Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Kesepakatan Brexit | PM Johnson Bertemu dengan PM Varadkar Bahas Perbatasan

Inggris-UE Sepakati Dialog Akhir

Inggris-UE Sepakati Dialog Akhir

Foto : AFP/NOEL MULLEN
PERTEMUAN JOHNSON-VARADKAR | PM Irlandia, Leo Varadkar (kiri) berfoto dengan PM Inggris, Boris Johnson, di luar Thornton Manor Hotel, Birkenhead, Inggris barat laut pada Kamis (10/10). Kedua perdana menteri itu bertemu untuk merundingkan pengaturan soal perbatasan jelang pelaksanaan Brexit yang batas waktunya pada 31 Oktober mendatang.
A   A   A   Pengaturan Font
Inggris dan Uni Eropa sepakat menggelar dialog akhir demi menggolkan Brexit dengan kesepakatan sebelum KTT UE.

 

LONDON – Inggris dan Uni Eropa (UE) pada Rabu (9/10) sepakat untuk menggelar pe­rundingan akhir yang dituju­kan untuk menggolkan Brexit (keluarnya Inggris dari keang­gotaan UE) dengan kesepak­atan. Sebelumnya kedua pi­hak saling menyalahkan kare­na gagal membuat kompromi untuk menghasilkan kesepak­atan Brexit yang pelaksanaan­nya tinggal menghitung hari itu.

Atas kesepakatan itu ren­cananya Menteri Brexit Inggris, Steve Barclay, akan melakukan pertemuan dengan mitra se­jawatnya dari UE, Michel Bar­nier, di Brussels, Belgia, pada Jumat (11/10) ini agar Inggris dan UE bisa sama-sama meng­hasilkan kesepakatan sebelum KTT UE pada 17-18 Oktober mendatang.

“Kami akan menawarkan proposal (Brexit) yang serius dan tetap akan fleksibel. Sudah saatnya UE pun untuk menem­puh hal yang sama,” cuit Bar­clay di media sosial.

Pertemuan Barclay-Barni­er tadinya akan dilaksanakan pada Kamis (10/10), namun kemudian ditunda selama 24 jam setelah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, ter­lebih dahulu melakukan perte­muan dengan PM Irlandia, Leo Varadkar.

Sementara itu Barni­er dalam tanggapannya me­nyatakan amat pesimis bakal terjadi terobosan sebelum ter­laksananya KTT UE, namun ia berjanji akan bekerja keras un­tuk memenuhi tenggat waktu. Sikap pesimistis Barnier dilon­tarkan setelah ia menyatakan UE tak akan menerima propos­al Inggris dengan alasan pro­posal itu telah menyepelekan perdamaian dan melemah­kan pasar tunggal Eropa. “Saat ini kami tidak pada titik untuk menemukan kesepakatan,” ka­ta Barnier dihadapan Parlemen Eropa.

Dalam skenario Brexit, In­ggris harus meninggalkan UE pada 31 Oktober mendatang. PM Johnson telah berjanji un­tuk melaksanakan Brexit te­pat waktu, dengan atau tan­pa kesepakatan perceraian dan Johnson pun sebelum­nya menyatakan lebih baik mati di selokan daripada harus menunda lagi Brexit.

Pertemuan di Birkenhead

Sementara itu pertemuan antara PM Johnson dan PM Varadkar dekat Birkenhead di Inggris barat laut dilapork­an menjadi pertanda bahwa Dublin telah menentukan si­kap tentang pengaturan perba­tasan.

Menemukan cara untuk menjaga perbatasan tetap ter­buka antara utara dan selatan tanpa menjadikan Irlandia Utara terikat pada peraturan perdagangan UE, telah men­jadi titik utama dalam perund­ingan.

Prospek pengetatan perba­tasan (backstop) telah menim­bulkan kekhawatiran bahwa hal itu bisa memicu kembali kerusuhan antara kelopok re­publikan yang pro-Irlandia dan anggota serikat yang sebelum­nya telah menewaskan ribuan orang selama tiga dekade sejak akhir 1960-an.

Sebelumnya Irlandia pada Selasa (8/10) lalu telah meng­umumkan bahwa mereka telah menyisihkan 1,2 miliar eu­ro (1,3 miliar dollar AS) untuk anggaran 2020 sebagai rencana kontingensi jika terjadi Brexit tanpa kesepakatan.

Rencana anggaran itu dili­hat sebagai tanda pesimisme tentang perundingan dan Varadkar sendiri mengatakan akan sangat sulit untuk meng­hasilkan kesepakatan pada pe­kan depan.

“Saya akan berupaya hingga menit terakhir untuk menca­pai kesepakatan dengan kon­sekuensi apapun. Namun, un­tuk mencapai kesepakatan hingga pekan depan, saya rasa itu amat sulit,” pungkas Varadkar. ang/AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment