Jakob Oetama Dapat Penghargaan Achmad Bakrie | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments
Tokoh Inspirasional - Indonesia Alami Krisis dalam Sikap Saling Menghargai

Jakob Oetama Dapat Penghargaan Achmad Bakrie

Jakob Oetama Dapat Penghargaan Achmad Bakrie

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Penghargaan Achmad Bakrie diharapkan mampu memotivasi anak-anak bangsa untuk terus berjuang menghasilkan karya-karya terbaik mereka bagi masyarakat.

JAKARTA – Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama men­dapat Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XVII tahun 2019. Penghargaan Achmad Bak­rie merupakan tradisi pen­ganugerahan kepada para to­koh inspirasional yang telah berjasa bagi kehidupan bangsa Indonesia. Selain Jocob, ada tiga tokoh lain yang juga men­dapat penghargaan ini.

“Tokoh-tokoh yang dipi­lih adalah insan-insan terbaik dari berbagai disiplin ilmu pe­ngetahuan, serta mereka yang telah membaktikan hidupnya di bidang kemanusiaan,” kata Ketua Pelaksana PAB XVII, Ardiansyah Bakrie, di Jakarta, Rabu (14/8).

Menurut Ardiansyah, ke­tiga tokoh lain yang mendapat Penghargaan Achmad Bakrie XVII tahun 2019 adalah Ashadi Siregar untuk bidang sastra po­puler, Anawati untuk bidang sains, dan Anna Alisjahbana untuk bidang kedokteran.

Karya Inspiratif

Ardiansyah berharap, aca­ra penghargaan yang sudah masuk tahun ke-17 ini, dapat menghasilkan karya inspiratif yang manfaatnya dapat dirasa­kan oleh masyarakat. Acara ini digelar dalam rangka 74 tahun Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ardiansyah, Ja­kob Oetama dengan kecerdi­kan visionernya membangun jurnalisme kepiting yang me­mungkinkan Kompas bertahan sebagai pilar demokrasi keem­pat di tengah iklim politik yang otoriter sekaligus kelompok usaha yang dinamis di tengah situasi ekonomi yang tak me­nentu.

Jakob yang diwakili Direk­tur Kompas TV, Richard Bagun sangat mengapresiasi acara penghargaan ini. Karena, kata­nya, terdapat makna yang ber­lipat-lipat, lantaran diberikan di tengah krisis penghargaan di Indonesia.

“Bangsa kita sekarang ini mengalami krisis besar dalam sikap saling menghargai. Be­lakangan ini ujaran kebencian dan fitnah lebih besar dari kebajikan. Pencarian sebu­ah makna agar negara ini bisa menjadi lebih kuat, pikirannya lebih terbuka dengan saling menghargai,” kata Richard.

Untuk Ashadi Siregar, tam­bah Ardiansyah, merupakan figur yang mempunyai peran vital dalam perkembangan sastra populer Indonesia se­jak dekade 70-an. Lewat trilogi Cintaku di Kampus Biru (1974), Kugapai Cintamu (1974), dan Terminal Cinta Terakhir (1975), dia berhasil membuka babak baru penulisan novel populer di negeri ini.

Untuk Anawati, tambah Ar­diansyah, sebagai ilmuwan dia rela meninggalkan gemerlap karier dan gemericing mata uang Euro karena melihat kua­litas air minum pedesaan di Sumbawa hampir terkontami­nasi logam berat. Risetnya ten­tang tubular anodic aluminium oxide (AAO) dan gagasannya memanfaatkan teknologi pe­lapis bahan lokal, telah mem­bantu masyarakat Sumbawa.

Sedangkan Anna Alisjah­bana, tambah Ardiansyah, me­nonjol pada dedikasinya mem­perbaiki mutu sumber daya manusia Indonesia dengan membangun berbagai program berskala nasional yang terbukti ampuh. Semua itu untuk me­mastikan keselamatan dan ke­sehatan ibu hamil, bayi, dan anak usia dini.

Penghargaan Achmad Bak­rie merupakan tradisi pen­ganugerahan kepada para to­koh inspirasional yang telah berjasa bagi kehidupan bangsa Indonesia. Selama kurun waktu tujuh belas tahun berturut-turut, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 76 penerima yang terdiri dari 72 individu dan 4 lembaga.

“Tahun 2019 ini adalah tahun ke-17 Yayasan Achmad Bak­rie memberikan Penghargaan Achmad Bakrie kepada anak bangsa yang telah menuang­kan pikirannya dalam meng­hasilkan karya inspiratif yangmanfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Semoga penghar­gaan ini juga mampu memo­tivasi anak-anak bangsa untuk terus berjuang menghasilkan karya-karya terbaik mereka bagi masyarakat.” ujar Ardian­syah Bakrie. n ola/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment