Investigasi Tuntas Pertamina | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments
Pencemaran Minyak I Penggantian Nelayan Tak Sebanding Dampak Kerusakan Lingkungan

Investigasi Tuntas Pertamina

Investigasi Tuntas Pertamina

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pemerintah diminta membentuk tim dari berbagai kalangan untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap PHE ONWJ atas pencemaran lingkungan di pesisir Pantai Kerawang.

JAKARTA – Sejumlah peng­giat lingkungan serta akademi­si mendesak pemerintah untuk melakukan investigasi menye­luruh terhadap PT Pertamina (Persero) khususnya PT Perta­mina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) atas dugaan keteledoranya da­lam melakukan eksploitasi di Blok ONWJ. Tumpahan minyak yang dikeluarkan dari Anjun­gan YYA Blok ONWJ sudah mencemari lingkungan dan berdampak buruk terhadap para nelayan.

“Kiara minta untuk diinves­tigasi menyeluruh melibatkan antar instansi, LSM, peme­rintah pusat dan daerah, aka­demisi, untuk melihat secara utuh sebenarnya persoalan. Hal ini semata untuk menghin­dari persoalan serupa di masa mendatang,” tegas Susan Hera­wati, Sekjen Koalisi Rakyat un­tuk Keadilan Perikanan (Kiara), di Jakarta, Rabu (14/8).

Susan mengaku penasaran terhadap sikap PT Pertamina (Persero) terkesan menutup-tutupi masalah kecelakaan semburan migas tersebut. Ka­rena itu, Kiara mendesak agar dibuka log book-nya, untuk mengetahui proses sebelum dan saat semburan serta pen­angannya pasca kejadian se­perti apa. “Apa saja mitigasi yang telah dilakukan, dan ba­gaimana SOP (standard ope­rating procedure) dijalankan?” tuturnya.

Penggiat lingkungan ini me­nilai apa yang telah dilakukan PHE ONWJ di lapangan tidak terlalu significant mengurangi besaran tumpahan minyak. “Kami ini melihat di lapangan, beberapa upaya yang dilakukan tidak meminimalisir semburan, malah terus bertambah hingga 4.000 barel. Kiara minta semua data dipublikasi,” tukasnya.

Sementara itu, Pengamat Kelautan dari Institut Teknolo­gi Sepuluh November Surabaya (ITS), Saut Gurning, mendu­kung terhadap investigasi me­nyeluruh terhadap PHE ONWJ sebagai pemilik Anjungan ter­sebut. Hal tersebut dibutuhkan untuk menghindari kejadian yang sama dimasa mendatang. “Saya kira investigasi sudah niscaya dibutuhkan, paling ti­dak menjadi pembelajaran di masa mendatang menghindari kejadian serupa bagi industri migas nasional,” paparnya.

Bentuk penanganan tumpa­han minyak di laut, menurut Saut Gurning, diselesaikan de­ngan tahapan awal terhadap wastes cleaning process. Ta­hapan ini bisa dilakukan sete­lah atau sesudah proses peng­gantian kerugian dilakukan. “ Ini tergantung hasil investi­gasi otoritas pemerintah. Uta­manya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, KLHK, pemerintah dae­rah dan Kepolisian,” katanya.

Tidak Sebanding

Menurut Dwi Sawung, Ma­najer Kampanye Urban dan Energi Eksekutif Nasional Walhi, apa yang telah diberi­kan PT Pertamina (Persero) terhadap nelayan tidak seban­ding dengan kerugian yang di­deritanya. Dengan melibatkan nelayan terdampak untuk membersihkan pencemaran minyak di pesisir pantainya sendiri, tidaklah cukup me­ngompensasi seberapa besar kerusakan lingkungan yang dialaminya.

“Bukan menilai nelayan diuntungkan, jangan menga­caukan pikiran. Orang normal kan tidak mau kena bencana. Ini risiko dan kerugian tidak sebanding dengan uang yang didapat nelayan itu,” tegasnya. suh/E-12

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment