Koran Jakarta | June 26 2019
No Comments
WAWANCARA

Ira Puspadewi

Ira Puspadewi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Tantangan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) ke depan tidak ringan. Dibutuhkan kerja keras semua jajaran untuk dapat mewujudkan visinya, menjadi perusahaan jasa pelabuhan dan penyeberangan yang terbaik dan terbesar di tingkat regional, serta mampu memberikan nilai tambah bagi stakeholders.

Untuk mewujudkannya, manajemen PT ASDP menyediakan prasarana pelabuhan dan sarana kapal penyeberangan yang tangguh sebagai pendukung dalam sistem logistik nasional. Perusahaan berusaha memiliki standar pelayanan internasional yang didukung oleh tenaga profesional dan manajemen bisnis modern serta tata kelola perusahaan yang baik.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilakukan jajaran direksi dalam meningkatkan kinerja perusahaan, wartawan Koran Jakarta, Muhammad Zaki Alatas, berkesempatan mewawancarai Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Ira Puspadewi, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Berikut petikan selengkapnya.

Bisa diceritakan tentang awal perjalanan karier Anda?

Saya sudah cukup lama bekerja di berbagai perusahaan, di antara perusahaan multinasional, tepatnya di GAP Inc. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terkemuka dan terbesar di Amerika Serikat (AS) di sektor industri pakaian. Saya berada di perusahaan ini selama 17 tahun, sebagai direktur yang membawahi tujuh negara di wilayah Asia.

Bagaimana awal Anda bergabung dengan BUMN?

Saya ketemu Menteri BUMN waktu itu, Dahlan Iskan, dalam suatu acara di Tiongkok. Saya ditanyain, sudah berapa lama kerja di perusahaan AS. Saya jawab 17 tahun. Kemudian ditanya lagi, sampai kapan mau mengabdi sama orang AS. Bagi saya itu pertanyaan berat. Saya lama berpikir hingga akhirnya mengambil keputusan. Lalu saya jawab, dengan ikut tes, melalui fit and proper test. Hingga akhirnya saya gabung tepatnya di Juli 2014.

Bagaimana rasanya waktu ikut tes, dan penempatan pertamanya di BUMN mana?

Ada tes-tes yang harus saya lewati. Ada psikotes, kemudian wawancara. Dan itu ribet, layaknya tes masuk perguruan tinggi. Kemudian enam bulan lebih, sejak ngobrol itu, saya masuk di Sarinah. Ritel BUMN. Itu tahun 2014, jadi Dirut Sarinah.

Bagaimana rasanya mengalami perpindahan yang drastis dari perusahaan asing ke BUMN?

Rasanya sangat berbeda. Berat, karena budaya dan cara kerjanya berbeda. Yang paling terasa kalau di perusahaan multinasional itu saya bisa gerak lebih cepat karena aturannya itu terkondisikan dengan baik. Kalau di BUMN, tahu sendiri kan. Banyak sekali aturan yang harus diikuti dan itu sangat panjang. Sementara kita, harus menjadi perusahaan yang setidaknya harus selalu lebih baik. Nah, mengombinasikannya itu, challenging bagi saya.

Butuh waktu berapa lama sebelum akhirnya bisa adaptasi dengan baik?

Yang pertama, kami datang di suatu tempat, industrinya apa saja itu kalau kita berada di posisi top management dengan segera harus mendiagnosa apa yang paling penting dan mendesak dilakukan. Meski itu kami sudah punya visi ke depan seperti apa dan bagaimana. Di Sarinah, saya lihat fundamentalnya segera dibenahi. Itu salah satunya adalah banyak aset Sarinah tidak memiliki sertifikat.

Yang paling krusial adalah Gedung Sarinah Thamrin. Kalau ditanya lahan mana di Indonesia yang lebih mahal dari lokasi Thamrin–Sudirman seperti Sarinah? Tapi itu tak bersertifikat. Bayangkan. Itu yang pertama dan fundamental yang saya benahi membuatkan sertifikat seluas 1,7 hektare waktu itu dengan lahan dan aset senilai 1,3 triliun rupiah.

Di Sarinah Anda memimpin pegawai berapa orang?

Memimpin pegawai waktu itu sekitar 600 orang plus outsource mungkin sekitar 1.000–1.200. Selanjutnya, saya ke PT Pos Indonesia, setelah dua tahun berada di Sarinah. Di PT Pos Indonesia, saya menjadi Direktur SDM dan Jaringan Ritel selama 1,4 tahun.

Tantangan di PT Pos tentu lebih berat lagi, bagaimana itu?

Iya benar, dengan jumlah karyawannya yang hampir mencapai 30.000 orang, itu lebih kompleks. Tapi hal konkret yang saya lakukan di PT Pos adalah bagaimana mentransformasi SDM dari tradisi moda paket surat menjadi serbadigital. Tantangan itu masih jalan sampai sekarang di PT Pos Indonesia.

Saat Anda di PT ASDP, apa perbedaan dan tantangannya?

Kurang lebih saya sudah setahun di ASDP. Banyak yang tanya, bagaimana rasanya pindah dari usaha PT Pos ke PT ASDP yang lebih mengutamakan layanan. Banyak yang melihat kontras. Saya yang dari ritail ke PT Pos kemudian ke perusahaan transportasi.

Saya melihatnya sederhana saja dan menarik. Ritel itu salah satu hal yang paling kritis adalah melayani banyak tokonya atau tenant. Distributor kami dulu ada sekitar 3.000 toko. Distribusi channel menjadi penting. Jadi, saya masih melihat ada bayanganlah soal logistik.

Perubahan apa yang diterapkan di PT ASDP?

Sejak awal gabung di ASDP, saya sudah bertekad mau berbenah. Tidak hanya memindahkan orang dari satu titik ke titik yang lain. Namun, tantangannya bagaimana memindahkan orang dengan pengalaman yang menyenangkan. Kalau di ritel itu, sangat customer fokus. Ketika ASDP kemarin, 45 tahun bagus dalam hal operasional menyeberangkan orang.

Nah, yang kami pikirkan sekarang adalah leisure atau rasanya, atau bagaimana pengalaman konsumen itu kami desain seberkesan mungkin. Saya kira saya punya pengalaman dengan ilmu customer fokus yang pernah saya hadapi sewaktu diperusahaan multi-internasional.

Apa yang membuat Anda optimistis pembenahan itu bisa berjalan?

Saya percaya pembangunan infrastruktur yang massif akan mengubah perilaku orang pada saatnya nanti. Anda lihat Singapura. Singapura tahun 1970-an, belum ada apa-apa di sana. Masih ditemukan kandang ayam dan babi, saat itu masih seperti lingkungan kampung.

Sekarang sudah sangat jauh berbeda karena infrasruktur, dan itu diikuti perubahan perilaku masyarakatnya. Saya percaya bahwa membangun infrastruktur itu adalah gerbang besar dari perjalanan Indonesia.

Indikasi pembenahan itu sudah terlihat?

Iya, dan itu perlahan tapi pasti. Tahun lalu, penumpang naik untuk roda empat, 49,7 persen Desember 2018. Biasanya di bawah sepuluh persen naiknya. Datanya memang masih sedikit untuk disimpulkan. Namun hemat saya, kegairahan orang Indonesia menggunakan darat dengan trans Jawanya dan nanti akan ada Trans Sumatera Palembang-Indralaya setelah Bakauheni-Terbanggi besar.

Bagaimama dengan target tahun ini?

Iya, syukur Alhamdulillah, selama tahun 2018 kami telah sukses melayani 7,1 juta penumpang, 6,46 juta kendaraan, dan 882 ribu ton barang yang dilayani oleh 151 unit kapal di 35 pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2019, ASDP membidik dapat melayani 8,6 juta penumpang, 6,84 juta kendaraan dan 1,14 juta ton barang.

Bagaimana capaian produksi penyeberangan selama tahun 2018?

Pada 2018 menunjukkan performansi yang positif. Dengan melihat tren kenaikan penumpang dan kendaraan, dapat diartikan bahwa layanan kapal ferry masih menjadi alternatif transportasi penumpang dan logistik yang diminati pengguna jasa.

Saya mengapresiasi seluruh jajaran karyawan yang berada di kantor pusat maupun cabang dalam mendukung kinerja layanan angkutan penyeberangan, khususnya yang berada di 29 cabang dan 35 pelabuhan yang dikelola ASDP.

Apa capaian kinerja yang membanggakan di tahun lalu?

Di tahun 2018 menjadi milestone bagi ASDP terkait implementasi cashless berupa kartu elektronik dari 4 bank BUMN, sebagai pengganti transaksi tunai di Merak, Bakauheni, Ketapang, dan Gilimanuk. Di Desember 2018, diresmikan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kampung Ujung, Labuan Bajo yang telah rampung dibangun ASDP. TPI ini semakan modern, aman, nyaman, dan tertib yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat setempat serta menjadi destinasi kuliner Labuan Bajo.

Lalu, rencana kerja tahun ini?

Di awal 2019, ASDP akan melakukan percepatan dalam mencapai visi perusahaan untuk menjadi terdepan dalam jasa pelabuhan dan angkutan penyeberangan di Tanah Air. ASDP tidak hanya mendorong konektivitas antarpulau, tetapi juga memperkuat sektor logistik, serta mampu mendorong pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.

Bentuknya seperti apa?

Salah satu yang akan menjadi fokus percepatan ialah pengembangan Terminal Eksekutif Merak dan Bakauheni untuk beroperasi secara penuh, termasuk tenant retail, sehingga dapat menjadi fasilitas dan destinasi yang menjadi pilihan pengguna jasa penyeberangan. Pada angkutan Natal dan Tahun Baru lalu, ASDP telah sukses melakukan uji coba operasional.

Selain itu, proyek Labuan Bajo Marina juga akan dikebut. ASDP menargetkan dapat segera merampungkan dan mengoperasionalkan area komersial pada Maret, diikuti hotel pada Juni, dan proyek Marina pada September.

Target yang lain?

Tahun ini kami menargetkan dapat menambah kapal sembilan unit, dan peningkatan load factor 53 persen serta market share 15 persen di lintasan komersial. Tidak lupa dalam mendukung digitalisasi tiket, kami akan memperluas penjualan tiket melalui channel distribusi online sehingga pengguna jasa akan semakin dimudahkan dalam pembelian tiket ferry.

Beralih ke topik lain, infonya Anda mengidolakan Margaret Thatcher?

Ha... ha... ha..., Iya benar. Jadi begini, waktu kecil itu saya pernah bikin esai tentang Margaret Thatcher. Menurut saya, dia inspiratif sekali karena dia kuat sekali mengomandoi perebutan Pulau Malvinas dari Argentina waktu itu.

Pelajaran apa yang Anda dapat dari seorang Margaret Thatcher?

Di satu sisi, dia Perdana Menteri, di sisi lain dia adalah seorang Ibu yang sangat tegar dan kuat. Thatcher bisa memerankan posisi yang sukses baik sebagai PM maupun sebagai Ibu bagi anak-anaknya. Dari seorang tokoh sekaliber Thatcher, saya belajar bahwa memimpin itu harus berdasarkan situasi. Kapan memimpin sebagai seorang Dirut, dan kapan memimpin atau berperan sebagai ibu rumah tangga.

Bagaimana dengan faktor keluarga Anda?

Alhamdulillah, saya bersyukur memiliki keluarga yang setiap saat memberikan support dan semangat. Tapi jangan juga karena saking semangatnya, keluarga dilupakan. Jika waktu senggang tiba, saya dan keluarga kadang menghabiskan waktu berjalan-jalan ke mal atau sekadar travelling. Bahkan berkumpul di rumah sekalipun, tidak masalah bagi kami, selama bisa menyempatkan waktu bersama keluarga.

Apa pesan Anda terhadap wanita yang tengah merintis kariernya?

Saya berpesan kepada perempuan-perempuan muda yang punya visi besar sebagai calon pemimpin ke depan. Menjadi perempuan merupakan kodrat yang berarti suatu saat melahirkan dan merawat anak. Tapi jangan lemah pada kodrat itu. Cita-cita dan visi harus juga dirawat. Bagaimanapun pendukung utama adalah keluarga karena itu carilah pendamping yang tepat. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment