Indonesia Harus Mampu Mencetak 600.000 Talenta Digital per Tahun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
1 Comment
Transformasi Digital

Indonesia Harus Mampu Mencetak 600.000 Talenta Digital per Tahun

Indonesia Harus Mampu Mencetak 600.000 Talenta Digital per Tahun

Foto : BPMI SETPRES/KRIS
TRANSFORMASI DIGITAL I Presiden Joko Widodo memimpin ratas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, (3/8). Presiden mengingatkan pentingnya pengembangan SDM untuk mendorong transformasi digital di tanah air.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia masih terting­gal jauh dalam transformasi digital. Untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, menurut Kepala Negara, Indonesia setidaknya mem­butuhkan talenta digital sebanyak kurang lebih 9 juta orang untuk 15 ta­hun ke depan.

“Ini perlu betul-betul sebuah per­siapan untuk kurang lebih 600.000 talenta digital per tahun sehingga kita bisa membangun sebuah ekosistem yang baik,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas ‘Peren­canaan Transformasi Digital’ di Ista­na Merdeka , Jakarta, Senin (3/8/)

Mengutip survei lembaga IMD World Digital Competitiveness pada 2019, Indonesia masih berada di pe­ringkat 56 dari 63 negara dalam hal transformasi digital. Presiden Jokowi menyebut posisi Indonesia ini masih jauh lebih rendah, bahkan apabila di­bandingkan dengan beberapa negara tetangga, misalnya Thailand di posisi 40, Malaysia di posisi 26, dan Singa­pura di posisi nomor dua.

Presiden mengingatkan penting­nya pengembangan sumber daya ma­nusia untuk mendorong transformasi digital di tanah air. Untuk itu, Presiden Jokowi berharap Indonesia dapat men­cetak banyak talenta digital tiap tahun.

“Persiapkan kebutuhan SDM talenta digital. Ini penting sekali un­tuk melakukan transformasi digital,” kata Presiden Jokowi.

Kepala Negara berharap pandemi Covid-19 yang saat ini melanda justru harus menjadi momentum agar tran­formasi digital segera dilakukan le­bih gencar lagi. Sebab, sudah terjadi pergeseran perilaku masyarakat yang mengarah pada digitalisasi.

“Karena di masa pandemi mau­pun next pandemic mengubah secara struktural, cara kerja, cara beraktivi­tas, cara berkonsumsi, cara belajar, cara bertransaksi yang sebelumnya offline dengan kontak fisik menjadi lebih banyak ke online dan digital,” ujar dia.

Sindir Menteri

Saat memberikan pengarahan pada rapat terbatas terkait Penanganan Co­vid-19 dan Pemulihan Ekonomi Na­sional (PEN) , Presiden untuk kesekian kalinya menyindir kurangnya aura kri­sis dalam penanganan virus korona di kementerian/lembaga.

“Di kementerian, di lembaga, aura krisisnya betul-betul belum, masih kejebak pada pekerjaan harian. Eng­gak tahu prioritas yang harus dikerja­kan,” ujar Jokowi.

Untuk itu Jokowi meminta Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan PEN agar segera menangani persoalan-persoalan tersebut. “Saya minta pak ketua urusan ini dirinci satu per satu dari menteri-menteri yang terkait se­hingga manajemen krisis kelihatan, lincah, cepat, troubleshooting, smart shortcut, dan hasilnya betul-betul efektif,” katanya.

Pada ratas akhir Juli lalu, Jokowi pun sempat menyinggung agar aura krisis penanganan kesehatan co­vid-19 terus digaungkan sampai vak­sin tersedia. n fdl/P-4

Klik untuk print artikel

View Comments

Hannaa
Selasa 4/8/2020 | 11:57
Game dengan kemenangan tiada batas, Game dengan penghasilan terbesar, Game dengan sensasi yang luar biasa. Kekayaan menanti anda..... Daftarkan diri anda dan bergabunglah hanya di bola165

Submit a Comment