Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Pemodal Asing Khawatirkan Ketidakpastian Hukum

Investasi Asing Bakal Melambat di Tahun Politik

Investasi Asing Bakal Melambat di Tahun Politik

Foto : Sumber: BKPM – Litbang KJ/and - koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
Iklim investasi mesti dijaga tetap kondusif, dengan mengurangi potensi kegaduhan akibat regulasi yang setengah matang.

 

JAKARTA - Memasuki tahun politik 2019 yang ditandai dengan pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak pada April nanti, ter­masuk pemilihan presiden (pilpres), aliran in­vestasi asing diprediksi bakal melambat.

Sebab, pemodal asing cenderung menahan diri serta wait and see. Mereka mengkhawatir­kan kemungkinan terjadinya perubahan regu­lasi, khususnya soal investasi, apabila pemilu legislatif dan pilpres menghasilkan pemerin­tahan baru, baik di pusat maupun daerah.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengemukakan investor asing kemung­kinan besar akan mengalihkan modalnya ke negara berkembang lain yang profilnya hampir sama dengan Indonesia.

“Investor asing cenderung menahan diri, be­lum memutuskan realisasi dari komitmen inves­tasi. Gejala itu sudah tecermin dari data kuartal III- 2018 BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Investasi asing atau FDI (foreign direct investment) turun 20 persen secara year-on-year,” ungkap dia, di Jakarta, Jumat (4/12).

Menurut dia, pemodal mancanegara itu mengkhawatirkan munculnya ketidakpastian regulasi atau hukum jika terjadi pergantian pemerintahan. “Dikhawatirkan jika terjadi pergantian rezim, ada beberapa regulasi yang bisa menjadi ketidakpastian bagi investor. Ini terutama di investasi langsung dan jangka panjang, maka sensitivitasnya lebih ke FDI,” lanjut Bhima.

Meski begitu, kinerja investasi dari investor domestik dinilai cukup baik. Pada kuartal III- 2018, penanaman modal domestik naik 30 per­sen. “Ini menunjukkan investor domestik yang bisa diharapkan mendorong realisasi investasi. Mereka lebih imun terhadap tahun politik, dan bisa melihat jangka lebih panjang daripada in­vestasi asing,” papar Bhima.

Guna menjaga iklim investasi tetap kon­dusif, dia menyarankan di sisa waktu pemerin­tahan Joko Widodo jangan sampai terjadi kega­duhan dengan regulasi yang setengah matang, seperti kasus Paket Kebijakan Ekonomi ke-6. Sebab, investor membutuhkan stabilitas.

“Reformasi perizinan investasi perlu dilan­jutkan, khususnya sinkronisasi OSS (online single submission) dengan perizinan di daerah,” tukas dia.

Melambatnya investasi asing juga berdam­pak pada pertumbuhan ekonomi, karena saat ini investasi dan ekspor diharapkan bisa menjadi motor pertumbuhan. Namun, lanjut Bhima, ki­nerja ekspor juga tidak bisa diandalkan. Belum ada sinyal kuat penyelesaian perang dagang, se­hingga proteksionisme global masih berlanjut. “Yang menjadi pendorong ekonomi tahun ini ada di sisi belanja pemerintah, dengan besar­nya pengeluaran bansos PKH (Program Ke­luarga Harapan), dana desa, serta belanja po­litik,” tukas dia.

Oleh karena itu, Bhima memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2019 hanya akan men­capai 5 persen. Motor utama pertumbuhan, konsumsi rumah tangga, cenderung stagnan di level 5 persen karena masyarakat kelas mene­ngah atas diperkirakan juga menahan belanja di tahun politik.

Dia menambahkan, untuk menjaga minat investor asing, pemerintah perlu berusaha ke­ras mengelola nilai tukar rupiah agar tidak ber­fluktuasi. Sebab, stabilitas nilai tukar adalah harga mati bagi para investor khususnya FDI.

Strategi Investasi

Sementara itu, analis pasar dari PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Sriwidjaja Rauf, me­nilai awal tahun merupakan saat yang tepat bagi pemodal untuk menyusun kembali stra­tegi investasi dengan menyesuaikan portofolio investasi sesuai kondisi ekonomi maupun poli­tik di Tanah Air. Instrumen investasi saham di­nilai masih menjanjikan pada tahun ini.

Dia menambahkan di tengah-tengah risiko tahun politik, tetap masih terbuka peluang bagi investor. Saat pemilu, perputaran uang di ma­syarakat akan lebih besar dari biasanya karena meningkatnya belanja politik.

“Dengan perputaran uang yang lebih be­sar, akan memacu pergerakan bursa saham. Ini diperkuat dengan prediksi kondisi pereko­nomian Indonesia akan lebih baik, meskipun kondisi global harus tetap menjadi pantauan,” papar Sriwidjaja.

Menurut dia, pemodal tetap perlu berinvestasi untuk meningkatkan nilai aset, antara lain untuk mengimbangi laju inflasi serta meng­antisipasi ketidakpastian di masa depan. Mes­ki begitu, Sriwidjaja mengingatkan investor tetap berhati-hati dalam memilih penawaran investasi agar tidak terjebak dalam penipuan investasi. ahm/yni/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment