Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Jakarta Butuh Hunian Berbasis Transportasi

Jakarta Butuh Hunian Berbasis Transportasi

Foto : Koran Jakarta/Wahyu AP
Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti Amrozi Hamidi (dua kanan) bersama jajaran direksi disela ground breaking LRT City Urban Signature, Jakarta, Minggu (2/12).
A   A   A   Pengaturan Font

Hunian yang terintegrasi dan berbasis Transit- oriented Development (TOD) adalah pendekatan perencanaan yang gencar diadopsi pengembang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2015 mencapai 10,18 juta jiwa. Kemudian meningkat menjadi 10,28 juta jiwa pada 2016. Lalu bertambah lagi menjadi 10,37 juta jiwa pada 2017.

Jumlah penduduk tersebut, masih bertambah setiap harinya. Pertambahan terjadi karena keberadaan warga kawasan sisi luar Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang, yang tinggal di kawasan luar tersebut, namun memiliki pekerjaan di Jakarta. Melansir data Biro Pusat Statistik DKI Jakarta di tahun 2016, kendaraan yang berada di Jakarta mencapai 18 juta unit.

Dengan total panjang jalan di DKI Jakarta yang mencapai sekitar 7000 km, dampak langsung yang terjadi adalah terjadinya kemacetan yang terjadi hampir setiap hari. Kerugian akibat kemacetan ini, diperkirakan mencapai 6 triliun rupiah setiap tahunnya. Pemerintah dengan langkah strategisnya, yaitu membangun sistem transportasi massal, baik itu MRT, LRT maupun BRT, diharapkan akan menjadi solusi jangka panjang atas problem kemacetan tersebut.

Pengamat Properti David Cornelis mengatakan, pertumbuhan penduduk yang cepat telah meningkatkan mobilitas orang, yang mengarah ke lalu lintas kemacetan. Transitoriented development (TOD) adalah pendekatan perencanaan yang sedang diadopsi banyak kota karena menguntungkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan mengembangkan stasiun transit massal.

Pengembangan TOD ke depannya, kata David, mengintensifkan rasio luas lantai, menambahkan ruang hijau, dan meningkatkan desain yang berorientasi pada transit dan pejalan kaki. Pola distribusi TOD di wilayah-wilayah kota satelit memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat perkembangan perkotaan dan ekonomi daerah. “Pembangunan dan perencanaan TOD harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena akan tidak secara otomatis mengikuti ketika transportasi umum massal dibangun,” kata David.

Peluang mengembangkan kawasan properti berbasis TOD, antara lain, kini dibidik oleh PT Adhi Commuter Properti, yang merupakan anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Anak usaha ADHI ini, saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek dengan konsep Transit Oriented Development yang berlokasi menyatu dengan stasiun LRT Jabodebek. Amrozi Hamidi, Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti mengatakan, pihaknya mengembangkan hunian berbasis TOD, tentu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal.

“Kami yakin, ke depan, hunian berbasis transportasi seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat. Berkaca pada Negara-negara lain, hunian seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat kaum sub-urban, karena selain praktis, hunian seperti ini terintegrasi dengan sistem transportasi massal, yang tentu memberikan kemudahan mobilitas bagi penghuninya.,” papar Amrozi.

Dia menambahkan, salah satu proyek berbasis TOD yang dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti adalah LRT City Urban Signature, yang berada disisi stasiun LRT Ciracas Jakarta Timur. Kawasan yang dikembangkan di lahan seluas 6,2 Ha ini, mengadopsi prinsip dasar pengembangan TOD, yaitu ; Walkable, dimana area yang dikembangkan mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Lalau, Shift & Transit, yaitu penghuni dapat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi, dan beralih menggunakan transportasi umum massal. Connect, dimana kawasan ini dikembangkan dengan menciptakan jaringan jalan yang saling terhubung. Kemudian Densify, yaitu pengoptimalan kepadatan lahan dengan perencanaan bangunan vertikal, serta Mixed-use Development, untuk mengoptimalisasi tata guna lahan.

Sementara itu, Indra Syahruzza, Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran ACP mengatakan, LRT City Cicaras - Urban Signature, merupakan area Mixed-use yang dikembangkan dalam Kerjasama Operasi antara PT Adhi Commuter Properti dengan PT Urban Jakarta Propertindo.

Proyek ini yang bernilai investasi 2,6 triliun rupiah ini adalah kawasan yang berisi hunian, komersial dan fasilitas pendukung ini, dikembangkan di lahan yang berada berada di sisi stasiun LRT Ciracas. Sedangkan, Taufiq Hardiyansyah, Project Director LRT City Ciracas - Urban Signature mengatakan, kawasan ini dikembangkan dengan konsep TOD, yang mengoptimalkan penggunaan angkutan massal, dalam hal ini adalah LRT, serta mengutamakan jalur pejalan kaki dan sepeda. “Dikembangkan dengan tema “Urban Life Style”. Kawasan ini dikembangan sesuai dengan gaya hidup kaum urban, yaitu Modern, serba cepat, dinamis dan kreatif,” terang Taufiq.

Kawasan LRT City Cicaras - Urban Signature, akan dikembangan dengan konsep Urban Oasis, dimana kawasan ini akan menjadi oasis yang meyegarkan ditengah hiruk pikuk dan padatnya Ibu Kota Jakarta. Salah satu penerapan konsep tersebut, adalah adanya “Green Belt” di antara tower-tower apartemen.

Dengan luas lahan 312,4 sqm, green belt ini akan menjadi public outdoor activity. Selain terdapatnya Green Belt area, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan komersial area, pool dan roof garden, sarana ibadah, event space, plaza, halte, dan tentu saja stasiun LRT. Di lahan seluas 6,2 Ha, LRT City Ciracas - Urban Signature akan mengembangkan 5 tower apartemen.

Pada tahap pertama pembangunan kawasan, akan dikembangkan 2 tower yaitu Tower Azure dengan total unit sebanyak 1087 unit dan Tower Beige dengan total unit sebanyak 543 unit. Kedua tower ini melakukan ground breaking pada 2 Desember 2018.

Selanjutnya Taufiq Hardiyansyah mengatakan, “Proyek yang kami kembangkan ini, telah mendapatkan respon positif dari masyarakat. Sejak proyek ini kami luncurkan, sampai dengan saat ini sudah terjual 49 persen dan kami optimis untuk 2 tower ini, akan sold out di tahun 2019. Dalam kurun waktu satu tahun dari harga perdana hingga saat ini telah mengalami kenaikan lebih dari 25 persen.”

Sesuai dengan perencanaan yang ada, tower Azure dan Tower Beige ini, akan topping off pada bulan Desember Tahun 2019, dan selanjutnya bisa diserahterimakan kepada pembeli pada Maret 2021. Taufiq Hardiyansyah menambahkan, sejalan dengan akan beroperasinya LRT Jabodebek tahun 2019, pihaknya optimis proyek ini akan diserap masyarakat. “Dengan lokasi yang sangat strategis, hanya membutuhkan waktu singkat menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan LRT, tentu ini akan menjadi pilihan bagi kaum sub urban, yang berkerja di Jakarta,” katanya.

PT Adhi Commuter Properti (ACP) merupakan anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk., yang bergerak dalam bisnis developer properti, yang sebelumnya adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Departemen TOD dan Hotel, yang dibentuk pada tahun 2016. ACP saat ini memiliki proyek-proyek properti yang berada di kawasan yang berbasis transportasi, yang dikenal dengan LRT City. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment