Koran Jakarta | August 20 2019
No Comments

Investasi Sektor Pariwisata

Investasi Sektor Pariwisata

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh hayu wuranti

Ada pergerakan orang luar biasa saat arus mudik Lebar­an. Ini seharusnya tidak dipandang hanya ritual tahunan karena merupakan peristiwa yang menggerakkan ekonomi daerah. Terdapat pe­ningkatan konsumsi para pe­mudik yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dae­rah.

Salah satu sumber per­putaran ekonomi masa mudik sektor pariwisata. Sebab tidak hanya menjadi momen silatur­ahmi, mudik juga menjadi ke­sempatan rekreasi dan berlibur. Mereka ingin melepaskan diri dari kepenatan hidup di kota besar. Ini tentunya tidak dilaku­kan sendirian, namun bersama keluarga dan kerabat.

Pariwisata merupakan sa­lah satu sektor yang tumbuh saat libur banyak pemudik me­ngunjungi tempat wisata dan kuliner. Maka, tak heran, tar­get makro pariwisata tercapai. Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan domestik bruto dan devisa sekitar 240 trili­un rupiah. Dia menciptakan 13 juta lapangan kerja. Rank­ing pariwisata Indonesia naik menjadi 30 besar dunia.

Saat ini, tren wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi keba­nyakan negara yang selama ini bergantung pada sektor migas. Mereka selama ini selalu bicara oil, gas, dan minyak bumi, kini memprioritaskan pariwisata. Mereka sadar betul, sektor ini­lah yang paling menjanjikan di masa depan.

Terbesar

Pariwisata saat ini merupa­kan salah satu sektor ekonomi terbesar dan mempunyai ting­kat pertumbuhan paling pesat dunia. Pariwisata telah menjadi salah satu sumber utama pene­rimaan banyak negara. Melalui penerimaan devisa, penciptaan lapangan pekerjaan, kesem­patan berusaha, serta pemba­ngunan infrastruktur, menja­dikan pariwisata sebagai salah satu penggerak utama kemajuan sosio ekonomi suatu negara.

Pertumbuhan sektor pari­wisata berkelanjutan (sus­tainable) dengan size besar beberapa tahun terakhir mencapai 25,68 persen. Me­nurut World Travel Tourism Council (WTTC), pencapaian itu tercepat ke-9 dunia, nomor 3 Asia, dan nomor 1 Asia Tenggara. Ini merupakan peluang sekaligus tantangan dalam pengembangan kepariwisataan na­sional.

Di tengah kompetisi pariwisata dunia yang sema­kin ketat, dibutuhkan inovasi, strategi, serta produktif untuk merebut pasar pariwisata. Ba­dan Pusat Statistik (BPS) men­catat selama Januari–Maret 2019, jumlah wisatawan man­canegara (wisman) mencapai 3,82 juta. Tahun 2018, jumlah wisman tercatat 15,81 juta. Ini naik 12,61 persen dari tahun 2017 yang berjumlah 14,04 juta.

Promosi pariwisata di ber­bagai negara dan media in­ternasional dengan branding “Wonderful Indonesia” diyakini seba­gai salah satu pendorong pe­ningkatan jumlah wisman yang terjadi di hampir semua pintu masuk Indonesia.

Kondisi tersebut diharapkan tercipta konsumsi wisatawan di dalam negeri yang menjadi faktor pendorong pengem­bangan sarana dan prasarana. Peningkatan ini pada akhirnya akan mendorong perekono­mian. Hal ini membuat para in­vestor mancanegara dan dalam negeri tertarik. Dari data PDB tahun 2017 yang dirilis BPS ter­lihat, total investasi swasta un­tuk mendukung ke­giatan pariwisata sebesar 3,66 persen dari total 4.370 tri­liun rupiah.

Investasi pariwisata terdiri dari du­nia usaha sebesar 159,56 triliun atau 99,73 persen. Sisanya, 0,27 persen dilakukan pemerintah (0,42 triliun rupiah). Dari total investasi pariwisata pe­merintah dan swasta, terlihat bahwa pada ta­hun 2017 naik sedikit. Tahun 2017 inves­tasi mencapai 159,99 trili­un, sedangkan 2016 ‘hanya’ 148,96 triliun rupiah.

Sementara itu, investasi pe­merintah terbesar untuk mesin, peralatan, serta alat angkutan. Nilanya 247,43 miliar dan 98,99 miliar rupiah. Tiga investasi ini pada umumnya barang modal untuk kantor-kantor kepariwisataan. Pada tahun 2017, swasta paling banyak investasi untuk pem­bangunan infrastruktur senilai 37,96 triliun atau 23,79 persen terhadap total investasi swasta. Kemudian, diikuti bangunan bukan tempat tinggal 25,9 trili­un.

Hotel dan bangunan lain­nya 24,43 triliun dan 16,53 trili­un rupiah. Secara keseluruhan, investasi terbesar infrastruktur (23,74 persen). Pemerintah menargetkan pada 2019 inves­tasi di sektor pariwisata me­ningkat menjadi 2,5 miliar dol­lar AS, lebih tinggi dari tahun sebelumnya dua miliar dollar AS.

Fokus untuk mendongkrak jumlah investasi pariwisata dan ekonomi digital 2019. Dari data BKPM, riset Google dan Temasek menyebutkan, Indo­nesia memiliki ukuran market ekonomi digital sebesar 27 mi­liar dollar AS dan berpotensi naik menjadi 100 miliar dol­lar AS tahun 2025. Selain itu, aliran investasi asing per ta­hun antara 20 miliar dollar AS dan 25 miliar dollar AS dengan persentase sebesar 10 persen merupakan sumbangan sektor ekonomi digital.

Indonesia ditargetkan men­jadi destinasi wisata berke­lanjutan kelas dunia. Upaya yang dapat dilakukan untuk mendatangkan investor, salah satunya dengan meningkat­kan daya saing global. Gaya hidup wisatawan dalam men­cari informasi destinasi, mem­bandingkan produk, memesan paket wisata, dan berbagi in­formasi, telah lakukan secara digital. Ini terutama untuk Gen Y (milenial) dan Gen Z yang semakin besar jumlah dan pe­ngaruhnya.

Di sini penting memperbaiki regulasi dan go digital sebaik­nya mulai diterapkan karena konsumen sudah berubah jauh perilakunya menjadi semakin digital. Kendati tumbuh pe­sat, investasi sektor pariwisata saat ini banyak dikuasai modal asing. Kementerian Pariwisata pada tahun 2015 sebanyak 90 persen sektor pariwisata dikua­sai investor asing dan hanya 10 persen dikuasai investor lokal.

Pada tahun 2016, investasi asing mulai menurun men­jadi 70 persen. Sisanya dikua­sai lokal. Namun, tahun 2017 kondisinya balik lagi. Investor asing kembali menguasai 90 persen dan 10 persen lokal. Investor lokal enggan mena­namkan modalnya pada sektor wisata karena marjin keun­tungan sangat kecil. Pemerin­tah perlu terus mendorong investor lokal untuk berani dan kreatif saat menanamkan modal, sehingga potensi pari­wisata yang begitu besar tidak dikuasi asing. Penulis meminati masalah pariwisata

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment