Koran Jakarta | March 30 2017
No Comments

Inspirasi dari Kartini-kartini Masa Kini

Inspirasi dari Kartini-kartini Masa Kini

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Perempuan Penembus Batas

Penulis : -

Penerbit : Gramedia

Cetakan : November 2016

Tebal : ix + 167 hlm

ISBN` : 978-602-424-210-7

Hampir satu setengah abad berlalu, perjuangan Kartini kekal dalam memori bangsa. Lantas bagaimana gerakan kaum perempuan di dalam iklim kebebasan sekarang? Gerakan perempuan bertransformasi menjadi lebih dinamis dan menyebar dalam banyak sendi kehidupan. Kartini-kartini abad 21 memperjuangkan keluarga, desa, negara, bahkan lingkungan alam. Mereka bekerja dari sains sampai lingkungan, dari Aceh hingga Papua. 

Seperti Kartini, gadis belia yang memberanikan diri menulis surat-surat tatkala budaya tulis masih jauh di awang-awang, 45 perempuan dalam buku ini juga memberanikan diri menembus batas, mengambil jalan terjal, dan sering kali sepi. 

Di awal, pembaca bersua nama-nama peneliti perempuan dari berbagai latar. Keterbatasan alat, jarak yang jauh, tersendat dana, dan hambatan lainnya dilampaui demi menemukan harta karun dari berbagai sumber kekayaan Indonesia. Yosmina Tapilatu, perempuan terkemuka di dunia riset Indonesia harus menempuh perjalanan sekitar 50 menit tiap hari untuk menyibak potensi laut dalam di perairan Maluku. 

Keterbatasan alat bukan halangan bagi niat besar Yosmina mengidentifikasi bakteri-bakteri laut yang selama ini tidak diacuhkan. Alhasil, Yosmina berhasil memanfaatkan bakteri-bakteri tersebut sebagai bahan pembuatan plastik ramah lingkungan, rehabilitasi kawasan tercemar logam berat, penyembuhan tulang, dan senyawa aktif yang menghambat pertumbuhan sel kanker darah putih atau leukimia (hal 16).

Senada dengan Yosmina, Fenny Martha Dwivany bergelut selama 12 tahun menguliti buah pisang. Dia ingin membantu para penjual keliling agar pisang-pisang mereka tetap segar setelah menempuh rantai distribusi yang panjang dari kebun petani. Pilihan berkomitmen membantu masyarakat kecil itu juga dipilih Eniya Listiani Dewi. Gaji 4,000 dollar AS atau sekitar 42 juta rupiah di Jepang tak menyilaukan matanya untuk kembali ke Indonesia sebagai peneliti dengan gaji Rp 2 juta per bulan. “Saya ingin membuktikan bahwa pualng ke Indonesia enggak bakalan miskin,” ujar Eniya (hal 26). 

Bidang seni mencuatkan nama Kartika Jahja. Tika (panggilan akrab) juga melakukan serangkaian aksi sosial dan budaya. Ia terlibat aktif dalam pendampingan dan advokasi korban kekerasan seksual (hal 34). Di Gunung Lanny Jaya, Papua, Rosa Dahlia Yekti Pratiwi, perempuan Jawa ini menambatkan hatinya untuk menghidupkan kembali sekolah yang telah lama mati. Tidak ada listrik, transportasi terbatas, dan terpencil tak menjadi alasan bagi Rosa mencerdaskan bangsa.

Rosalinda Delin, seorang bidan yang memberanikan diri merobohkan tradisi turun-temurun di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Tradisi mengasapi ibu dan bayi selama 42 hari yang disebut hasai hai membuat ibu dan bayi mudah terpapar infeksi pneumonia dan dehidrasi parah. Sulitnya kondisi alam, reaksi penolakan masyarakat, tak membuat Rosalinda gentar. Untuk memudahkan sosialisasi, Rosalinda pun membawa ikan dan arang, lalu membakarnya untuk menunjukkan bahaya hasai hai (hal 102). Para perempuan tersebut mengusahakan perbaikan kehidupan dengan caranya sendiri. Mereka melampaui stigma “makhluk lemah.” 

Diresensi Noor Juni Widyatmoko, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment