Seni
Minggu, 22 Januari 2012 | 02:40:39 WIB

 
Melacak Jejak Karya Pramoedya
Melacak Jejak Karya Pramoedya
KORAN JAKARTA/FRANS EKODHANTO

Membahas Pramoedya Ananta Toer seolah-olah tak ada habisnya. Kini, giliran profesor asal Korea Selatan yang coba menelusuri jejak karya sastrawan kontrovesial tersebut.

"Sudah saya menulis apa yang ingin saya tulis, sudah saya punya apa yang ingin saya punya." Itulah ucapan Pramoedya pada Februari 2006, dua bulan sebelum dia meninggal dunia, kepada Profesor Koh Young Hun, seorang tenaga pengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Ungkapan yang sederhana itu menunjukkan falsafah dan sikap Pramoedya yang dipegangnya. Dia tidak tamak akan harta dan sastra. Sikap Pramoedya itu berbeda dengan sejumlah sastrawan yang tetap ingin menghasilkan karya sastranya walaupun kualitasnya sudah surut.

Menurut Young Hun, Pram-demikian Pramoedya kerap disapa, adalah novelis yang tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga seorang sastrawan yang mewakili kawasan Asia. Pramoedya memang telah pergi dari sisi kita. Walaupun demikian, dia tetap bersama kita dengan anak rohaninya, karya-karyanya yang monumental.

Hingga saat ini, larangan terhadap novel maupun karya-karya Pramoedya belum resmi dicabut. Kendati demikian, hal itu tidak menghalangi beberapa penerbit untuk tetap menerbitkan kembali karya-karyanya. Buku-buku itulah yang menjadi bahan penelitian Profesor Koh Young Hun yang kemudian menerbitkan karanya Pramoedya Menggugat,

Melacak Jejak Indonesia.

Buku itu menganalisis dan menguraikan dunia Pramoedya melalui karya-karyanya. Kedalaman makna, keunggulan, dan pesan tematik novel Pramoedya, seperti tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai, dikupas dengan penuh pertanggungjawaban. Penulis mengungkap cara pandang Pram terhadap keindonesiaan dengan lugas dan tajam. Dilengkapi sumber data, dokumen, dan teori sastra mutakhir, buku ini menjadi bacaan yang penting bagi pencinta karya-karya Pramoedya.

Saat diskusi pada peluncuran bukunya di Taman Ismail Marzuki, Rabu lalu, Young Hun mengatakan Pramoedya merupakan salah seorang sastrawan yang mencurahkan pemikirannya di bawah bendera humanisme. Hal tersebut tentu tidak datang begitu saja, tapi dipengaruhi berbagai macam faktor kehidupan yang dialami dan dipelajari Pramoedya, seperti penderitaan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hal itu membuat sikap yang dipilih dan dijalankan Pramoedya kerap menemui risiko. Pada masa Orde Lama, misalnya, dia pernah ditahan lantaran menerbitkan buku Hoa Kiau di Indonesia yang dianggap membela golongan peranakan China di Indonesia.

Seperti kita tahu, pada zaman Orde Baru pun Pram pernah diasingkan selama empat belas tahun tanpa proses pengadilan. Di saat-saat pengasingan itulah dia mulai menuangkan ide-ide, keresahan, serta perlawanannya, seperti yang dapat dijumpai ke dalam empat novelnya, yang selanjutnya dijadikan Prof Koh Young Hun sebagai bahan penelitian dalam pembuatan buku ini.

"Dan karena kekecewaan, keresahan, serta perlawanannya lewat tulisan tersebutlah, Pramoedya pernah beberapa kali dinobatkan sebagai calon penerima Hadiah Nobel," ujar Young Hun. Selain dia, pembicara dalam diskusi itu adalah Agus R Sarjono (redaktur majalah Horison). Bertindak sebagai moderator Maman S Mahayana (editor buku dan kritikus sastra).

Menurut Young Hun, novel Tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai dipilih sebagai bahan dasar penelitiannya sebelum akhirnya dijadikan buku dengan pertimbangan keempat novel tersebut merupakan novel sejarah.

"Dari novel sejarah ini Pramoedya mempersoalkan bangsa Indonesia karena sejak awal sebelum dia diasingkan ke Pulau Buru pada tahun 1965, sebenarnya dia mau memperbaiki tafsir sejarah Indonesia."

Menurut Yong Hun, kebanyakan sejarawan di Indonesia berpendapat bahwa awal abad ke-20 merupakan zaman vakum, tapi Pramoedya punya pendapat berbeda. Menurut dia, pada awal abad ke-20, sebenarnya ada pergerakan nasional, yaitu Sarikat Islam (SI) yang didirikan pada 1906.

"Pram berpendapat SI yang menjadi tonggak pergerakan nasional, bukan pergerakan Budi Utomo 1908 sebagai tonggak bermulanya pergerakan nasional sebagaimana diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya," tutur Young Hun.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan negara lain, semisal Jepang, karya Pramoedya kurang diminati di Korea, kecuali di kalangan akademisi.

Terkait kenapa Korea berminat mempelajari sastra Melayu-Indonesia dan peran Pramoedya terhadap sastra di Korea, sebenarnya diprakarsai oleh Hankuk Universityof Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan, tempat Yong Hun mengajar sastra Melayu di Korea. "Jadi pihak kami yang mempromosikan sastra atau budaya Indonesia di Korea."

Menurut Young Hun, kerja sama Indonesia dan Korea tidak cukup dalam bidang ekonomi saja, tapi harus saling mengenal latar belakang budaya masing-masing negara. Itu sebabnya, dia tertarik mengenalkan budaya Indonesia di Korea. Tentang dipilihnya Pramoedya sebagai bahan kajiannya, Young Hun mengatakan, karya Pramoedya memiliki kelebihan dibanding sastrawan lainnya. "Buktinya karya dia paling banyak dicetak ulang." frans ekodhanto

Ada 0 Komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar Anda
Silahkan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar :

Disclaimer : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Untuk pengutipan berita wajib mencantumkan link portal Koran Jakarta. Semua berita dan foto dilindungi oleh hak cipta dan tidak diperkenankan untuk menyalahgunakannya tanpa seizin pengelola situs.