Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Ancaman Kekeringan - “El Nino” Diperkirakan Picu Kemarau Panjang

Infrastruktur Pengairan Mesti Diperkuat

Infrastruktur Pengairan Mesti Diperkuat

Foto : ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan di Persawahan kawasan Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika atau (BMKG) memprakirakan Indonesia akan dilanda musim kemarau sampai Agustus 2019.
A   A   A   Pengaturan Font
Jika solusi atas pengairan lahan pertanian bisa berkelanjutan maka akan mudah bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian pangan.

 

 

JAKARTA – Pemerintah diharapkan mempercepat pembangunan infrastruktur pengairan, seperti bendungan, embung, dan perbaikan saluran irigasi. Ini diperlukan untuk segera menyelesaian persoalan kekeringan di musim kemarau dan target produksi pangan. Sebab, saat ini petani telah mengambil solusi sendiri dengan membuat sumur bor yang justru merugikan petani dalam jangka panjang akibat penurunan muka air tanah.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, mengemukakan di beberapa daerah seperti Ngawi, Jawa Timur, penurunan muka air tanah sudah melebihi empat meter, dan hal itu juga terjadi daerah-daerah lain di Tanah Air. Padahal, lanjut dia, secara teori ada 50 persen dari total sawah di Jawa yang dengan debit sungai dan irigasi yang ada sesuai peruntukannya secara maksimal, bisa panen padi tiga kali dalam setahun.

“Tapi sekarang hanya 15–20 persen yang bisa, itu pun para petani mengebor sendiri airnya,” kata Dwijono, ketika dihubungi, Senin (8/7). Menurut dia, semua kementerian terkait urusan pangan dibantu oleh Badan Mateorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Pusat Statistik (BPS) semestinya bisa membuat perhitungan yang tepat terkait data panen musim gaduh, berapa potensi kekurangannya, serta apa langkah terdekat dan langkah strategis yang bisa ditempuh.

Jika solusi atas pengairan lahan pertanian bisa berkelanjutan atau tidak hanya berdimensi proyek maka mudah bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian pangan. “Semuanya ada, sumber air ada, irigasi ada, sawah ada, petani ada, hanya kalau masih jalan sendiri-sendiri ya susah,” tukas Dwijono.

Sebelumnya, sejumlah kalangan mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi potensi penurunan produksi pangan nasional, terutama beras, akibat kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air belakangan ini.

Pakar pertanian, Dwi Andreas, memperkirakan produksi beras di 2019 akan menurun dibandingkan tahun sebelumnya akibat kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan bergesernya musim tanam. “Mengapa produksi bisa rendah karena berkurangnya luas panen padi. Ini belum kekeringan, kita baru bicara luas panen yang berkurang karena terjadi pergeseran musim tanam,” ujar Dwi Andreas yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian IPB itu, pekan lalu.

Selain itu, musim tanam pertama tahun ini mundur pada April, sehingga musim panen raya diperkirakan akan terjadi pada Agustus, atau bertepatan puncak kemarau. “Untuk itu, hampir saya pastikan produksi beras atau padi secara nasional lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” tukas dia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi tahun lalu sebanyak 32,5 juta ton setara beras.

Adapun Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi sepanjang 2019 mencapai 84 juta ton atau setara 49 juta ton beras. Dwi Andreas memperkirakan, akibat kekeringan ini, produksi beras nasional akan berkurang dua juta ton.

Dia pun meminta pemerintah menghitung lagi jumlah cadangan stok beras nasional di Bulog dan pedagang guna mengantisipasi menurunnya produksi pangan di Agustus karena kekeringan. “Kalau bisa menghitung dengan jelas dan pas maka pemerintah bisa menetapkan kebijakan dengan pas untuk memenuhi stok,” imbuh dia.

 

Tidak Membantu

 

Sementara itu, Guru Besar Pertanian dari UPN Veteran Jatim, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan kemarau panjang yang diperkirakan akan terjadi tahun ini akibat El Nino, jelas akan memukul produksi pangan di berbagai daerah yang selama ini menjadi sentra pangan.

“Berbagai langkah antisipasi pengadaan infrastruktur pengairan seperti waduk dan embung tidak akan banyak membantu. Sebab, musim kemarau terlanjur datang, kecuali terjadi anomali cuaca yang menimbulkan hujan,” ungkap dia. Tahun ini, lanjut Ramdan, kuat diperkirakan El Nino akan memicu kemarau panjang.

Hal ini memunculkan kekhawatiran yang cukup besar bila terjadi sesuai prakiraan cuaca, karena akan berdampak serius terhadap produksi pangan. Untuk itu, banyak daerah yang harus menyiapkan diri, terutama memperkuat infrastuktur pengairan seperti waduk dan embung. “Tapi, apakah bila disiapkan sekarang bisa memenuhi kebutuhan mengingat sumber air sudah mulai kering,” tukas dia.

 

YK/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment