Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Jakarta Memanusiakan Pencari Suaka

Jakarta Memanusiakan Pencari Suaka
A   A   A   Pengaturan Font

Keberadaan ratusan orang selama berhari-hari di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tepatnya di depan Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pen­gungsi (United Nations High Commissioner for Refugeest/ UNHCR), telah menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, mereka hanya bermodalkan tenda kecil dari kain dan kardus agar terhindar sengatan matahari dan hujan. Sedihnya lagi, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan.

Mereka berasal dari Afghanistan, Somalia, Sudan, dan negara lain. Mereka ke Indonesia karena di negaranya ti­dak aman, terutama karena perang. Mereka adalah pen­cari suaka.

Mereka berada di depan Kantor UNHCR agar mendapat­kan status pengungsi. Ini dilakukan karena Indonesia bu­kan negara pemberi suaka atau penampung pengungsi. Mereka berharap bisa diberangkatkan ke negara lain seba­gai negara penerima.

Berdasarkan peraturan internasional, pengungsi ada­lah orang-orang yang sudah resmi memiliki status yang diberikan oleh UNHCR melalui sebuah proses dan per­timbangan. Proses ini disebut prosedur penentuan status pengungsi (Refugee Status Determination/RSD).

Mereka dinyatakan pengungsi, seperti negaranya yang dalam keadaan konflik, jiwanya terancam, bisa an­tarsuku maupun agama. Orang-orang yang sudah sah dinyatakan sebagai pengungsi akan mendapatkan kartu res­mi dari UNHCR.

Sedangkan pencari suaka adalah orang-orang yang be­lum mendapatkan status resmi dari UNHCR tersebut. Para pencari suaka itu datang ke Indonesia mencari perlin­dungan, tetapi belum bisa di­nyatakan pengungsi.

Soalnya kemudian, tidak banyak negara penerima yang langsung menampung. Aki­batnya, para pencari suaka itu terpaksa berada di Indonesia selama jangka waktu tertentu sehingga kehabisan biaya un­tuk hidup.

Lantaran tidak punya hak untuk mencari uang dengan cara bekerja, mereka terpaksa bertahan hidup dengan ber­harap belas kasihan dari orang sekitarnya. Para pencari suaka mau tak mau harus hidup apa adanya.

Para pencari suaka di trotoar Jalan Kebon Sirih, Ja­karta Pusat, hanyalah salah satu fakta dari sekian ribu orang lainnya di sejumlah tempat di Indonesia. Bahkan, di beberapa penampungan lebih parah lagi, para pencari suaka terpaksa harus tinggal berdesak-desakan di ruang kecil yang segala-galanya ter­batas.

Beruntung, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempu­nyai kepedulian kepada para pencari suaka itu. Mereka ke­mudian dipindahkan ke lokasi yang lumayan layak, teruta­ma untuk anak-anak dan perempuan. Lebih dari itu, warga asing itu akan diberikan sedikit perhatian seperti makan dan minum untuk jangka waktu tertentu.

Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperhatikan para pencari suaka berlandaskan pada pendekatan kema­nusian. Artinya, penerapan aturan ketertiban umum hanyalah bagian lain dari misi kemanusian tersebut.

Kita patut mengapreasi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap para pengungsi tanpa kewarganeg­araan itu. Paling tidak, dunia internasional mau tak mau akan mengetahui kebijakan pemerintah daerah mengatasi pencari suaka.

Lebih dari itu, kita merasakan langsung peran pemerintah daerah menanggulangi masalah sosial. Apalagi, ke­bijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak asal gusur, namun melakukan koordinasi terlebih dengan Kementerian Luar Negeri dan UNHCR.

Bahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunggu permintaan dari UNHCR, baru kemudian membantu­nya. Untuk itu, pendekatan kemanusian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mesti terus digelorakan terus agar penataan dan pembangunan Ibu Kota berjalan secara manusiawi.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment