Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Jakarta Masuki Era Transportasi Modern

Jakarta Masuki Era Transportasi Modern

Foto : koran jakarta/M Fachri
A   A   A   Pengaturan Font

Siapa pun yang menjadi warga Jakarta tentu semakin bangga. Betapa tidak, belum lama telah dihadirkan (tiga) jembatan penyeberangan orang (JPO) yang begitu fenomenal, walau belum ketiga-tiganya sempurna. Penampilan JPO yang sudah jadi seperti di Jl Jenderal Sudirman, persisnya, di Gelora Bung Karno dan Bundaran Senayan, sungguh mendecakkan, membuat terkagum-kagum masyarakat.

Tak heran, setiap pejalan kaki yang menyeberang JPO tersebut menyempatkan diri ber-selfie atau beramai-ramai ber-wefie. Ini mungkin JPO terindah di dunia. Apalagi kalau malam hari, terpaan lampu warna-warni semakin menambah keanggunan dan kemewahan JPO-JPO itu. JPO-JPO tersebut telah membuat Kota Jakarta sangat membanggakan.

Namun, kini ada yang jauh lebih membanggakan dari JPO-JPO tadi, yaitu kehadiran Moda Raya Terpadu (MRT). Mengapa demikian? Sebab dengan kehadiran MRT, Jakarta memasuki era transportasi modern. Indonesia mulai menyejajarkan diri dengan negara-negara maju di Eropa atau Amerika yang banyak menggunakan MRT, atau setidaknya setara dengan tetangga Singapura atau Malaysia yang telah lebih dulu memilikinya. Jakarta kini tak beda jauh dengan kota-kota modern seperti Tokyo dengan Subway atau Paris lewat Metro-nya.

Impian memiliki kereta bawah tanah (walau tak sepenuhnya) telah lama. Dimulai ketika tahun 1985 sebagaimana terbaca dalam jurnal “Jakarta Mass Rapid Transit Project” karya Wimpy Santosa dan Tri Basuki dari Universitas Parahyangan. Ketika itu, Habibie saat memimpin BPPT menerawang jauh, kota-kota penyangga Jakarta berkembang sangat pesat. Penduduknya lebih banyak bekerja di Jakarta. Mereka tak akan terangkut dengan angkutan biasa dengan panjang jalan 6.300 kilometer. Untuk itu, diperlukan transportasi massal yang bisa mengangkut sebanyak mungkin penumpang sekali jalan. Itulah MRT!

Keputusan itu diambil Presiden Soeharto pada 1996, tapi dengan rute Blok M-Stasiun Jakarta Kota, yang kini akhirnya dilayani Transjakarta. Sedangkan MRT sekarang (tahap I) dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Ide MRT mandek karena negara dilanda krisis 1997–1998 dan Soeharto tumbang. Setahun kemudian, pemerintah sempat mau melanjutkan mewujudkan mimpi memiliki MRT dibantu studi kelayakan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Kala itu, JICA menawarkan fase pertama pembangunan MRT sepanjang 15,5 km dengan 13 stasiun dari Fatmawati hingga Monas.

Di era Presiden SBY, pemerintah mulai serius menggarap MRT pada 2005. Pemerintah pusat dan Provinsi DKI Jakarta bergerak, tetap menggandeng Jepang sebagai sumber pinjaman dana (Japan Bank for International Cooperation). Provinsi DKI lalu membentuk PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) pada 17 Juni 2008, meski menghadapi berbagai kendala.

Namun, di bawah Gubernur DKI Joko Widodo, proyek ini mampu mengatasi berbagai kendala seperti waktu kembalinya investasi, intensitas penumpang, dan skema kredit yang bersyarat ketat. Berbagai masalah tak mengendorkan semangat mewujudkan mimpi memiliki MRT. Sebab ini impian seluruh bangsa, bukan hanya impian gubernur DKI atau Presiden RI. Akhirnya, Gubernur DKI Joko Widodo meletakkan batu pertama konstruksi jalur MRT pada Oktober 2013. Tak sampai enam tahun, mimpi 34 tahun itu, kini terwujud. Masyarakat benar-benar sudah bisa merasakan MRT milik Jakarta, milik Indonesia, milik rakyat Indonesia. Tanpa keseriusan dan keberanian menerjang berbagai kendala, kita tak kan memiliki MRT.

Semoga biaya 16 triliun rupiah untuk MRT fase pertama ini bisa mengatasi biaya kemacetan Jakarta yang mencapai 26 triliun setahun. Artinya kemacetan terurai. Kebanggaan telah tiba. Kini tinggal menghargai kehadiran MRT dengan memanfaatkannya. Caranya, tinggalkan model lama ke kantor. Jangan lagi naik mobil. Mari naik MRT. Yok tinggalkan cara lama, sambut cara baru ke kantor! 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment