Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments
Mata Uang - Pembayaran Bunga Utang Pemerintah Membengkak

Industri Nasional Lemah Ikut Dorong Depresiasi Rupiah

Industri Nasional Lemah Ikut Dorong Depresiasi Rupiah

Foto : Sumber: Bloomberg
A   A   A   Pengaturan Font

>>Selama neraca transaksi berjalan defisit, mata uang RI bakal sulit menguat.

>>Pelemahan industri karena asing tidak lagi masuk ke manufaktur berbasis ekspor.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengemukakan selain karena faktor eksternal, pelemahan rupiah juga disebabkan fundamental ekonomi dalam negeri terutama defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).

Selain itu, depresiasi rupiah juga dipicu oleh struktur industri nasional yang lemah karena banyak perusahaan asing yang tidak lagi masuk ke industri manufaktur dalam negeri berbasis ekspor.

Akibatnya, repatriasi profit perusahaan asing sangat besar. Ekonom Senior Indef, Faisal Basri, menilai nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan terus melemah selama neraca transaksi berjalan masih defisit.

CAD yang membuat nilai tukar melemah dan ini terjadi sejak 2012. “Rupiah melemah anteng di 8.000–10.000 rupiah waktu 2011–2012 itu kalau current account- nya surplus, jadi sepanjang surplus rupiahnya stabil.

Nah, rupiah anjlok terus-terusan sejak 2012, current accountnya defisit sampai sekarang,” jelas dia, Minggu (22/07). Faisal memaparkan rata- rata harian kurs rupiah terhadap dollar AS saat ini berada pada posisi terlemah sepanjang sejarah.

“Sampai 20 Juli 2018, rata-rata hariannya itu 13.821 rupiah, waktu krisis itu cuma 10.000 rupiah karena rupiahnya jeblok paling cuma seminggu,” ungkap dia. Dari tahun 2014 ke 2017, imbuh dia, rupiah melemah 13 persen.

Dari 2010 melemah 33 persen, dari 1997 melemah 78 persen. Faisal juga menyatakan faktor pendorong rupiah yaitu surplus neraca perdagangan yang makin turun. Sebab, beberapa produk barang yang diekspor berkurang.

“Kenapa bisa seperti ini? Karena peranan industrinya turun, negara lain ekspor industri manufakturnya itu lebih besar, kita cuma 40-an persen,” jelas dia.

Oleh karena itu, menurut Faisal, pelemahan mata uang RI juga disebabkan kondisi industri di Indonesia yang lemah. Pelemahan industri ini karena perusahaan asing tidak lagi masuk ke industri manufaktur berbasis ekspor, sehingga menyebabkan repatriasi profit perusahaan asing sangat besar.

“Repatriasi profit perusahaan asing luar biasa besar berdasarkan data BI (Bank Indonesia). Current account deficit kita 17 miliar dollar AS.

Barang masih surplus 27 miliar dollar AS, tapi defisit repatriasi dan bayar bunga itu 33 miliar dollar AS karena asing yang di Indonesia tidak lagi di industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Jadi, melemahnya rupiah ya karena industrinya semakin melemah,” tukas dia.

Faisal menjelaskan salah satu industri yang saat ini mulai berorientasi ekspor dan dapat dikembangkan adalah industri otomotif baik sepeda motor ataupun mobil. “Industri yang berorientasi ekspor itu sepeda motor, pertumbuhan selama Januari–Mei itu 250 ribu unit.

Pertumbuhan penjualan tiga tahun berturutturut ini biasanya minus, tapi ini tumbuh 13,1 persen. Mungkin kita perlu lihat ini semacam contoh untuk yang lain,” tutur dia.

Bunga Utang

Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat pembayaran bunga utang pada semester pertama tahun ini mencapai 120,61 triliun rupiah atau separo dari pagu tahun ini yang sebesar 238,61 triliun rupiah.

Jumlah tersebut bengkak dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 106,8 triliun rupiah. Tahun lalu, pemerintah menganggarkan pembayaran bunga utang sebesar 222,1 triliun rupiah.

“Meningkatnya realisasi pembayaran bunga utang sebagai dampak meningkatnya outstanding utang, kenaikan tingkat bunga obligasi negara, dan melemahnya rupiah,” ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam laporan APBN Kita edisi Juli.

Sepanjang semester pertama tahun ini, rupiah memang bergerak melemah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rata-rata nilai tukar rupiah di semester satu sebesar 13.746 rupiah per dollar AS, di atas asumsi APBN 2018 sebesar 13.400 rupiah per dollar AS.

Sedangkan total utang pemerintah hingga semester pertama tahun ini mencapai 4.227,78 triliun rupiah, naik 14,06 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Total utang tersebut terdiri atas Surat Berharga negara (SBN) dan pinjaman yang masing- masing sebesar 3.442,64 triliun rupiah dan 785,13 triliun rupiah. Utang dalam bentuk SBN didominasi oleh SBN rupiah senilai 2.419,67 triliun rupiah.

Adapun utang dalam bentuk pinjaman didominasi oleh pinjaman luar negeri yang mencapai 779,81 triliun rupiah. ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment