Koran Jakarta | August 20 2019
No Comments
suara daerah

Jadikan Banggai sebagai Tujuan Wisata Internasional

Jadikan Banggai sebagai Tujuan Wisata Internasional

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Banggai yang memiliki luas wilayah daratan sekitar 9.672,70 Km² atau sekitar 14,22 % dari luas Provinsi Sulawesi Tengah. Luas lautnya sekitar 20.309,68 Km² dengan garis pantai sepan­jang 613,25 km. Secara adminis­tratif Kabupaten Banggai terbagi atas 23 kecamatan, 291 desa serta 46 kelurahan.

Wilayah Kabupaten Bang­gai yang berbatasan dengan Teluk Tomini di sisi utara ini menyimpang banyak potensi wisata. Selama dua hari pada Desember 2018, Koran Jakarta berkesempatan mengunjungi Kota Luwuk, ibukota Kabupaten Banggai. Koran Jakarta datang ke Banggai, untuk meliput ke­giatan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang hendak menutup puncak acara per­ingatan Hari Nusantara yang jatuh pada tanggal 13 Desember.

Untuk mengetahui aneka potensi yang ada di wilayah ini, khususnya sektor pari­wisata serta pengembangan kepariwisataannya ke depan, wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna, berkesempatan mewawancarai Bupati Bang­gai, Herwin Yatim, di Luwuk, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa saja potensi Banggai yang bisa dikembangkan un­tuk sejahterakan rakyat?

Kami punya banyak potensi. Pertama, pertanian. Potensi per­tanian di Banggai berupa padi ladang, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kelapa dalam, kelapa sawit, kakao, dan lain-lain. Potensi ini tersebar di seluruh wilayah Banggai. Kami ingin mewujudkan swasembada pa­ngan yang berkelanjutan.

Potensi lain adalah peter­nakan, khususnya sapi dan kambing. Ternak sapi tercatat ada 79.740 ekor dan kambing 94.879 ekor. Lalu potensi per­ikanan, luas laut kami ini sekitar 20.309,68 km². Potensi perikan­an kami meliputi ikan palagis, ikan demersal, budidaya udang windu, udang vanamei, budi­daya ikan kerapu, rumput laut, dan mutiara. Ya ada sekitar 377 jenis ikan di Pantai Kilo 5 Luwuk Banggai.

Kalau potensi tambang apa saja?

Oh ada. Di kami ada LNG Donggi Senoro, ada pabrik amoniak.

Untuk potensi pariwisata bagaimana?

Kami banyak potensi pariwisata. Contohnya, kami punya Air Terjun Lauma­rang Luwuk Banggai, Air Terjun Piala Luwuk, Air Terjun Salodik Luwuk, Bukit Teletabis Keles, Pulau Dua Balantak, Pulau Tinalapu, Pantai Kilo 5, dan lain-lain. Bahkan di Pulau Dua, ada tempat snorkeling dan diving yang tidak kalah indah dari Bunaken.

Pariwisata merupakan sektor yang penting bagi pertumbuh­an ekonomi lokal. Saya ingin, masyarakat Indonesia, bahkan dunia melirik keindahan alam yang dimiliki Banggai. Banggai bisa dijadikan salah satu pusat wisata andalan Indonesia yang berlevel internasional.

Potensi lain yang bisa mendunia apa?

Banggai juga memiliki batik sebagai salah satu ciri khasnya. Batik tenun nambo nama­nya khas Kabupaten Banggai yang semakin mendunia. Pada Februari nanti, batik nambo akan tampil di New York Fash­ion Week, Amerika Serikat. Ini kebanggaan bagi kami.

Kalau dari sarana pra­sarana pendukung pari­wisata bagaimana?

Di Kabupaten Banggai sudah banyak dibangun hotel dan penginapan. Banyak investor perhotelan yang tertarik mem­bangun hotel di Banggai. Ma­kanya waktu Banggai ditawari jadi tuan rumah peringatan Hari Nusantara, kami berani men­erimanya. Padahal waktu yang diberikan mempersiapkan itu sangat pendek. Tapi Alhamdulil­lah, acara berlangsung sukses.

Akses transportasi bagai­mana?

Kami punya Bandara Syukuran Aminuddin Amir yang terletak di Desa Bubung, Kecamatan Luwuk. Ada bebe­rapa rute penerbangan yang dilayani lewat bandara ini yakni dari Luwuk ke Makassar, Luwuk ke Jakarta via Makassar, lalu Luwuk ke Surabaya via Makas­sar, Luwuk ke Palu, Luwuk ke Gorontalo, Luwuk ke Manado, Luwuk ke Ampana, dan Luwuk ke Lombok via Makassar.

Tersedia juga sarana trans­portasi laut. Dari Luwuk bisa ke Surabaya, Kendari, Goronta­lo, Manado, Salakan, Pulau Banggai, dan ke Taliabo. Transportasi darat juga bisa ke Makassar atau Palu. Jalan yang ada sudah bagus.

Kalau pertum­buhan ekonomi di Banggai bagaimana?

Pertumbuhan ekonomi di Banggai, pada tahun 2016 yaitu 38,6 persen, tertinggi di Indonesia. Tapi seka­rang melambat. Soal pengen­tasan kemiskinan, dari tahun 2011 sampai 2017, kami berhasil menekan penduduk miskin sebanyak 3.700 jiwa. Tingkat pengangguran terbuka juga me­nurun jadi 2,94 persen.

Ada banyak torehan pres­tasi dan sederet penghargaan yang diterima. Apa saja itu?

Tahun 2018, kami da­pat penghargaan Innovative Government Award (IGA). Penghargaan IGA Award ini diberikan karena kami berhasil menurunkan tingkat stunting dalam waktu dua tahun, dari yang tadinya 39% menjadi hanya 2,9% saja. Tentu ini jadi kebanggaan, sebab masalah stunting tak hanya jadi perhati­an nasional, namun juga inter­nasional. Kami diundang mem­berikan presentasi di Stunting Summit 2018 pada Maret lalu.

Penghargaan lain dari Ke­menterian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di bidang infrastruktur. Kami dinilai terbaik dalam pelaksana­an Dana Alokasi Khusus (DAK) Infrastruktur PUPR Tahun Ang­garan 2018. Tahun 2018, kami juga meraih penghargaan nasio­nal Procurement Award 2018.

Kabupaten Banggai sela­ma lima tahun berturut-turut meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK. Pada bulan Agustus 2018, saya sebagai Bupati Banggai mene­rima secara langsung penghar­gaan Adipura yang diserahkan dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta.

N-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment