Koran Jakarta | August 16 2017
No Comments

Inovasi Rumah dengan Sentuhan Estetika

Inovasi Rumah dengan Sentuhan Estetika

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kebiasaan keseharian menjadi panduan utama sebelum merenovasi rumah. Tujuannya tidak lain, agar rumah senantiasa nyaman sebagai tempat tinggal.

Rumah dan desain menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Desain rumah akan membagi ruang-ruang aktifitas penghuninya maupun memberikan sentuhan estetika. 

Sayangnya, kebanyakan penghuni masih kerap terjebak dengan gaya desain rumah. Mereka lupa dengan fungsi utama rumah sebagai ruang untuk menampung aktifitas keseharian.

Hal tersebutlah yang dirasakan Francis Surjaseputra, desainer interior. Ia mencermati bahwa renovasi rumah masih sebatas fisik bangunan. “Sekarang renovasi masih gaya. Yang baik, saya mau hidup seperti apa,” ujar dia memberi saran ketika ditemui dibilangan Jakarta Pusat, Selasa (8/8). 

Dengan memahami tujuan hidup maka bangunan akan mengikuti kebiasaan penghuninya. Seperti ketika Francis mendesain rumah salah satu kliennya. Salah satu penghuni rumah menginginkan pohon jambu di salah satu sudut rumah. 

Maksud klien adalah supaya bisa duduk di bawah pohon jambu seperti masa kecilnya dahulu. Sebagai konsekuensi, ruang-ruang di dalam rumah diperkecil untuk memberikan ruang lahan yang dapat digunakan untuk menanam pohon jambu.

Kerja sama arsitek maupun desain interior akan membantu mewujudkan rumah yang nyaman. Penghuni yang akan merenovasi rumahnya menanyakan kepada desain interior maupun arsitek tentang rumah yang sesuainya.

Sebaliknya, desainer interior maupun artistek dapat menanyakan kesukaan masing-masing penghuni rumah.  “Jadi ini bukan sekadar gaya mediteranian,” ujar dia tentang kebiasaan masyarakat ketikan akan merenovasi bangunan.

Pemilik Axon90 The Desaig Hub, biro konsultan desain ini mengatakan bahwa desain rumah fleksibel merupakan rumah yang sesuai untuk masyarakat saat ini. 

Pasalnya, rumah akan berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia. Saat membikin rumah, mungkin rumah masih dihuni oleh sepasang suami istri. 

Beberapa tahun berikutnya, mereka akan memiliki anak sehingga memiliki kebutuhan ruang tambahan, seperti kamar anak maupun ruang penyimpan barang anak.

Untuk itu, Francis menyarankan untuk membuat desain rumah fleksibel. “Jadi sebagaiknya, rumah (desain) sederhana, ini mungkin usulan saya,” ujar dia. Sebagai penyekat dapat digunakan partisi kering yang mudah dipindah-pindahkan termasuk untuk furniturenya. Sehingga, desain rumah terlihat cerdas tidak sekedar lucu-lucuan.  

Sementara, Andri Hermawan, Direktur Penjualan dan Proyek Homedec, mengatakan bahwa keinginan masyarakat untuk merenovassi rumahnya tergantung dengan suasana hati. “Karena orang dalam merenovasi itu mood, itu kategori lifestyle,” ujar dia. ‎

Saat ini, ia mencermati kalangan muda merupakan kalangan yang selalu mengikuti jaman. “Mereka itu banyak (menggunakan furnitur) second hand  tapi bukan vintage tapi direkondisikan kembali, seperti joknya diganti,” ujar dia.     

Andri membandingkan dengan di luar negeri. Di Malaysia, kata dia, renovasi lebih banyak dilakukan di apartemen-apartemen, karena sebagian besar penduduknya tinggal di hunian tersebut. “Karena di Malaysia, kalau orang mempunyai landed (rumah tapak) itu orang kaya sekali,” ujar dia. Sehingga kebanyakan, masyarakat yang tinggal di apartemen‎lah yang banyak merenovasi rumahnya.

Homedec akan menggelar pameran yang ketiga di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang. Pameran yang berawal dari pameran serupa di Malaysia akan menyasar kawasan perumahan Tangerang yang tengah berkembang.  Andri menargetkan transaksi senilai 30 miliar rupiah selama penyelenggaraan pameran. Tahun lalu, transaksi mencapai 20 an miliar rupiah.  din/E-6  ‎

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment