Indonesia Pernah Memiliki Tokoh-tokoh Berintegritas | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Indonesia Pernah Memiliki Tokoh-tokoh Berintegritas

Indonesia Pernah Memiliki Tokoh-tokoh Berintegritas

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Orange Juice for Integrity: Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa

Penulis : Tim Komisi Pemberantasan Korupsi

Penerbit : Komisi Pemberantasan Korupsi

Cetakan : I, 2017

Tebal : 204 halaman

ISBN : 978-602-9488-11-1

Korupsi merupakan warisan sejarah dan sudah menjadi budaya bangsa. Pendapat ini seakan terbenarkan banyak tokoh dan pejabat ditangkap KPK karena korupsi. Namun, jika menengok sejarah, sebetulnya Indonesia memiliki banyak tokoh yang penuh integritas, jujur, dan antikorupsi. Mereka menjadi pejabat untuk mengabdi bangsa dan negara, bukan memperkaya diri dan keluarga. Ketika dihadapkan pada pilihan antara kepentingan pribadi dan negara, mereka mendahulukan kepentingan negara, fokus menjalankan amanat rakyat.

KPK menelisik tokoh-tokoh teladan ini, seperti H Agus Salim, Baharuddin Lopa, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng Iman Santoso, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Saifuddin Zuhri, Sjafruddin Prawiranegara, R Soeprapto, Ir Soekarno, dan Widodo Budidarmo.

Agus Salim pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947) dan Kabinet Hatta (1948–1949). Dia terkenal karena kesederhanaannya. Suatu ketika, dalam pertemuan para diplomat di Eropa, Agus Salim menyita perhatian banyak orang. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena jas yang dikenakan sudah usang dan penuh jahitan di sana-sini.

Agus Salim hingga pensiun belum mempunyai rumah sendiri. Selama menjadi menteri, dia tinggal di kontrakan. Agus Salim berpandangan, menjadi pejabat bukan untuk mencari kekayaan, tapi menderita. Leiden is lijden “memimpin adalah menderita” (hal 13).

Lain lagi keteladanan Saifuddin Zuhri. Menteri Agama era Presiden Soekarno (1962–1967) ini pernah menolak adik iparnya yang minta diberangkatkan haji dengan fasilitas Kementerian Agama. Kendati adiknya merupakan tokoh yang berjasa pada negara dan secara ekonomi layak mendapat bantuan.

Setelah pensiun, Saifuddin berjualan beras. Uang pensiun tidak pernah diambil karena ingin menghidupi keluarga dari jerih payah sendiri, tidak membebani negara. Uang pensiun yang dikumpulkan dibelikan rumah untuk dijadikan fasilitas umum sebagai rumah bersalin.

Baharuddin Lopa juga demikian. Jaksa Agung era Presiden Abdurrahman Wahid ini ketika menjadi Bupati Majene berani berkonfrontasi dengan petinggi militer yang menyelundupkan. Ketika menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (1982–1986), Lopa berkunjung ke sebuah kabupaten. Tanpa sepengetahuan, seorang jaksa mengisikan bensin pada mobil dinasnya. Lopa marah dan kembali ke kantor sang jaksa. Ia minta jaksa menyedot kembali bensin. “Saya punya uang jalan untuk beli bensin. Itu harus saya pakai,” tegas Lopa (hal 18).

Lopa tak pernah menggunakan mobil dinas untuk kepentingan keluarga. Ia memasang telepon koin di rumah dinasnya agar keluarga tidak memanfaatkan telepon fasilitas negara. Dalam penegakan hukum, Lopa tak pandang bulu. Kakanwil Kemenag Sulsel, temannya, tetap diseret ke meja hijau karena pengadaan fiktif Al Quran.

Selain kisah para tokoh tadi, buku ini juga menceritakan kisah tokoh-tokoh bangsa lain, termasuk Proklamator Soekarno dan Hatta. Kemudian mantan Kapolri Hoegeng yang terkenal jujur. Kisah keteladanan ketiga tokoh ini sudah sering diangkat dalam berbagai tulisan.

Namun, kisah Sri Sultan Hamengku Buwono IX mungkin masih belum banyak diketahui. Wakil Presiden era Soeharto (1972–1978) ini suatu ketika mengemudikan mobil sendiri ke Pekalongan. Karena belum tahu medan, dia masuk ke jalan tempat mobil dilarang masuk. Seorang polisi menghentikan dan menilangnya.

Begitu tahu yang dihadapi Sri Sultan, polisi itu gugup dan tampak ragu untuk menilang. Namun, Sri Sultan malah tersenyum dan mempersilakan polisi tetap menilang. Bahkan, polisi bernama Brigadir Royadin itu kemudian diminta bertugas di Yogyakarta. Pangkatnya dinaikkan satu tingkat. Alasannya, Royadin merupakan sosok polisi yang berani dan tegas (hal 29).

Kisah para tokoh dalam buku ibarat jus jeruk yang menyegarkan di tengah hausnya masyarakat akan keteladanan. Korupsi bukanlah warisan sejarah, apalagi budaya bangsa. 

Diresensi Irfan Maulana, alumnus Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment