Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Penguatan Karakter - Indonesia Butuh Cendekiawan yang Pancasilais

Internalisasikan Pancasila Lewat Mata Kuliah Khusus

Internalisasikan Pancasila Lewat Mata Kuliah Khusus

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk menghasilkan cendekiawan yang Pancasilais maka internalisasi nilai-nilai Pancasila kepada mahasiswa perlu dilakukan melalui mata kuliah khusus.

KUPANG - Pembinaan Pan­casila di berbagai perguruan tinggi perlu dilakukan dengan memberlakukannya sebagai mata kuliah khusus. Hal itu sa­ngat mendesak diwujudkan ka­rena akhir-akhir ini bangsa Indo­nesia dihadapkan dengan diskusi sepihak yang mendiskreditkan peran dan fungsi Pancasila.

“Pancasila itu akar kehidup­an bangsa dan negara sehingga setiap calon cendekiawan atau mahasiswa harus memahamin­ya secara utuh sampai ke akar-akarnya melalui mata kuliah khusus,” kata antropolog dari Universitas Widya Mandira (Un­wira) Kupang, Romo Gregorius Neonbasu SVD saat dihubungi, di Kupang, Senin (2/10).

Indonesia butuh cendeki­awan yang Pancasilais. Untuk itulah, tambah Romo Grego­rius, pembinaan ideologi Pan­casila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia wajib dima­sukkan dalam kurikulum peng­ajaran maupun pendidikan non-formal lainnya. Pendidikan Pancasila bisa dilakukan dengan mudah seperti halnya mata ku­liah lain yang diajarkan di pergu­ruan tinggi.

“Pola dan sistemnya bisa di­kembangkan dengan diskusi dan pengkajian mendalam butir-butir atau sila-sila Pan­casila untuk dijelaskan dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata dosen an­tropologi budaya di Unwira Ku­pang itu.

Kuliah Pancasila, lanjutnya, merupakan proses pembinaan akhlak bagi para mahasiswa un­tuk mencintai Pancasila sebagai harta karun hidup berbangsa dan bernegara. Ketika dengan sa­dar mengikuti kuliah Pancasila, hati dan budi serta proses pema­haman generasi muda terhadap Pancasila semakin berkembang seiring pemahaman mereka ten­tang ilmu pengetahuan, teknolo­gi, dan berbagai temuan baru sekarang ini.

Payung Hukum

Menurut Gregorius, penerapan kurikulum Pancasila yang dimak­sud tentu perlu dilandasi payung hukum praktis dan jelas, baik me­lalui aturan yang dikeluarkan Pre­siden ataupun lembaga-lembaga negara terkait di bawahnya. Sa­saran utama pemberlakuan kuri­kulum Pancasila itu agar generasi muda penerus bangsa merasakan getaran Pancasila dalam hati dan kalbu mereka.

Rohaniawan ini mengingat­kan sejatinya Pancasila itu jan­tung kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga haruslah dipelajari hingga ke akar-akarnya. Peringatan hari Kesaktian Pan­casila 1 Oktober harus dimaknai sebagai momentum mengingat­kan kembali anak bangsa akan semua hal mengenai Pancasila sebagai harta karun bangsa.

“Pancasila sungguh sakti bu­kan karena ia dilihat sebagai barang antik melainkan justru peran, fungsi, dan hakekatnya sebagai perekat bangsa dan ne­gara. Pancasila adalah otak ke­hidupan berbangsa dan berne­gara,” ujarnya.

Gubernur Nusa Tenggara Ti­mur (NTT), Frans Lebu Raya, mengatakan pelajaran Pancasila perlu dimasukkan dalam kuriku­lum pendidikan di semua ting­kat sekolah untuk menjaga dan mengamankan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

“Dari dulu kami sudah anjur­kan bahwa pelajaran Pancasila perlu dimasukkan dalam kuri­kulum supaya generasi muda kita terus menjaga dan memper­tahankan Pancasila demi keu­tuhan bangsa,” kata Lebu Raya, usai memimpin peringatan hari Kesaktian Pancasila di Kupang.

Menurut Gubernur Lebu Raya, adanya kurikulum Pancasi­la tidak hanya untuk menjaga dan mengamankan ideologi bangsa, namun juga sesuai dengan pen­didikan karakter bangsa. Karakter bangsa Indonesia harus sesuai dengan ideologi yang dimiliki bangsa ini yaitu Pancasila, tidak bisa dengan ideologi lainnya.

Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila, Yudi Latif dalam kuliah umum tentang Pancasila di Unika Soegijapranata Semarang me­ngatakan Pancasila adalah ti­tik temu, titik pijak dan titik tuju mencapai kesejahteraan Indo­nesia. Itulah sebabnya Pancasila penting dalam keberagaman.

“Prestasi pribadi harus men­jadi jalan untuk kesejahteraan. Perlu kecerdasan kewargane­garaan Indonesia. Cinta negeri membuat kita rela menjaga tanah air. Orang yang korupsi pasti tak mencintai negeri ini,” kata Yudi. n SM/Ant/N-3

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment