Koran Jakarta | August 16 2017
No Comments
Pameran Sena

Indonesia Usung Pentingnya Program “Traceability” Perikanan

Indonesia Usung Pentingnya Program “Traceability” Perikanan

Foto : kemen dag.go.id
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA — Indonesia mengusung program pentingnya program ketelusuran produk (traceability) perikanan dalam ajang pameran bergengsi Seafood Expo North America (SENA) di Boston, Amerika Serikat (AS).


“Kami di industri perikanan rajungan (Portunus pelagicus) pun sangat mendukung itu, dan sudah melakukan di Lampung Timur dan Pemalang, Jateng. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP-KKP) Nilanto Perbowo setuju atas program tersebut,” kata Arie Prabawa, Manajer Pemasaran PT Siger Jaya Abadi, salah satu peserta, dari Boston, Senin (20/3).


SENA adalah salah satu pameran kelautan dan pengolahan hasil laut terbesar di kawasan Amerika yang diikuti ribuan peserta dari puluhan negara. KKP yang memimpin delegasi dari Indonesia dalam ajang itu membawa belasan pelaku industri perikanan.


Mereka adalah PT Siger Jaya Abadi dari grup Blue Star Nusantara (BSN), Multi Monodon group, PT Bahari Biru Nusantara, PT Intimas Surya, CP Prima, PT Wahyu Pradana Binamulia, PT Wironton Baru, PT Alam Jaya, PT Indu Manis, PT Permata Marindo Jaya, PT Inti Lautan Fajar Abadi, Mina Kencana Mulya, PT Sekar Bumi Tbk, PT Nusantara Alam Bahari, dan PT Dharma Samudera Fishing Industries.


Secara umum, “traceability” adalah suatu cara untuk mempermudah melakukan pelacakan terhadap suatu produk dengan melihat sejarah dari produk tersebut. Cara itu bisa dilakukan dengan
menelusuri di setiap tahapan budi daya, mulai dari sejak awal sampai akhir proses produksi dan bahkan juga menelusuri setelah produk tersebut diedarkan sampai ke konsumen terakhir.

Ini dilakukan untuk menjamin keamanan pangan. Keamanan pangan itu merupakan isu sangat penting dalam pemasaran produk perikanan di tingkat internasional. Berdasarkan peraturan, keamanan pangan itu merupakan tanggung jawab pelaku usaha yang terlibat dalam rantai produksinya.


Importir AS, yakni CEO Blue Star Foods AS, John R Keller, sangat mendukung program seperti “traceability” itu. John pada akhir Februari 2017 lalu ikut hadir dalam membentuk koperasi rajungan pertama di Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.


Terbentuknya koperasi nelayan rajungan pertama di Indonesia itu mendapat dukungan dari PT Siger Jaya Abadi dan Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Koperasi ini mempunyai misi pelestarian perikanan rajungan sekaligus kesejahteraan nelayan. Dukungan yang diberikan adalah memberikan alat sistem teknologi informasi berbasis telepon seluler untuk dipasang pada kapal nelayan rajungan.


Sementara di Pemalang, Jateng, menurut Arie Prabawa, dukungan itu dilakukan salah satunya, melalui “Sosialisasi Penangkapan dan Pendataan Perikanan Rajungan yang Berkelanjutan” atas kerja sama para pihak, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dinas Perikanan Kabupaten Pemalang, Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), PT Blue Star Anugrah (BSA), dan Sustainable Fisheries Partnership (SFP).


“Harapannya Pemalang sebaga inovator industrialisasi rajungan akan tetap lestari. Karena itu, kami bekerja sama dengan nelayan dan miniplant,” katanya. Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment