Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - Indonesia Masih Rentan terhadap Sentimen Eksternal

Investasi Seret, Pertumbuhan Stagnan

Investasi Seret, Pertumbuhan Stagnan

Foto : Sumber: BPS, Kemenkeu – Litbang KJ/and - * Proyeksi
A   A   A   Pengaturan Font
Selama masih mengandalkan konsumsi dan ekspor berupa komoditas mentah maka ekonomi Indonesia sulit tumbuh tinggi.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan memperki­rakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan belum mampu beranjak dari stagnasi per­tumbuhan lima persen yang sudah berlangsung sejak 2013. Selain faktor eksternal seperti dampak perang dagang dan era bunga tinggi, pertumbu­han juga terhambat akibat seretnya laju investasi.

Direktur Eksekutif indef, Enny Sri Hartati, mengatakan pertumbuhan ekonomi 2019 masih sulit untuk melampaui angka lima persen. Hal ini terutama disebabkan seretnya aliran investa­si yang masuk sehingga tidak ada akselerasi.

Padahal, lanjut dia, apabila Indonesia mampu menggenjot investasi, hal ini bukan hanya bisa mengantisipasi dampak perang da­gang, tapi juga mendorong pertumbuhan eko­nomi tinggi. Sayangnya, meski minat investor sebenarnya lebih besar untuk menanamkan modalnya ke Indonesia, tapi faktanya banyak yang mengalir ke negara tetangga.

“Jadi sebenarnya, kendala kenapa kita stag­nan lima persen bukan di luar, tapi di dalam negeri. Sehingga investasi itu sekarang seperti air, mencari jalannya sendiri. Artinya, mencari risiko yang lebih rendah. Salah satunya di Asia, termasuk Indonesia. Tapi di Indonesia mampet semua. Nggak mengalir,” ungkap dia, di Jakarta, Minggu (9/12).

Sebelumnya, analis juga memperkirakan arus investasi pada tahun depan hanya tum­buh sekitar empat persen. Hal itu disebabkan pengetatan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akhirnya harus diserap oleh perbank­an dengan kenaikan suku bunga simpanan.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan hanya akan mencapai 4,9 persen, lebih rendah dibandingkan dengan asumsi pemerintah sebesar 5,3 persen. Per­lambatan pertumbuhan itu antara lain akibat depresiasi rupiah yang dipicu penguatan dollar AS, menyusul tren kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS. Selain itu, konsumsi dalam negeri yang selama ini menjadi motor pertumbuhan, diprediksi hanya akan tumbuh 4,93 persen.

Terkait dengan proyeksi pertumbuhan, lem­baga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, pekan lalu juga memangkas proyeksi pertum­buhan ekonomi Indonesia pada tahun depan dari 5,1 persen menjadi lima persen.

Alasannya, Fitch menilai Indonesia masih rentan dengan sentimen eksternal. Ini terlihat dari pertumbuhan impor yang lebih kencang dibandingkan ekspornya. “Sektor eksternal berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kami perkirakan, proyeksi pertum­buhan ekonomi tahun depan akan turun ke 5 persen,” jelas Fitch.

Di samping itu, koreksi pertumbuhan juga dilakukan karena pasar finansial Indonesia kian mengetat akibat kenaikan suku bunga acuan, BI 7-Days Reverse Repo Rate (7DRRR), yang merespons pengetatan likuiditas AS.

Analis senior Moody’s Investors Service, Anushka Shah, menambahkan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama pada negara yang bergantung pada perdagangan internasional, akan melambat pada 2019 dan 2020. Bahkan, dia menilai Indonesia juga akan terdampak oleh ketegangan perdagangan global. “Kete­gangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan mengganggu kawasan Asia. Indonesia pun akan terkena dampak tidak langsungnya,” kata Shah, belum lama ini.

Moody’s memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang mencapai 4,6 persen pada 2019, sedangkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia diperkirakan tumbuh 4,8 jauh, jauh lebih rendah daripada perkiraan pemerintah sebesar 5,3 persen.

Sisi Penawaran

Sementara itu, ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus, mengemukakan selain perlambatan konsumsi, stagnasi pertumbuhan juga disebab­kan oleh tidak adanya penetrasi di sisi suplai. Padahal, kekuatan perekonomian sebuah neg­ara adalah di sisi permintaan dan penawaran.

Demand kita bisa dikatakan sudah oke, meskipun ada perlambatan. Tapi, di sisi supply bermasalah,” jelas dia.

Menurut Heri, pemerintah sebenarnya se­dang berupaya memperbaiki sisi penawaran, yaitu dengan mengeluarkan serangkaian paket kebijakan ekonomi untuk menarik investor.

Dia menegaskan, selama Indonesia masih mengandalkan konsumsi dan ekspor berupa komoditas mentah, maka ekonomi sulit tum­buh tinggi. Untuk itu, pemerintah sebaiknya juga segera memperbaiki sisi penawaran, se­hingga nanti akan berbuah pada pertumbu­han ekspor. “Ada belanja pemerintah. Lakukan belanja yang efektif dalam mendorong suplai. Artinya, produktif lah,” tukas Heri. ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment