Koran Jakarta | November 21 2018
No Comments
suara daerah

Inovasi Kreatif untuk Atasi Kemiskinan di Sumedang

Inovasi Kreatif untuk Atasi Kemiskinan di Sumedang

Foto : koran jakarta / teguh rahardjo
A   A   A   Pengaturan Font

 

 Kabupaten Sumedang merupakan wilayah yang berada di te­ngah antara Bandung dan Majalengka. Posisinya ini sebenarnya sangat mengun­tungkan, mengingat Sumedang akan menjadi penyangga dari pusat Ibu Kota Jawa Barat (Jabar), Bandung.

Di sisi lain, Majalengka pun kini sudah mulai meng­geliat setelah pembangunan Bandara Intenasional Ker­tajati. Jika tidak jeli melihat peluang yang ada, Sumedang kemungkinan besar hanya akan menjadi penonton pem­bangunan di Bandung dan Majalengka.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Sumedang untuk mening­katkan ekonomi masyarakat setempat, wartawan Koran Jakarta, Teguh Raharjo, berkesempatan mewawancarai Bupati Sumedang yang baru dilantik, Dony Ahmad Munir, di Bandung, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Setelah dilantik, apa program 100 hari yang akan dilakukan secepatnya?

Kami dengan Wakil Bu­pati Erwan sudah menyusun banyak program 100 hari, mengacu pada visi kami, yakni simpati. Artinya, Sumedang harus menjati sejahtera, war­ganya agamis, maju, profe­sional aparatnya, dan kreatif ekonominya.

Kami ingin kreatif dalam menciptakan lapangan peker­jaan agar mengurangi pen­gangguran dan kemiskinan. Kami juga akan membangun sejumlah infrastruktur di beberapa lokasi strategis yang sinergis dengan program gu­bernur Jabar.

Apa saja program terse­but?

Ada pekerjaan besar seperti menyelesaikan Tol Cisum­dawu, Cileunyi–Sumedang–Dawuan dan penataan Waduk Jatigede. Kami sudah mem­buat Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang me­netapkan empat kecamatan sebagai kawasan ekonomi dan pariwisata khusus yaitu Ujung Jaya, Tomo, Buah Dua, dan Jatigede.

Lebih spesifiknya bisa dijelaskan?

Kami mengusulkan untuk membuat embarkasi haji di Sumedang. Di Ujung Jaya itu jauh lebih dekat ke bandara, jaraknya hanya 9 kilometer ke Kertajati. Di sana ada tanah seluas 36 hektare dan masuk kawasan Aerocity Majalengka, jadi lebih tepat jika dibangun di sana saja.

Selain itu, bisa juga diba­ngun rumah sakit haji, kami sedang ikhtiar ke arah sana. Memang ada yang usul di Indramayu, tapi kami bersaing sehat saja. Karena selain lebih dekat, kami sudah membuat RTRW-nya.

Kalau kawasan industrin­ya sendiri di mana?

Sebanyak empat kecama­tan tadi cocok sekali. Dekat dengan jalan tol Ciwumdawu, bandara, dan pelabuhan di Cirebon. Luasnya ada ribuan hektare. Jatinangor dan Cimangu stop untuk industri, harus pindah ke sana. Ini akan menjadi pusat pertumbuh­an eknomi terbaru. Kami mimpinya nanti mirip seperti Jababeka. Terpadu industrinya, pergudangan hingga pengola­han limbahnya. Jadi, yang mau berinvestasi tinggal datang dan bangun, semua akan kami siapkan.

Kami saat ini akan membuat Rencana De­tail Tata Ruang (RDTR), lalu segera mem­buat proposal untuk menarik investor masuk. Ini jelas mendukung rencana gubernur yang ingin mengalihkan in­dustri ke Majalengka, kami si­apkan lokasinya di Sumedang. Soal sektor industri apa saja yang bisa masuk, tentu akan dibuat rencana lebih detailnya agar masyarakat Sumedang bisa ikut ambil bagian.

Pembangunan jalan tol terkadang membuat kota yang dilewati menjadi sepi dan mati ekonominya, Sume­dang sudah mengantisipasi ini?

Jalan Tol Cisumdawu ini akan ada lima exit tol yang diarahkan ke Sumedang. Nah, kami akan membuat destinasi wisata unggulan di lima exit tol Sumedang agar pengendara yang lewat bisa mampir dulu, istirahat sambil wisata dan berbelanja di UMKM.

Misalnya, exit tol di seki­tar Jatigede, di mana Jatigede juga akan menjadi kawasan wisata baru di Sumedang. Kami sudah menyiap­kan jalur atau poros baru Lem­bang-Sumedang, di mana dari Bandung Barat bisa langsung ke Sumedang lewat jalur ini.

Jaraknya sekitar 25 kilometer dan sudah pernah direncana­kan. Kami sudah berbicara dengan Pak Umbara (Bupati Bandung Barat terpilih) dan senada untuk meneruskan ren­cana ini. Kami akan berbicara dengan gubernur Jabar. Kalau bisa nantinya menjadi jalan provinsi. Sebab ini akan men­dorong kemudahan transpor­tasi barang, khususnya bidang produk pertanian.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, meminta standar pela­yanan publik merata di setiap kabupaten dan kota. Ba­gaimana dengan Sumedang?

Kami akan mempermudah segala urusan masyarakat. Itu saya katakan kepada semua ASN. Akan ada perubah­an budaya melayani. Dari manual ke digital, mengubah dari zona nyaman ke kom­petitif dan mengubah dilayani menjadi melayani. Kami akan mengambil sejumlah hal yang bagus dari Kota Bandung untuk pelayanan masyarakat, khususnya terkait teknologi digital.

Penanganan warga miskin dan pengurangan pengangguran menjadi prioritas. Kami juga ingin proses pembuatan KTP cepat dan transparan. Warga tinggal da­tang ke kecamatan, merekam data, lalu menunggu jadi di ru­mah. KTP akan dikirim melalui pos.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment