumpang melebihi ketentuan PSBB. Itulah sebab, aparat meminta pengemudi dan pemilik mobil agar berputar balik. Peristiwa di cek poin pintu keluar Tol Satelit Surabaya hanyalah salah satu dari sekian banyak masyarakat yang mengabaikan PSBB. Kita ketahui, hingga sekarang masih ada sebagian masyarakat yang berkerumun melebihi ketentuan PSBB dan tidak mengindahkan protokol kesehatan.

Tersebutlah kerumunan masyarakat di Pasar Tanah Abang Jakarta. Padahal sudah dilarang, namun tetap saja ada yang berdagang dan ada pula yang membelinya. Demikian pula dengan peningkatan kasus Covid-19 di wilayah Kebon Melati, Jakarta Pusat. Hingga Kamis (21/5), pukul 13.30 WIB, tercatat 60 kasus Covid-19 terkonfirmasi berada di Kelurahan Kebon Melati. Dua orang warga Kelurahan Kebon Melati yang sebelumnya termasuk dalam 14 orang dengan hasil rapid test reaktif dalam pemeriksaan massal dipastikan positif Covid-19 setelah tiga hari menunggu hasil swab test.

Bukan saja di Jakarta dan Surabaya, di kota-kota lain juga sama. Hal itu terlihat dari suasana di jalan maupun tempat umum yang menurutnya justru lebih ramai dari sebelumnya. Jauh-jauh hari sebelumnya, pengabaian PSBB juga terjadi. Inilah sebab, kasus Covid-19 di negara kita jadi terus bertambah. Makanya, kita pun bingung sampai kapan wabah Covid-19 berakhir.

Menurut hasil survei Median, tingkat disiplin masyarakat selama PSBB sebesar 51,6–60,3 persen. Hasil temuan didapat setelah Median melakukan penelitian dengan melibatkan 20.658 nomor telepon responden yang dipilih secara acak sebelumnya pada September 2018–Februari 2020. Masyarakat memang belum sepenuhnya disiplin selama masa PSBB. Maka tak aneh jika kedisiplinan masyarakat Indonesia masih berada di bawah masyarakat di negara lain yang telah menerapkan kebijakan serupa dengan PSBB.

Kedisiplinan warga seharusnya tetap dijaga selama PSBB berlangsung. Jika tidak, kita akan terus berhadapan dengan Covid-19. Untuk itu, kita berharap pada pemerintah atau para pejabat untuk terus mengobarkan disiplin PSBB melalui pernyataan yang konsisten. Artinya, apa yang disampaikan tidak menimbulkan penafsiran. Di sinilah pentingnya para pejabat memahami diksi bukan fiksi.

Selain itu, penegakan sanksi PSBB tampaknya mesti tegas, jangan setengah-setengah, apalagi mengabaikan aturan. Di sinilah para aparat terkait berpegang teguh pada aturan PSBB. Jika memang ada masyarakat yang mengabaikan PSBB, mesti diberi sanksi. Lebih dari itu, kita sebagai anggota masyarakat saling bahu-membahu menyuskseskan PSBB. Sebab, tanpa peran aktif masyarakat, PSBB tak ada gunanya.

Kita seharusnya memahami bahwa wabah Covid-19 telah merusak tatanan ekonomi hingga sosial. Jumlah nyawa yang menjadi korban pun terus bertambah. Memang bukan Indonesia saja, namun semua negara juga tak sanggup menghentikan Covid-19. Jadi, marilah kita bersama-sama melawan Covid dengan disiplin menerapkan PSBB.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment