Koran Jakarta | July 21 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Perang Dagang Buka Peluang Investasi Manufaktur di Indonesia

Investasi dan Ekspansi Kunci Memacu Ekonomi

Investasi dan Ekspansi Kunci Memacu Ekonomi

Foto : Sumber: Kementerian Perindustrian – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pengusaha membutuhkan kelancaran berusaha, sesuai dengan aturan yang berlaku.

>> Kemudahan berinvestasi bisa menjadi multiplier effect bagi aktivitas industrialisasi.

JAKARTA - Pemerintah menyatakan akan terus berupaya menyusun kebi­jakan strategis untuk menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif. Hal itu antara lain bertujuan

agar pelaku industri yang sudah ada di Indonesia lebih aktif berekspansi dan da­pat menarik lebih banyak investor baru.

“Kami bertekad melaksanakan arahan dari Bapak Presiden Joko Wido­do yang ingin meningkatkan pereko­nomian nasional. Kuncinya adalah in­vestasi dan ekspansi. Sebab, Indonesia membutuhkan peningkatan devisa dari ekspor sekaligus menghemat devisa dari investasi industri substitusi impor,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Har­tarto, di Jakarta, Rabu (20/3).

Airlangga menambahkan pemerin­tah telah bertemu dengan lebih dari 100 pelaku industri di Provinsi Banten guna meminta masukan mereka terkait solusi meningkatkan daya saing industri na­sional. “Banten merupakan salah satu wilayah yang memiliki kawasan industri strategis, karena memiliki sejumlah sek­tor mother of industry seperti perusaha­an baja dan kimia,” jelas dia.

Keberadaan sektor-sektor itu, lanjut Menperin, berperan penting dalam me­nguatkan dan memperdalam struktur industri manufaktur di dalam negeri se­hingga kompetitif di kancah global.

Sebelumnya, ekonom UMY, Achmad Ma’ruf, mengemukakan pembangunan sektor manufaktur merupakan salah satu faktor penting bagi perekonomian karena memiliki dampak yang besar pada penyerapan tenaga kerja, pening­katan pendapatan masyarakat, dan pe­nerimaan pajak negara.

Oleh karena itu, Ma’ruf mengharap­kan agar semua lembaga negara terkait ikut serta mendukung pembangunan industri manufaktur nasional, agar bisa berkembang di dalam negeri dan ber­saing di pasar global. “Yang dibutuhkan pengusaha adalah kelancaran berusaha, sesuai dengan aturan yang berlaku. Itu­lah harapan pengusaha,” tukas dia.

Sementara itu, untuk menjaga keber­langsungan investasi, khususnya sektor industri, pemerintah telah menerapkan sejumlah kebijakan, antara lain mem­berikan kemudahan perizinan usaha, menjaga ketersediaan bahan baku, serta menyiapkan sumber daya manusia (SDM) terampil melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Kami berharap, kemudahan berin­vestasi bisa menjadi multiplier effect ter­hadap aktivitas industrialisasi, terutama terhadap peningkatan penyerapan te­naga kerja. Hal ini mendorong tercip­tanya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” jelas Airlangga.

Dia mengungkapkan Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika. Industri tersebut dipilih ka­rena pertumbuhannya sangat cepat, namun sektor lain juga dipacu seperti industri pulp dan kertas, serta baja.

“Bahkan, perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, dapat membuka peluang masuknya investasi manufaktur di Indonesia. Beberapa industri tekstil, pakaian, dan alas kaki sedang memper­timbangkan pemindahan pabrik dari Tiongkok ke Indonesia,” papar Airlangga.

Belum Kokoh

Peneliti ekonomi Indef, Bhima Yud­isthira, menilai semakin dominan peran sektor jasa (non-tradable) dalam PDB, dalam satu dasawarsa terakhir, melam­paui peran sektor riil atau penghasil ba­rang (tradable), mengindikasikan struk­tur ekonomi nasional yang belum kokoh.

“Persoalan munculnya jasa dan eko­nomi digital justru memicu banjir im­por. Sebanyak 93 persen barang yang ada di e-commerce (perdagangan elek­tronik) adalah barang impor. Defisit neraca dagang 2018 antara lain dipicu oleh membengkaknya impor barang konsumsi sebesar 22 persen,” papar dia.

Untuk itu, menurut Bhima, pemerin­tah perlu mengantisipasi dengan me­lakukan reindustrialisasi dan percepatan inovasi di manufaktur, serta melindungi produsen lokal dari gempuran barang im­por khususnya di marketplace online.

Selain itu, dengan memberlakukan pembatasan barang impor melalui kuo­ta misalnya 70–80 persen wajib produk lokal di toko online. Kemudian, meng­evaluasi seluruh 16 paket kebijakan ka­rena dianggap belum berhasil mendo­rong sektor manufaktur.

Terkait perkembangan industri, Men­perin menilai revolusi industri 4.0, yang mengubah model bisnis, diprediksi me­ningkatkan kinerja manufaktur 20–50 persen. ers/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment